
Marion menatap kertas yang dipegang oleh Sean.
“Apa itu ?” tanyanya penasaran. “Ini hanya catatan lama yang ku cari ibu.” Sean segera memasukkan kertas yang dipegangnya ke laci. “Oh...” jawab Marion singkat
Sean segera mengalihkan pembicaraan agar ibunya tidak fokus pada yang barusan dilihatnya dan terus bertanya.
“Ibu... aku tidak menemukan data terbaru perusahaan ini di laptopku.” Sean membuka laptop dan menunjuk kan pada ibunya.
“Oh ya aku lupa belum mentransfer data itu pada mu.” Marion seketika teringat jika mengunci semua data itu setelah Sean koma. “Baiklah aku akan mentransfernya sekarang.” berbalik dan keluar dari ruangan Sean lalu masuk ke ruangannya.
“huft.... hampir saja. Untung ibu tidak bertanya lebih lanjut.” Sean menghembuskan nafas lega setelah kepergian ibunya.
Pria itu kembali mengeluarkan sumber kertas yang ia simpan dalam laci dan membacanya kembali untuk mengingatnya.
“Aku mulai mencarinya dari bawah dulu.” Sean memutuskan untuk mencari dari negara Belanda dulu.
Pria itu kemudian mengeluarkan ponsel. Ia menelepon anak buahnya.
“Halo Dexter, bantu aku mencari seseorang di negeri Belanda.” ucapnya setelah telepon tersambung. “Ya bos. Bisa beritahu tentang informasinya ?” balas suara di telepon.
“Aku akan mengirim datanya padamu setelah ini. Aku memberi mu waktu tiga hari untuk melakukan investigasi langsung ke lokasi dan kabari aku secepatnya.”
“Siap bos.”
Sean mengakhiri panggilan setelah selesai menyampaikan perintahnya. Ia segera mengirimkan data terperinci Austin pada Dexter.
“Ding.” suara pesan masuk di laptop Sean.
“Pesan dari siapa kira-kira ?” Sean kembali menatap monitor laptopnya dan membuka pesan email yang masuk. “Ternyata pesan dari ibu.” membaca isi pesan tersebut.
“kring...” telepon di meja Sean berdering tak lama setelahnya.
“klak.” Sean mengangkat gagang telepon berwarna hitam di depannya. “Ya halo.”
“Sean... aku sudah mentransfer file itu padamu. Coba kau periksa sekarang.” ucap suara seorang wanita dari seberang telepon yang ternyata adalah Marion.
“Ya ibu, aku sudah membukanya. Terimakasih. Aku masih mempelajarinya saat ini.” Sean menatap data di monitor. “Baiklah jika kau sudah menerimanya.” balas Marion singkat kemudian segera mengakhiri percakapan mereka dalam telepon.
Sean udah sampaikan masalahnya sebentar dan mulai mengerjakan tugasnya sekarang.
Dalam waktu empat jam setelahnya tampak seorang lelaki segera bergerak setelahnya di negeri kincir angin.
“Baiklah aku akan mulai mencarinya dari sini.” ucap seorang lelaki berada kincir angin berada.
Tiga hari kemudian. Di suatu malam, Sean mengeluarkan ponselnya dan sedang bicara dengan seseorang saat di rumah.
“Ya halo &Dexter. Bagaimana hasil penyelidikan mu ?” tanya Sean setelah mengangkat ponselnya. “Bos aku sudah mencarinya hingga ke ujung di negeri ini namun keberadaan Austin di sini tak terdeteksi.”
“Baiklah. Jika begitu lanjutkan pencarian berikutnya di Hungaria.” Sean segera memberi perintah baru begitu target tidak ditemukan di negara Belanda. “Siap bos. Tiga hari, beri aku waktu selama itu dan aku akan segera mengabarinya.”
Panggilan berakhir dan mereka segera menaruh kembali ponselnya ke meja.
“Austin kau bawa ke mana sebenarnya Alexa ?” Sean berdiri dari tempat duduknya dan membuka sedikit jendelanya membiarkan udara dari luar masuk.
“Aku pasti akan menemukan mu.” tersenyum lebar menatap ke arah luar jendela dan duduk di sana sejenak selama beberapa menit.