
“Aku harus mencari akta pernikahanku dan segera mendaftarkannya.” gumam Sean sambil mengepalkan tangan lalu semoga kalian pada dinding di kamarnya.
Paginya Sean meminta seluruh pelayannya ada di rumah untuk mencari keberadaan atau pernikahannya setelah ibunya keluar lebih dulu dari rumah.
“Bagaimana, apa kalian menemukan sesuatu ?” tanya Sean setelah memberikan waktu pencarian untuk pelayan di sana selama satu jam lamanya.
“Maaf, kami belum menemukannya tuan.” ucap salah seorang pelayan setelah menyisir semua tempat yang ada di rumah.
Sean sudah menduga hal itu, tidak mungkin ibunya akan menaruhnya di tempat yang mudah ditemukan.
“Baiklah, kalian boleh kembali bekerja.” Sean kemudian masuk ke mobilnya menuju ke kantor dengan perasaan tak menentu dan pikiran yang bercampur aduk.
Sesampainya di kantor, Sean sudah di sambut oleh Judas yang menunggu di depan ruangannya.
“Tuan, ini berkas sebagai bahan untuk nanti bertemu dengan Mr.Cold.” ia menyerahkan berkas penting pada Sean yang langsung diterimanya.
“Aku pelajari dulu sebentar.” Sean membawanya masuk ke ruangan sembari duduk.
“Tuan, 57 menit lagi ada pertemuan dengan Mr. Cold.” Judas mengingatkan kembali jadwal meeting nya sebelum pergi yang hanya di angguki oleh Sean.
Lima puluh menit berikutnya ada seseorang mengetuk pintu ruangannya.
“Ya, Judas masuklah aku sudah bersiap untuk meeting.” jawab Sean sambil menatap ke arah pintu.
“Tuan Sean.” suara seorang wanita terdengar setelah pintu terbuka.
Sean seketika menoleh mendengar suara yang familiar baginya. “Angel ?” ucapnya terkejut bukan sekretarisnya yang datang melainkan wanita itu.
Ia juga mengurutkan keningnya Kenapa wanita itu tiba-tiba datang menemuinya.
“Nona Angel apakah ada jadwal meeting di sini ?” tanya Sean penasaran. Seingatnya selama ini perusahaannya tak pernah menjalin kerjasama dengan Visa grup. “Silakan duduk, nona.”
“Tak perlu tuan Sean karena 7 menit lagi aku harus menemani Mr. Cold untuk meeting denganmu dan aku hanya mampir sebentar di sini.”
“Dia adalah rekan bisnis ku dan Mr. Cold kali ini memintaku untuk menemaninya saja.” jawab Angel tersenyum tipis.
“Oh...”hanya itu yang bisa diucapkan oleh Sean sebagai tanda keterkejutannya.
“Ayo tuan Sean, apa kau akan tetap duduk di sana saja ?”
Sean kemudian berdiri dan keluar dari ruangannya menuju ke samping Angel.
“Mungkin Mr. Cold sudah menunggu di ruang meeting.” ucap Angel yang kemudian mengajak Sean berjalan sembari memegang lengannya.
Entah kenapa pria itu kali ini hanya diam dan melihat saja lengannya di pegang oleh Angel, mengikutinya berjalan menuju ke ruang meeting.
“Selamat pagi Mr. Cold.” sapa Sean pada pria berkebangsaan Mexico itu sembari duduk.
“Pagi tuan Sean.” balas Mr. Cold tersenyum padanya juga tersenyum ke arah Angel yang kini duduk di sampingnya.
lima menit setelahnya meeting dimulai. Terlihat Angel ikut berperan serta membantu Sean mencapai kesepakatan dengan Mr. Cold.
“Baiklah tuan Sean, kurasa pertemuan kita cukup sampai di sini dulu. Semoga kerjasama kita bisa berlangsung dengan sukses.” ucap Mr. Cold setelah meeting selesai sekaligus berpamitan pada pria tersebut.
“Senang bekerja sama dengan anda, Mr. Cold.” balas Sean menjabat tangan pria itu sebelum mengantarnya keluar ruangan meeting.
Angel minta waktu sebentar pada Mr. Cold untuk bicara sebentar dengan Sean yang berada di ruangan kerja.
“Nona Angel terimkasih sudah membantuku kali ini.” ucap Sean sembari tersenyum kecil menatapnya.
“Aku hanya mengarahkannya saja, tuan Sean tak perlu sungkan.” timpal Angel. “Oh ya, mulai sekarang panggil aku Angel saja biar kita lebih akrab.” pintanya.
“Baik, tentu saja. Jika begitu maka kau juga bisa memanggilku dengan Sean saja.” bukan maksud Sean dekat dengan wanita tersebut tapi ia hanya melakukan hal yang sama dilakukan oleh Angel padanya, sekedar untuk menghargainya. Tak ada masalahnya bukan.
Angel tersenyum kecil sembari keluar dari ruangan Sean dan berjalan cepat menuju ke luar karena Mr. Cold masih menunggunya.