
Satu jam kemudian Cyrille membuka mata karena merasa tak nyaman pada bagian tangannya yang terasa seperti diikat dengan erat.
“Argh.” pekik gadis kecil itu saat menoleh ke belakang dan mendekati tangannya terikat dengan Cyrano.
“Sssts... pelankan suara mu atau kau akan membuat penjaga di luar masuk kemari.” balas Cyrano lirih.
Cyrille pun memelankan suaranya, “Jadi kita di culik ?”
Cyrano mengangguk yakin menanggapinya yang membuat saudari kembarnya itu merasa aneh saja bagaimana bisa Cyrano terlihat tenang dan santai walaupun mereka di culik seperti ini.
“Kau tahu siapa pelakunya ?”
“Coba kau ingat sendiri.” Cyrille sedikit kesal bukannya dia memberi tahunya, malah menyuruhnya untuk berpikir. “Tunggu...”
Gadis kecil itu pun mengingat kembali apa yang terjadi pada mereka sebelumnya.
“Apa ini ada kaitannya dengan Oncle Kevin ?” Cyrille teringat terakhir kali mereka makan di restoran dengan pria itu.
“Siapa lagi ?”
“Lalu kenapa dia menculik kita padahal sebelumnya dia sangat sayang pada kita.” sanggah Cyrille yang masih tak percaya saja jika pria lembut itulah yang menculik dirinya.
“Entahlah, mungkin masalah orang dewasa ?”
“Dan kita menjadi korbannya ?” sahut Cyrille menyambung perkataan saudara kembarnya itu. “Kenapa kita tidak lari saja sekarang ? Kau bisa bukan melepaskan tali ini dengan mudah ?” ia menarik tangannya karena merasa sangat tak nyaman sekali terikat erat.
“klak.” mendengar suara pintu yang terbuka mereka berdua pun segera pura-pura tidur kembali, tak melanjutkan obrolan mereka.
Dua orang pria masuk setelahnya dan kini sudah tepat berada di depan si kembar.
“Lihat mereka berdua belum sadarkan diri. Mungkin obat yang diberikan dosisnya terlalu tinggi.” ucap seorang pria karena seharusnya dua anak itu sudah sadar sekarang.
“Lalu apa yang akan kita lakukan pada mereka ?” tanya pria lain dengan kepala licin tanpa rambut sehelai pun menatap sandera mereka.
“Daripada salah sebaiknya kita tidak melakukan apapun dan menunggu perintah dari tuan Bryan saja.”
“Aku lapar, mau keluar dulu cari makan.”
“Lalu bagaimana dengan mereka ?” pria itu tak terima jika dia harus berjaga sendiri sementara temannya makan. “Hey, aku juga lapar.” mengejar rekannya.
“Ikut saja. Kita keluar bersama sekarang.”
“Bagaimana dengan mereka ?” pria itu kembali menatap si kembar.
“Apa yang bisa dilakukan oleh anak kecil seperti mereka apalagi dalam keadaan terikat seperti itu. Tak mungkin mereka bisa kabur dari sini.”
Dua ternyata dia kemudian keluar dari sana dan mengunci pintu. Terdengar suara mobil maju beberapa menit setelahnya.
“Mereka benar-benar meremehkan kita.” ucap Cyrano membuka matanya kembali setelah mereka pergi menatap ke arah pintu.
Sementara di lain tempat Alexa berulang kali mencoba menghubungi nomor Sean dan baru tersambung beberapa jam kemudian.
“Alexa ada apa ?” ucap Sean yang duduk di kamarnya dan ketiduran sekembalinya dari airport.
“Apa kau membawa Cyrille dan Cyrano bersamamu ?” tanyanya terdengar cemas.
“Tidak, aku tidak membawa mereka.”
“Kau yakin tidak menyuruh utusanmu untuk membawa mereka pergi ?” suara Alexa terdengar semakin panik.
“Tidak. Ada apa ?” Sean ikut terlihat cemas.
“Astaga... mereka hilang sungguhan.”
“Apa ?!” pekik Sean yang sangat terkejut namun sayangnya Alexa sudah mematikan sambungan teleponnya dan berlari ke depan mencari ayahnya.
“Hiss.” Sean mencoba menghubungi nomor Alexa berulang kali namun tak diangkat. Ia pun kemudian keluar kamar karena mendengar suara keributan di luar. “Ada apa ini ?”
Sean melihat beberapa body guard-nya sedang menghadang beberapa pria.