
Angel duduk berhadapan dengan Sean. Gadis itu kembali menatap pria yang duduk di depannya dengan intens.
“Sean bukankah kita sudah terikat oleh janji kedua orang tua kita ?” tanya Angel sebenarnya menyentuh tangan Sean yang ada di meja.
“Apa maksud mu, Angel ?” Sean menarik tangannya dan pura-pura sibuk mengambil segelas soda kemudian meminumnya sedikit meskipun sebenarnya ia tidak haus dan hanya sebagai pengalihan saja karena tak suka Angel menyentuhnya.
“Kesepakatan orang tua kita dulu sebelum kau mendapatkan donor mata.” Angel memperjelas lagi dan memberikan tekanan pada kata donor mata.
Sean menelan salivanya dengan susah payah atas tuntutan Angel padanya.
“Angel... sebenarnya kesepakatan itu tidaklah kuat karena apa ? Karena kedua orang tua kita melakukannya sepihak tanpa mendiskusikannya dengan kita.” papar Sean panjang lebar menyangkal tuntutan itu.
“Tapi Sean bukannya kesepakatan antara kedua orang tua itu sudah cukup kuat ?” Angel bersikeras pada pendapatnya karena ia sudah tertarik pada pria itu dan tak ingin hubungan mereka berakhir di tengah jalan.
Sean diam dan berpikir bagaimana cara mematahkan sekaligus membuat Angel menyerah untuk mengejarnya hingga terlintas sebuah ide begitu saja dalam pikirannya.
“Angel aku ingin berterus terang padamu agar kamu tidak sakit hati. Kenapa aku tak ingin melanjutkan hubungan kita ? Karena aku sudah mempunyai istri.”
Deg
Angel benar-benar terkejut dan tak percaya pada apa yang diucapkan oleh pria tersebut. “Tidak mungkin kau sudah menikah. Status mu di manapun adalah single.” kilah Angel karena ia mengetahui bagaimana status Sean yang di sebutkan di semua media jika pria itu masihlah lajang.
Untuk memperkuat perkataannya, Sean melepas gelang yang dipakainya kemudian membuka liontin nya. “Lihat ini... ini foto istriku dan foto ku.”
Angel seketika syok menata foto wanita cantik yang ditunjukkan oleh Sean adanya. Dia pun tertunduk. “Bukankah nyonya Marion bilang Sean sudah lama mencari seorang istri yang tepat untuk mendampingi seumur hidupnya ? Tapi kenapa dia tak bilang pada ku jika Sean sudah punya istri ?” batinnya remuk merasa dibohongi oleh wanita itu.
“Sepertinya ucapanku tadi berhasil membuatnya broken heart.” batin Sean melihat Angel yang kini meneguk gelas ketiga berisikan wine.
“Angel hentikan atau kau akan mabuk.” hardik Sean saat Angel minum gelas berisikan wine ke lima kalinya.
Angel yang kesehariannya jarang minum wine pun terlihat mabuk berat dengan muka yang memerah.
“Apa kau tahu aku sedih sekali mendengar ucapanmu yang begitu kejam dan menyakitkan itu. Aku tahu kau sebenarnya bohong mengenai statusmu yang sudah menikah tadi dan aku yakin kok sebenarnya masih single.” racaunya sembari tersenyum tipis menatap Sean dan menahan kepalanya yang terasa berat hingga ia tak kuat menyangganya dan bersandar ke meja.
“Angel kau mabuk berat. Sebaiknya kita pulang saja. Aku akan mengantarmu pulang.” Sean tahan lagi mendengarkan racauan Angel yang tidak jelas dalam keadaan mabuk itu lalu segera memapahnya masuk ke mobil.
“Katakan dimana alamat rumahmu.” ucap Sean setelah mobil melaju di jalanan.
Angel dalam keadaan mabuk masih bisa mengingat alamat rumahnya dan memberikan alamatnya pada Sean dimana pria itu segera menuju ke alamat yang dituju dengan cepat.
“Kita sudah sampai di rumah mu.” Sean menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah mewah.
“Terimkasih sudah mengantarku, Sean.” Angel turun dari mobil dengan berjalan sempoyongan dan hampir jatuh.
“Wanita itu...” karena merasa tak tega maka Sean mengantar Angel masuk ke rumah sampai ke kamarnya.
“Sean tinggallah sebentar dan temani aku. Aku selalu kesepian setiap malam.” setibanya di kamar, Angel menarik dasi Sean saat pria itu mau angkat kaki dari kamarnya. Bahkan ia pun memeluk erat pria itu dan tak membiarkannya beranjak selangkah pun dari sana.