
Sean menatap ke sekitar mencari Siapa orang tua gadis kecil yang ada di depannya.
“Sepertinya dia datang sendiri.” Sean tak melihat ada orang dewasa di dekat gadis kecil tersebut yang masih menangis.
“Apakah kau merasa sakit ? Mungkin aku terlalu keras menubruk mu.” ucap Sean berjongkok sambil melihat tubuh gadis kecil itu apakah ada yang terluka.
Cyrille menggelengkan kepalanya. Namun Sean tak tahu kenapa gadis kecil itu masih menangis jika tak ada yang terluka.
“Apakah kau tersesat ? Dimana orang tuamu ? Bagaimana bisa kau kemari ?” tanya Sean beruntun.
“Daddy aku bukan menangis karena sakit tapi aku senang sekali akhirnya bisa bertemu denganmu dan melihatmu secara langsung.” Cyrille terus menatap Sean, pria yang ia rindukan juga yang sangat dirindukan oleh mommy nya.
“Ya, aku mencari saudaraku yang terpisah dariku bersama oncle.” jawab Cyrille pada akhirnya berbohong.
“Oh...” tukas Sean singkat dalam hati menghujat Oncle dari gadis kecil tersebut yang entah bagaimana bisa teledor sampai meninggalkan gadis kecil secantik ini bahkan membuatnya tersesat.
“Apa kau tahu nomor nya ? Aku akan menghubunginya untukmu.”
Cyrille menggelengkan kepala meresponnya.
“Oh...” Sean merasa meskipun bukan tanggung jawabnya tapi ia tak tega melihat gadis kecil tersesat di tengah keramaian ini.
“Sebelumnya kau ada dimana ?”
“Aku di Ponts Des Arts, oncle.”
“Aku akan mengantarkan mu ke sana nanti, tapi sebelum itu aku mau ke restoran yang ada disini.” Sean kembali berdiri. “Dan kau ikut aku ke sana.”
“Terimakasih oncle.”
Sean kemudian berjalan menuju ke restoran yang berjarak 3 meter dari tempatnya berada sekarang.
“Auwh...” Cyrille berjalan di belakang Sean namun terjatuh saat mengikuti langkah kaki daddynya yang panjang.
“Astaga...” Sean pun berhenti dan berpaling saat mendengar suara seseorang jatuh di belakang nya.
Ia pun segera menghampiri Cyrille dan membantunya berdiri. “Kau tak apa ?”Cyrille mengangguk pelan.
Sean memperlambat jalannya bahkan dia sampai menggandeng tangan Cyrille.
“Daddy tangan mu besar dan hangat. Kau memang pantas menjadi daddy ku.” Cyrille baru pertama kali ini menyentuh secara langsung pria yang merupakan ayah kandungnya yang membuat nya kembali menitikkan air mata.
“Ayo makan saja jangan sungkan-sungkan.” ucap Sean pada gadis kecil tadi yang masih terus memandangnya tanpa henti.
“Iya oncle, terima kasih.” ia pun segera menyantap nya pas sekali di saat ia sedang lapar.
“Anak ini benar-benar mirip sekali dengan Alexa, bahkan cara makan nya pun sama.” batinnya menatap intens gadis kecil di depannya yang membuatnya kembali teringat pada Alexa.
“Gadis kecil siapa namamu ?” tanya Sean penasaran.
“Cyrille Bert...” Cyrille teringat pesan dari pappy nya jika ia dilarang menyebutkan nama belakangnya selama berada di Paris. “panggil saja Cyrille, kalau oncle ?”
“Aku Sean Aldric, panggil saja Sean.”
Tiga puluh menit kemudian mereka selesai makan.
“Cyrille aku akan mengantarmu sekarang ke Ponts Des Arts. Mungkin oncle mu sedang ini mau mencarimu di sana.”
“Ah terimakasih oncle.”
Cyrille kemudian berjalan mengikuti daddy nya menuju ke mobil pria itu terparkir.
“Untunglah jalanan tidak semacet tadi.” Sean mulai mengemudikan mobilnya di saat kecametan di sana mulai terurai sehingga ia bisa sampai dengan cepat ke tempat tujuan Cyrille.
“Dimana oncle mu ? Apa kau menemukannya di sini ?”
“Di sana Oncle Sean.” Cyrille asal tunjuk saja pada seorang pria yang terlihat sendiri di tepi jembatan.
“Aku mengantarmu ke sana.”
“Oh tidak perlu, oncle. Itu... jika oncle ku sampai tahu aku menghilang nanti aku bakal kena marah.” tolaknya dengan keras dan Sean pun menurut saja.
“Oncle terima kasih banyak sudah mengantar ku.” ia memeluk Sean erat dan memberikan ciuman di pipinya. “Sampai jumpa Oncle.”
Cyrille ramaikan tangannya saat pria itu kembali masuk ke mobil.
“Tack.” sesuatu jatuh dan Cyrille mengambilnya, sebuah gelang. “Pasti ini punya daddy.”
“Oncle... gelang mu jatuh.” panggil Cyrille namun daddy nya itu tak mendengarnya dan sudah menghilang di tengah keramaian.