
Sean mengingat Angel. Dia adalah wanita yang pernah ditemuinya di rumah sakit dan terlihat sangat sedih sekali atas meminggaknya ayahnya.
“Aku turut berduka cita atas meninggalnya ayahmu, nona.” Sean merasa perlu mengucapkan bela sungkawa pada wanita yang ia tidak diketahui namanya itu.
“Terimakasih tuan Sean.”
“Dimana tempat duduk nona Angel ? Tadi dia duduk di sini ?” seorang pramusaji mengantarkan pesanan Angel ke mejanya yang saat ini kosong. “Ternyata ia pindah ke sana.”
Pramusaji itu kemudian berjalan menuju ke meja Sean berada.
“Nona Angel ini pesanan anda. Aku cepat bingung mencarimu tadi.” pramusaji menaruh pesanan Angel ke meja.
“Maaf Sully, aku belum sempat memberitahu mu jika pindah kursi dan pesanan ku sudah selesai.” timpal Angel menatap pria tadi dengan merasa bersalah.
Ya, Angel sering mampir ke cafe ini jadi semua pramusaji di sana termasuk Sully hafal dengannya juga dengan pesanannya.
“Terimakasih.” ucap Angel pada pramusaji tadi sebelum pria itu pergi.
“Jadi namanya Angel.” batin Sean yang baru mengetahui siapa nama wanita manis yang sedang duduk di depannya. Menurutnya wanita itu berusia setahun atau dua tahun lebih tua dari usianya yang terlihat dari garis di sekitar matanya.
“Oh tuan Sean, pesanan mu belum datang ?” Angel menaruh kembali gelas yang dipegangnya ke meja saat melihat Sean yang masih menunggu pesanan datang.
“Tak apa nona, silahkan menikmati tak perlu sungkan padaku.”
Angel kemudian meminum susu caramel panas pesananannya. Dalam hati secara tak sadar Ia pun memberi penilaian pada pria yang duduk di depannya.
“Ternyata dia pria yang cukup pengertian.” Angel mengamati Sean yang sedang mengeluarkan ponsel dan entah apa yang pria itu lihat.
“Terimakasih.” ucap Sean pada pramusaji tadi saat berbalik kembali.
“Tuan Sean bagaimana setelah menjalani operasi cangkok mata waktu itu ?” Angel bertanya dan tak ada sedikit maksud pun untuk menyinggungnya dan sekedar menanyakan keadaan Sean saat ini saja.
Deg
Sean terkejut bagaimana bisa wanita asing mengetahui seperti Angel mengetahui jika dirinya melakukan operasi cangkok mata, di saat ibunya tengah merasakan hal itu dari semua orang.
“Setelah melakukan operasi aku mengalami beberapa masalah dan kesulitan. Tapi untungnya saat ini semua masalah itu sudah teratasi.” timpal Sean menjelaskan dan menatap wanita itu dengan penasaran.
“Syukurlah jika itu cocok dan tak ada masalah dengan penglihatan mu, tuan Sean. Mungkin ayah ku akan senang melihat mu sekarang jika mengetahui irisnya cocok dengan mu.” Angel tersenyum tipis sambil menikmati kembali susu karamel nya.
“uhuk.” Sean tersedak mendengar apa yang barusan diucapkan oleh Angel. Betapa tidak, selama ini ibunya selalu merahasiakan padanya siapa pendonor matanya sebenarnya dan kini ia mendapatkan jawabannya yang meluncur dari bibir tipis Angel.
“ehem...” Sean kembali terbatuk sambil menaruh gelasnya kembali ke meja.
“Terimakasih nona Angel. Aku sangat berterima kasih sekali pada ayahmu karena sudah memberikan matanya padaku. Jika boleh aku ingin mengunjungi makamnya.” hanya itu yang bisa pria itu lakukan sebagai rasa terima kasihnya karena sudah membantunya mengembalikan penglihatannya.
“Ya tentu saja tuan Sean. Makam ayah ku berada tak jauh dari sini. Beberapa hari lagi aku akan ke sana jika kau mau berangkat bersama denganku.”
“Ya, nona sebutkan pada ku kapan kau akan kesana. Aku akan menunggumu di sini.”
Terlihat Sean dan Angel melakukan percakapan singkat hingga minuman yang mereka pesan habis dan mereka berdua pun keluar dari Cafe tersebut.