
Sean menumpahkan semua kerinduannya pada Alexa. Ia benar-benar sangat merindukan wanitanya.
“Kenapa kau makin kurus ?” Sean melihat pipi tirus Alexa yang biasanya tidak setirus ini. “Apa pria itu tak membuat mu bahagia ?” kembali teringat pada sosok pria yang selalu ada di dekat Alexa. Ia tak tahu siapa pria itu, suaminya kah atau sekedar teman kencan. Tapi yang pasti itu membuatnya marah.
“Kau tetaplah milik ku !” Sean mencoba menyentuh bibir merah Alexa dengan jemarinya namun ia tak kuasa menginginkan lebih hingga mencium bibir merahnya.
Sean berbaring di samping Alexa selama lebih dari satu jam. Pria itu memeluk Alexa dengan erat.
30 menit kemudian ia beranjak dari tempat tidur karena tahu sebentar lagi Alexa akan membuka matanya.
“Hiss...” benar saja Alexa membuka mata lalu duduk saat menyadari dirinya berada di tempat yang asing. “Dimana ini ?” menatap ke sekitar dan mengingat sikap sebelumnya ia berada di toilet sebuah restoran. “Bagaimana aku bisa ada di sini ?”
Belumlah ia mengetahui di mana saat ini ia berada, ia mencium sesuatu. “Aroma ini... seperti aroma parfum Sean.” ia mencium bau parfum Sean yang sangat dihafalnya. Bahkan ia mempunyai beberapa di rumah dan memakainya jika sangat merindukan pria itu.
“Sean...” panggilnya sembari mencari sosoknya. “Kau...” tatapan Alexa berhenti pada seorang pria yang berdiri di dekat pintu. “Kita bertemu di toilet.” Ia berhasil mengingatnya dengan jelas pria di hadapannya saat inilah yang memberikan pennya yang jatuh.
Namun Alexa menjadi curiga padanya. “Siapa kau sebenarnya ? Dan apa mau mu ?” ia berdiri sambil waspada karena mengira pria itu mempunyai maksud buruk padanya.
“Nona kau tak sadarkan diri. Aku tidak bermaksud jahat padamu. Aku tidak tahu harus mengantarmu pulang ke mana jadi aku membawamu kemari.” jawab Sean dengan ada suara aslinya yang tidak Ia buat-buat seperti sebelumnya saat bertemu di toilet untuk menyamarkan dirinya.
“Su-suara itu... kenapa suaramu sangat mirip sekali dengan seseorang ?” Alexa menatap tajam pria yang ada di hadapannya yang kini mulai mendekatinya.
“Nona suara siapa yang kau maksud ?”
“Singkirkan tangan mu dari ku !” Alexa masa pria yang tak dikenalnya itu bertindak di luar batas sehingga membuatnya tak segan-segan untuk memberinya pelajaran.
“bugh !” Meskipun lama tidak menggunakannya Alexa mengepalkan tangannya kemudian melahirkan ke arah dada pria di hadapannya, tentu saja itu dengan mudah bisa ditahan oleh Sean.
“Alexa...” Sean memegang satu tangan Alexa lagi yang hendak memukulnya lalu mengunci nya.
“Kau tahu nama ku ?” Alexa semakin penasaran pada pria di hadapannya itu. Tak mau boleh tak dikenalnya itu melakukan sesuatu yang tak diinginkannya maka ia pun mengangkat kakinya untuk menendang area sensitif pria tersebut.
“Alexa !” Sean berhasil menghindari tendangan Alexa dengan mudah. sebelum suasana semakin bertambah rumit akan salah paham maka ia pun menarik kumis tebal yang di pakainya juga kontak lens yang dipakainya.
“Sean.... ??!” Alexa benar-benar terkejut dan sama sekali tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Pria eh selama bertahun-tahun lebih ia cari kemana-mana dan tak menemukannya kini muncul di hadapannya. “Sean kaukah itu ?”
Sean melepas kedua tangan Alexa dan beralih memeluknya.
“Alexa... Aku sangat... sangat merindukanmu sekali.”
Alexa masih sok saja dan tak percaya dengan hal ini seperti mimpi baginya. Dalam perasaan yang campur aduk, ia pun balas memeluk Sean pria yang masih dicintainya dalam lubuk hatinya terdalam.