
Cyrano tiba di ujung tangga dan menatap ke sekitar dengan takjub.
“Tempat ini pas sekali untuk bermain detektif dan penyekapan.” anak lelaki itu justru takjub dengan tempat itu sembari menatap beberapa tiang di sana yang pas untuk menawan seseorang.
“Seandainya saja tuan muda tahu jika kedua orang tua mereka dulu pernah disekap di sini pasti ia akan membenci tuan Austin.” batin Paul sembari tersenyum kecil dan mengingat kembali kejadian beberapa tahun yang lalu disana.
“Cyrille kapan-kapan kita main di sini pasti seru.” seloroh Cyrano tersenyum nakal sembari membayangkan mengikat saudari kembarnya itu di salah satu tiang yang ada di sana dan ia bisa melakukan aksi cowboy untuk membalas kenakalan Cyrille selama ini.
“Jangan pernah berpikir untuk mengerjaiku di sini.” seolah gadis kecil itu bisa membaca pikiran saudara kembarnya dengan melihat senyuman Cyrano.
“Tidak, siapa bilang.”
Mereka berempat kemudian tiba di luar. Di sana sudah ada mobil yang menunggu mereka.
“Jadi rumah pappy masih jauh ?” tanya Cyrille terlihat kecewa saat datang sebuah mobil hitam menghampiri mereka.
“Tidak nona.” jawab Paul segera berjalan menuju ke mobil dan membukakan pintu untuk mereka berdua.
Mobil segera melaju setelah si kembar masuk. Mereka kembali melewati hutan lebat.
“Oh... kapan kita sampai oncle ?” Tanya Cyrille yang ketiga kalinya setelah sepuluh menit mereka belum sampai juga.
“Ternyata nona tak sabar ingin segera sampai.” driver menanggapi nona mudanya dengan tersenyum kecil yang salah mengartikan maksudnya, padahal gadis kecil itu sedari tadi menekuk wajahnya.
Lima menit kemudian mobil berhenti di depan sebuah rumah mewah besar yang ada di tengah hutan. Tanpa ada satu pun tetangga atau toko di sana.
“Bahkan di sini sama sekali tak ada toko kecil.” Cyrille kembali mengeluh karena merasa liburan nya kali ini pasti akan sangat membosankan sekali. “Bagaimana bisa pappy membangun rumah di tempat seperti ini dan tinggal di sini ?”
Cyrille berjalan masuk dengan malas mengikuti saudara kembarnya yang tampak antusias dan berlari masuk ke rumah, entah kenapa Cyrano tampak senang.
“kring...” suara ponsel Paul yang berdering dan belum sampai dering ketiga pria itu sudah mengangkatnya. “Halo tuan Austin.” ucapnya mengangkat telepon setelah mengetahui siapa yang menelepon dirinya.
“Apakah kalian sudah sampai ?” Austin menyempatkan waktunya di tengah meeting yang padat untuk mengetahui kabar kedua cucunya.
“Sudah tuan, tuan muda dan nona muda barusan masuk ke rumah.
“Apa mereka senang di sana ?”
“Tuan muda Cyrano senang sekali waktu sampai di sini tapi nona muda nampaknya ingin pergi ke pusat kota.” jelas Paul mengatakan yang sebenarnya.
“Ya biarkan saja dulu Cyrille. Nanti sore atau besok baru ajak mereka berkeliling ke kota.” Austin tersenyum lebar mengetahui kondisi Cyrille dan ia bisa membayangkan wajah cucunya yang saat ini pasti cemberut.
Ia kemudian mematikan ponselnya dan duduk kembali di samping Alexa.
“Apa ayah menelepon Paul ?” tanya Alexa penasaran dan Austin hanya mengangguk kecil menanggapinya.
“Bagaimana kabar mereka ?”
“Ya, kau pasti sudah bisa menebaknya putri kecil mu kecewa.” jawabnya lirih karena meeting akan di mulai beberapa saat lagi.
Saat Alexa akan kembali bertanya pada ayahnya terpaksa ia harus membatalkannya karena meeting sudah dimulai.