
Cyrano duduk di samping saudara kembarnya setelah menutup pintu begitu mendengar kata daddy, agar tak ada malaikat yang mendengar percakapan mereka di sana.
“Benarkah ? Jadi kau sudah bertemu dengan daddy ? Bagaimana orangnya ? Apakah dia baik ?” tanya Cyrano secara beruntun dan terlihat antusias sekali.
“Wait... satu-satu tanyanya biar aku tidak bingung menjawabnya.”
“Ceritakan pada ku, cepat.”
“Daddy tampan sekali dia memang pantas bersanding dengan mommy. Dia juga lembut dan perhatian. Tadi saja yang mengantar aku kembali ke jembatan adalah dia. Oh daddy my love...” cerita Cyrille panjang kali lebar yang membuat saudara kembarnya ternganga mendengarnya.
Ya, Cyrano ingin sekali melihat dan bertemu dengan daddy nya meski pria tersebut tidak mengenalinya saat bertemu nanti. Dan dadanya sedikit sesak mendengar pengakuan dari saudari kembarnya yang sudah bertemu dengan daddy nya terlebih dulu.
“Tak...” gelang di tangan Cyrille terjatuh saat Cyrano ingin melihatnya namun saudari kembarnya itu tak mengizinkannya.
“Yah, semoga saja gelang itu tidak rusak.”
Cyrano kemudian mengambilnya dari lantai. “Apa ini ?”
Karena jatuh cukup keras liontin pada gelang tersebut terbuka dan terlihat sepasang foto di sana.
“Astaga ini benar fotonya mommy dan juga daddy.” Cyrille merebut gelang itu dari tangan saudara kembarnya untuk melihatnya.
Sejenak mereka berdua bergantian melihat foto kedua orang tua mereka. Tak lama setelahnya mereka memikirkan cara untuk mengembalikan gelang tersebut pada daddy mereka.
🌻
🌻
Di jalanan menuju ke kantornya Sean masih juga teringat pada sosok gadis yang barusan diantaranya.
“Cyrille siapakah dia ? Kenapa dia begitu mirip sekali dengan Alexa ?” hal itu kembali mengusik pikiran Sean.
“Jika saja aku dan Alexa tidak terpisah mungkin saat ini kami mempunyai anak yang lucu seusianya.” pria itu menghembuskan nafas kasar meratapi nasibnya tak seperti yang ia harapkan.
“Semoga saja aku bisa berjumpa lagi dengan gadis kecil tadi dan juga orang tuanya.”
Baru saja pria itu masuk dan duduk di kursinya matanya tertuju pada satu hal. “Astaga gelang ku tidak ada !”
Ia baru menyadari tendangan tersebut ada di tangannya.
“Oh... semoga saja itu tidak hilang.” Sean menekuk mukanya sambil memijat kepalanya.
Tak mau kehilangan benda kesayangannya tersebut ia pun meminta Judas untuk mencarinya di mobil barangkali saja terjatuh di sana.
“Tuan Sean aku tidak menemukan gelang anda di mobil.” ucap Judas melaporkan pada tuannya beberapa menit kemudian.
“Oh...” pria itu kemudian terlihat semakin gelisah. “Jika begitu kau cari dengan itu di jalanan Restoran Pilon Délicieux juga Ponts Des Arts.” kembali memberikan perintah pada sekretarisnya yang langsung bergerak dengan cepat.
50 menit kemudian Judas kembali masuk ke ruangan Sean.
“Bagaimana apakah kamu menemukannya ?” tanya Sean dengan tak sabar.
“Maaf tuan, aku sudah mencarinya 3 kali memutari jalan yang sama dan tidak menemukan gelang milik anda.”
“Oh sial !” Sean mengumpat kesal. “Bagaimana aku bisa kehilangan benda itu ?” terlihat sangat sedih sekali karena itu satu-satunya benda yang ada kenangan ya bersama wanita yang dia cintai.
“Tuan aku akan mencarinya lagi nanti sepulang kerja.” Judas yang benar tidak tahan melihat raut kesedihan di muka tuannya itu dan segera kembali ke ruangannya setelah mendapatkan izin.
“Semoga saja gelangku tidak hilang dan ada seseorang yang menemukannya juga berbaik hati mengembalikannya padaku.”
Sean kembali menekuk wajahnya sambil menyandarkan bahunya ke kursi yang terasa berat terlihat sangat terpukul sekali kehilangan benda kesayangannya karena keteledorannya sendiri.
Sementara itu tanpa di harapkan ponsel Sean berdering.
“Angel ?” gumam Sean melirik ponselnya sembari membaca siapa yang meneleponnya.
🌻Dear readers semua Jangan lupa bantu penulis dengan meninggalkan jejak setelah selesai membaca ya 😇