
Di perjalanan pulang ke rumah di dalam mobil Kevin terlihat Fredy penasaran dengan acara diner tadi.
“Bagaimana dengan putrinya Austin, apa kau menyukai dia ?” tanya Fredy penasaran setelah melihat kondisi pakaian Kevin yang kotor.
“Bagiku Alexa menarik, hanya saja si kembar tipikal aktif.” Kevin berkata terus terang pada ayahnya. “Tapi sepertinya hal itu bisa diatasi.” sambung nya lagi tak mempermasalahkan hal itu sama sekali.
“Aku tidak memaksa kau harus menyukai putri dari teman ayah itu. Jika kau keberatan karena statusnya yang sudah punya anak maka kau bisa gadis yang masih single.”
“Ya, aku akan pikirkan itu lagi nanti ayah jika hubunganku dengan Alexa gagal.”
Fredy pun tak lagi memaksa dan memilih untuk diam selama perjalanan ke rumah mereka.
Pagi harinya Cyrano masih tidur pulas di atas kasur lipat tak terpakai yang ditemukannya dalam gudang. Sedangkan Cyrille tak bisa tidur sama sekali.
“Oh malangnya aku...” ia menggaruk tangan dan kakinya yang gatal juga bentol-bentol bekas digigit nyamuk semalaman. “Bagaimana dia bisa tidur sepuas itu ?” menatap iri ke arah Cyrano yang belum bangun juga.
“klak.” tiba-tiba seseorang membuka pintu dan langsung saja Cyrano bangun.
“Sudah saatnya kalian masuk sekolah. Bersihkan diri kalian segera.” ucap Austin sambil melihat kedua cucu kesayangannya itu dan menahan senyum saat melihat Cyrille yang matanya berkantung dan seluruh tubuhnya bentol-bentol.
“Hiks... pappy lihat tubuh ku merah semua dan gatal.” Cyrille langsung menangis kencang di depan kakeknya sambil bergelayut di kakinya dan membuat Austin tak tega melihat cucunya itu meskipun itu hanyalah air mata palsu.
“Makanya jangan suka bikin ulah.” Austin menggendong Cyrille lalu pergi dari sana. “Aku janji pappy akan bersikap manis.”
“Oh... mudah sekali membodohi pappy hanya dengan air mata murahan seperti itu.” Cyrano hanya bisa menatap saja saudari kembarnya yang kini menjulurkan lidah, menyindir dirinya.
“Aku tak peduli pappy lebih mengasihimu karena air matamu.” Cyrano kemudian berlari keluar dari ruangan dan masuk ke kamar mandi.
Di Paris
Sean kita lihat sudah rapi setelah keluar dari kamar mandi dan bersiap untuk berangkat ke kantor.
Pria itu pun kemudian segera keluar rumah dan masuk ke mobilnya karena ia berjanji akan bertemu di cafe 30 menit dari waktu sekarang.
“Aku cara cepat karena mungkin akan terlambat.” Sean mempercepat laju mobilnya supaya tiba di sana tepat waktu.
Benar saja di saat Sean tiba terlihat Angel yang duduk di cafe dan sudah mengambilkan separuh susu karamel.
“Maaf membuatmu lama menunggu ku.” Sean berjalan dengan cepat dan masuk ke cafe menghampiri Angel.
“Tuan Sean...” Angel menoleh ke samping mendengar suara Sean. “Aku baru duduk lima menit saja dan memesan minuman.”
Sean hanya menanggapinya dengan mengangguk saja.
“Baiklah tuan Sean hari masih pagi. Kau ingin duduk dulu untuk minum atau langsung saja ?”
“Sebaiknya kita langsung saja nona.” jawab Sean singkat karena nah ini ia akan kembali ke kantor dan di sana banyak pekerjaan yang menunggunya.
“Baiklah jika begitu.”
Angel kemudian berdiri dari tempat duduknya dan masuk ke mobilnya. Sean mengikuti Angel masuk ke mobil dan segera mengemudikan mobilnya begitu mobil gadis itu meluncur.
“Ini dia makam ayahku.” Angel segera masuk ke pemakaman Begitu tiba di sana dan menunjukkan makam ayahnya.
“Tuan White aku datang.” Sean membaca nama yang tertulis di batu nisan. “Maaf aku baru kemari dan mengunjungi setelah lama. Terimakasih sudah memberikan matamu padaku.” ucapnya panjang lebar kemudian menaruh sebuket bunga di depan nisan.
“Ayah jika kau masih hidup mungkin kau akan senang sekali berjumpa dengan tuan Sean dan mungkin kau tak perlu mengajukan persyaratan itu padanya.”
Sean mengerutkan keningnya pada apa yang barusan diucapkan oleh Angel. Ia tidak tahu apa yang dimaksud dengan persyaratan yang diucapkan oleh gadis itu.