
Sean memang bermaksud membalas budi pada apa yang sudah dilakukan oleh ayahnya Angel tapi ia benar-benar tertegun saat gadis itu mengucapkan sebuah persyaratan atau tepatnya kesepakatan yang belum ia ketahui.
“Syarat ?” ucap Sean mengerutkan keningnya sambil menatap Angel. “Ya, tapi sebelumnya jangan salah paham dulu padaku, tuan Sean.”
Sean semakin tidak mengerti pada apa yang diucapkan oleh wanita itu.
“Ya kesepakatan.” Angel pun akhirnya menceritakan kesepakatan itu saat melihat raut muka kebingungan Sean dan ia yakin pasti ibunya Sean belum memberitahukan hal itu.
“Sebenarnya ini kesepakatan antara Ayahku dan juga ibumu tanpa persetujuan dariku. Dimana ayah ku meminta agar menjadikan aku sebagai istrimu setelah kau menerima donor mata darinya.” jelas Angel berusaha menjelaskan dengan simple agar mudah dipahami.
Sean hanya bisa menarik nafas dengan kasar mendengar penjelasan dari Angel dan menelan salivanya dengan susah payah.
“Apalagi yang ibu rahasiakan dariku ? Kenapa dia tidak memberitahukan hal sepenting ini padaku ?” batin Sean masih diam terpaku sekaligus syok mendengar penjelasan dari angel.
“Bagaimana aku bisa menikah dengannya jika tanpa cinta ? Seandainya saja aku mengetahuinya, lebih baik aku tidak menerima donor mata ini.” Sean baru mengetahui ada harga yang harus dibayarnya dengan penglihatannya sekarang.
“Tuan Sean... ?” panggil Angel karena beberapa kali ia memanggil, pria itu tidak mendengarnya.
“Oh... maaf aku banyak pikiran jadi sedikit tidak fokus.” jawab Sean mencoba untuk tenang dan kembali fokus serta menahan amarahnya pada ibunya.
“Kuharap kau tidak salah paham padaku.”ucap Angel seraya berdiri.
“Tidak nona, itu kesepakatan diantara kedua orang tua kita.”
Setelah cukup lama berada di makam tuan White, Sean pun kemudian berpamitan untuk kembali lebih dulu.
“Baiklah tuan Sean sampai jumpa lagi. Terimakasih sudah mengunjungi makam ayahku.” ucap Angel menatap Sean yang sudah berlalu dan masuk ke mobil.
Di dalam mobil Sean baru menunjukkan karakter aslinya.
“bugh !” pria itu memukul dasbor mobil hingga retak untuk melampiaskan kekesalannya.
“Aku akan menanyakan hal ini pada ibu.” Sean yang awalnya ingin kembali ke kantor mengurungkan niatnya dan lebih memilih untuk pulang ke rumah dan meminta penjelasan dari ibunya.
Tak lama kemudian pria itu tiba di rumah. “Dimana ibu ?” tanya nya pada pelayan yang sedang berada di teras.
“Nyonya ada di ruangannya, tuan.”
Sean bergegas menuju ke ruangan ibunya. “Ibu...” panggil Sean masuk ke ruangan ibunya tanpa mengetuk pintu terlebih dulu seperti biasanya.
“Sean ada apa nak ? Kenapa kau sudah pulang jam segini ?” Marion yang sedang duduk di kursi kerjanya sampai berdiri. “Sean ?” merasa ada sesuatu karena ia melihat raut muka putranya yang terlihat amat sangat marah.
“Ibu kenapa ibu merahasiakannya dariku jika pendonor mata ini mengajukan syarat dan meminta aku menikahi putrinya ?” tanya Sean dengan tatapan tajam yang membuat ibunya merinding menatapnya saja.
“Bagaimana kau bisa mengetahui hal itu ? Siapa yang memberitahumu ?” pekik Marion terkejut dan seketika berdiri dari tempat duduknya.
“Hal itu tidak penting dari siapa aku mengetahuinya. Aku tidak mau menikah dengan putri pendonor mata ini. Jika saja saat itu aku mengetahuinya maka lebih baik aku menjadi buta seumur hidupku daripada harus menghabiskan sisa hidupku dengan seorang wanita yang tidak aku kenal sama sekali.” jelas Sean panjang kali lebar yang membuat ibunya semakin merinding melihat putranya yang semarah ini.
“Itu... bukan maksud ibu merahasiakannya darimu. Aku terpaksa menerimanya mengingat sulitnya mencari donor mata untukmu dan lagi aku berniat memberitahukan hal itu pelan-pelan padamu.”
“Tidak bu, ambil saja mata ini kembali !” Sean kemudian pergi dari ruangan ibunya meninggalkan wanita itu diam tertunduk di sudut ruangan menyesali kenapa terlambat memberitahukan hal itu pada Sean.
Sean masuk ke kamar dan terlihat lebih memilih untuk menenangkan dirinya karena sudah tak ada mood untuk kembali ke kantor.