
Cyrille memeluk papy dan mencium pipinya berulang kali.
“Muah... papy memang is the best.” Cyrille kembali mencium Austin.
“Sudah hentikan sayang, wajah papy basah.” Austin mengusap pipinya yang basah bekas dicium oleh cucu perempuan nya itu. “Kau masih kecil pintar merayu, seperti siapa ? Ibu tidak seperti dirimu. Ku rasa kau mewarisi sikap nenek mu, Helena.
“Benarkah papy, apakah nenek juga cantik seperti diriku ?” memeluk leher Austin dengan tersenyum lebar sambil mengacungkan jempolnya untuk saudara kembarnya.
“Ya tentu saja nenekmu adalah wanita tercantik yang pernah ada dunia, kecantikannya seperti Dewi Venus.” Austin berdiri masih menggendong gadis kecil itu dan membawanya masuk ke dalam. Ia suka lupa diri jika membahas tentang Helena.
“Ayah... kenapa dia memberi izin kepada mereka berdua ? Apa dia tidak khawatir jika seseorang menemukan mereka nanti.”batin Alexa menatap punggung Austin dengan cemas.
Selama ini wanita itu mengubur kecemasannya sendiri. Cemas yang berlebihan untuk melindungi buah hatinya yang menurutnya merupakan pemberian berharga dari Sean. Ia cemas jika saja si kembar bertemu dengan keluarga Sean. Dan ia tidak tahu apa yang akan dilakukan mereka pada buah hatinya. Tak ada yang baik menurutnya. Jika tidak mengambil si kembar dari tangannya, maka sudah pasti orang tua Sean akan melenyapkan mereka berdua.
“Mommy kenapa ?”tanya Cyrano masih memegang tangan Alexa yang gemetar dan ia pun semakin yakin ada sesuatu yang ia tak tahu di Paris.
“Tidak ada, sayang. Ayo belajar, mommy temani. Hari ini kau ada tugas sains kan ?” Alexa berbalik menatap lelaki kecilnya dan berdiri kemudian masuk ke dalam sambil menggendongnya.
“Mission complete... akhirnya kami berhasil membujuk mommy dan papy.” Cyrano menatap Cyrille dalam gendongan kakeknya dan tersenyum kecil padanya.
“Sean kurasa kau sudah waktunya ke kantor dan bisa kembali bekerja.” Marion berjalan masuk ke kamar Sean. “Oh... dia tidur rupanya.” duduk di tepi tempat tidur. “Ada apa dengannya ?” terkejut melihat kamar Sean yang berantakan.
Tentu saja wanita itu terkejut, betapa tidak. Dia menempatkan banyak pelayan di sana dan terutama untuk Sean ada enam pelayan yang tempatkan di sana untuk mengurusi segala keperluan anak lelakinya itu. Jadi tidak mungkin kamarnya bisa sampai berantakan seperti ini. Beberapa buku berserakan di dekat ranjang Sean. Di meja masih ada laptop yang menyala dengan baterai yang hampir habis, juga ada lima cangkir kopi hitam pekat tawar di sana.
“Sean... bangun.”Marion menepuk pelan bahu Sean.
“Ibu...”Sean membuka mata dan Melihat adik ibunya di dekatnya dan Ia pun segera duduk. “Ada apa ibu ?”jawabnya sambil mengerjakan matanya karena masih terasa berat sekali untuk dibuka.
“Kau tidak ingin ke kantor hari ini ? Ibu rasa kesehatan mata mu benar-benar sudah pulih dan kau bisa kembali bekerja sekarang.”
“Oh benarkah aku sudah boleh bekerja kembali ?”jawabnya sambil tersenyum tipis. “Jika begitu aku bersiap dulu sekarang. Mungkin agak siang baru aku berangkat ke kantor, ibu.” berdiri mengambil satu per satu buku yang ada di lantai dan menumpuknya di meja.
“Sean... kenapa mata mu sedikit berkantung ?”Victoria melihat garis lingkar hitam tipis di kedua mata anak lelakinya itu.
“Ini... aku hanya kurang tidur saja ibu. Ada sesuatu yang harus ku kerjakan.”jawabnya singkat.