Where's My Daddy?

Where's My Daddy?
Eps. 81 Mencari Marion



Alexa tiba di airport. Ia segera bergegas kebagian pesawat dengan tujuan Paris setelah memarkirkan mobilnya sambil setengah berlari.


“Jika aku tidak salah maka dua menit lagi pesawat itu akan take off.” gumam Alexa sembari menatap jam yang melingkar di tangan kirinya.


“haah...” Alexa tiba di bagian pesawat dengan destinasi Paris. Ia mengatur nafasnya sejenak sebelum kembali memeriksa beberapa pesawat yang ada di sana.


Baru saja ia akan melangkah lagi, dua pesawat yang ada di sana mengudara. “Ternyata aku masih terlambat juga.” Alexa membatalkan langkahnya sembari melihat dua pesawat yang ada di atasnya dan tersisa dua pesawat lagi di sana.


“Apa aku perlu memeriksa dua pesawat itu ? Mungkin Sean ada di sana.” gumam Alexa sudah berjalan beberapa langkah namun tiba-tiba ia berhenti karena ragu dan bisa saja Sean berada di salah satu pesawat yang sudah tinggal landas tadi.


Pada akhirnya Alexa memutuskan untuk berada di sana sebentar sembari mengatur ritme nafasnya.


“Kenapa aku berada disini ? Kenapa aku masih mengejar mu ?” ucapnya lagi baru tersadar dan tanpa itu sadar ia menitikkan air mata. “Sean... sampai jumpa.”


Dari salah satu pesawat yang masih ada di airport terlihat Sean yang merasa malas dan pikiran yang bercampur aduk. Tanpa sengaja ia pun melihat ke arah luar jendela, menyisir bandara.


“Itu...” pandangan mata pria itu terhenti pada sebuah sosok yang sangat ia kenali. “Alexa ? Kau menyusulku kembali ?” antara setengah percaya dan tidak yakin Sean menatap intens sosok tersebut. “Alexa...”


Ia melihat wanita itu terbalik berjalan dengan pelan keluar dari airport. “Alexa, tunggu.”


Sean memutuskan untuk turun sebentar sebelum pesawat take off, namun pramugari melarangnya, “Tuan satu menit lagi pesawat akan tinggal landas jadi kami mohon untuk kembali ke tempat duduk anda.”


Dengan berat hati, Sean pun kembali duduk dan hatinya terasa bertambah semakin sesak hanya bisa melihat punggung Alexa berlalu dari sana satu menit berikutnya tepat saat pesawat mulai mengudara.


“Alexa...” Sean mengepalkan tangannya dengan mata yang berkaca-kaca.


Dua jam berikutnya pria itu tiba di Paris. Selama di perjalanan ia sama sekali tak bisa tenang apalagi tidur. Pikirannya ingat pada perkataan Alexa tentang akta pernikahannya.


“Michael !” panggil Sean begitu tiba di rumah, memanggil body guard yang dulu pernah ia tugaskan untuk mengurus dan mendaftarkan akta pernikahannya. “Michael !” ulangnya dengan nada yang semakin tinggi.


“Duduk.” perintah Sean yang membuat bawahannya tadi segera duduk tanpa bertanya.


“Michael, lima tahun yang lalu aku menyerahkan tugas mendaftarkan akta pernikahanku padamu. Apa kau sudah menjalankan tugasku dengan baik ?” Sean masih belum bisa menurunkan tensi amarahnya. “Jawab !”


Michael hanya diam tak berani menjawab juga tengah mempersiapkan jawabannya.


“Kenapa kau tidak mendaftarkan akta pernikahan ku ?” ulang Sean masih dengan nada tinggi.


“Ma-maaf tuan. Saat itu aku akan mendaftarkan atau pernikahan tuan tapi--”


“Tapi apa ?” potong Sean dengan cepat karena tak sabar. “Jelaskan padaku !”


Michael kembali menunduk dan tak berani berucap. Ia takut jika memberitahukan yang sebenarnya, nyonya Marion akan melakukan sesuatu padanya.


“Michael !” bentak Sean lagi di ujung batas kesabarannya.


Michael yang merasa terjebak diantara dua orang yang bertipikal sama bingung harus jawab apa karena pilihan yang akan diambilnya tak akan ada yang baik.


“Nyo-nyonya Marion yang membawa akta pernikahan tuan.” ucap Michael pada akhirnya mengaku setelah Sean mengancamnya.


“Apa ?” hanya itu kata yang bisa meluncur dari bibir Sean. Sungguh ia sama sekali tak menyangka jika ibunyalah yang menahan akta pernikahannya.


“Tuan tolong jangan hukum aku.” ucap Michael memohon dengan ketakutan.


“Ya, sesuai janjiku jika kau mengaku, maka aku tak akan menghukum mu. Sekarang pergilah.”


Kini Sean terlihat semakin murka dan berjalan menuju ke kamar ibunya untuk meminta penjelasan padanya.