
“Tempat apa ini ?” tanya Sean melihat lokasi yang dipetakan oleh cheap tersebut.
“Mungkin saja ini lokasi tempat mereka di tahan yang dikirim oleh Cyrano pada kita.” Alexa yakin sekali pada hal itu. “Coba cek ke sana, sekarang.”
Sean sebenarnya sedikit ragu dengan perkataan Alexa namun tak ada salahnya juga untuk memeriksanya di sana mungkin saja ada petunjuk yang bisa mengarahkan ke tempat si kembar berada.
Sean beralih menatap para informannya yang masih menunggu perintahnya di depan pintu kamar hotel.
“Kalian coba pergi sekarang ke lokasi ini.” Sean menunjukkan alamat yang harus mereka tuju.
“Baik, tuan.” setelah mengingat juga menyimpan informasi alamat tersebut semua informan Sean segera melaksanakan tugas mereka.
“Alexa kau mau ke mana ?” Sean non Alexa yang hendak keluar meninggalkan dirinya.
“Tentu saja aku akan mengikuti mereka mencari si kembar.”
“Tidak, kau tidak boleh pergi sendirian. Dan lagi kita tunggu hasil penyelidikan mereka dulu baru kita bergerak.”
Alexa mengangguk kemudian duduk kembali di samping Sean dengan hati jangan sedikit tenang karena ada sedikit petunjuk untuk mencari buah hati mereka.
Para informan Sean tak lama kemudian tiba di lokasi yang dipetakan tadi. Tentu saja mereka tidak turun persis di tempat yang ditunjukkan oleh peta namun agak jauh dari sana untuk antisipasi, bahkan salah satu dari mereka pun menyamar sebagai orang biasa setelah berganti baju santai.
“Disini tempatnya.” seorang pria berambut klimis berhenti tepat di depan gudang tua tak terpakai menatap dua mobil yang terparkir di depannya.
Ia pun berhenti dan memasang telinga setelah melihat ada siapapun di luar bangunan tersebut.
“Om botak aku lapar.” ucap Cyrille setelah melihat dua orang yang berjaga di sana sedang makan sehingga merangsang perutnya menjadi lapar hanya dengan melihatnya saja.
“Gadis kecil, meski aku memberi makanan pada kalian, kalian takkan bisa memakannya.” jawab pria botak dengan santai terus melahap makanannya.
“Enak saja sudah minta makan minta disuapi pula. Kalian ini harus tahu apa status kalian di sini.” seorang pria lain berdiri dan menatap tajam ke arah Cyrille.
“Sandera.” jawab Cyrille dengan santai seolah bermain saja di sana tanpa merasa sedang disekap.
“Nah, itu kalian sudah tahu. Jangan macam-macam jika tak ingin kami berbuat sesuatu pada kalian.”
“Biarkan saja mereka segera pergi dari sini nanti kita akan keluar membeli makanan sebentar.” bisik Cyrano lirih karena sebenarnya Ia juga menahan rasa lapar dari tadi.
“Aku mendengar suara nona Cyrille di dalam sana.” gumam pria tadi lirih. Tepat di saat ia akan kembali pintu gudang tua itu terbuka.
“Hei siapa kau ?!” pria botak keluar untuk membuang sampah makanan mereka, menatap tajam ke arah pria tak dikenalnya itu.
“Oh, tuan aku sebenarnya tersesat di sini. Kebetulan sekali bertemu denganmu.” pria itu segera mencari alasan.
Pria botak tadi malah menghampirinya dan juga menatapnya dari ujung kaki hingga ke ujung kepala. “Sepertinya dia memang orang asing bukan informan.” batinnya menilai karena tak melihat ada alat atau sejenisnya yang biasa dibawa oleh para informan.
“Apa tuan tahu alamat ini ?” pria tadi menunjukkan sebuah alamat yang ia cari dengan cepat.
“Oh ya, alamat ini kau bisa lewat jalan sana dan bla-bla...” primbon tak tadi menunjukkan jalan yang harus dituju.
“Terimkasih.”
Informan Sean kemudian berjalan sesuai dengan apa yang ditunjukkan oleh pria botak tadi dan setelah jauh ia pun mengeluarkan ponsel dan menghubungi tuannya.
“Kuharap pria tadi benar-benar orang tersesat.” pria botak menatap punggung informan Sean yang sedang menelepon.