THE PROMISE

THE PROMISE
BAB 99. TERJEBAK API



Lantaipun bergetar. Sekelompok orang itu sudah semakin gelisah dan ketakutan.


"Gempa....Gempa.... Apakah ini benaran gempa?"


"Sepertinya bukan gempa. Tetapi sepertinya getaran ini berasal dari lantai atas." sahut yang lainnya.


"Iya benar....ini memang ledakan! Aku mencium bau asap! Ayo semuanya segera lari keluar!"


Tidak ada yang tahu jika ada orang yang berada diruang ganti. Anastasya yang berada di ruang ganti bersama penata rias pun bersikap tenang. "Mungkin sutradara merencanakan sesuatu yang berbeda jadi dia menambahkan beberapa petasan." ucap sang penata rias.


Tetapi setelah si penata rias selesai bicara tiba-tiba pintu ruang ganti ditendang terbuka dengan suara kencang.


Anastasya berdiri kaget, "Kau....."


"Ada ledakan dilantai atas! Cepat lari!" Kenneth meraih tangannya dan berlari keluar.


Orang-orang yang berada diruang ganti tercengang selama dua ddetik sebelum ikut berlari keluar. Anastasya langsung ditarik keluar oleh Kenneth dari ruang ganti. Dia mendapati bagian luar ruangan itu sudah sangat berantakan dan api juga sudah menyambar ke tangga.


"Bensin! Seseorang menumpahkan bensin disini." teriak seseorang saat mereka berlari melewati ruang ganti itu. Sambil berlari menuju ke gerbang bersama Kenneth, Anastasya pun bertanya.


"Mengapa bisa terjadi seperti ini? Apa ada seseorang yang sengaja iseng melakukannya?"


Tepat saat Kenneth baru saja ingin bicara, tiba-tiba telepon di sakunya berdering dan itu adalah panggilan dari temannya. Dia segera menekan tombol menjawab panggilan. Terdengar suara diseberang telepon yang terdengar cemas.


"Kenneth! Dimana kau sekarang? Orang itu telah diselamatkan oleh seseorang dan dia meninggalkan sebuah pesan di secarik kertas. Isi pesan itu mengatakan bahwa hari ini kau pasti akan mati. Dia meminta kita untuk tidak membuang-buang tenaga kita lagi."


"Aku tahu! Segera lapor polisi, ada ledakan disini di gedung perusahaan Hilam Group." kata Kenneth.


"Apa? Ledakan? Sial! Orang yang menyelamatkan pria itu pasti mengetahui kalau kamu sedang berada disana. Apakah kamu baik-baik saja? Kami akan segera datang kesana sekarang."


"Jangan khawatir. aku baik-baik saja untuk sementara ini. Teleponnya aku tutup dulu." Kenneth menutup telepon dan sambil berlari dia berkata kepada Anastasya.


"Ini bukan sengaja dilakukan oleh orang iseng! Tetapi ini sebuah serangan yang kejam. Cepat lari1"


Anastasya tidak bertanya lebih lanjut tetapi meraih tangan Kenneth dan mempercepat langkahnya menuju kearah gerbang. Tetapi ketika mereka masih berada sekitar sepuluh meter dari gerbang, mereka mendapati bahwa sekelompok orang itu semuanya berhenti  didepan gerbang.


"Ada apa? Mengapa tidak keluar?" tanya Kenneth dengan dingin.


Asisten muda berlari menghampiri mereka dan berteriak dengan napas terengah-engah, "Pintu....pintunya terkunci. Semua orang tidak bisa keluar! Api telah menyebar ke seluruh area. Aku tidak tahu apakah akan ada ledakan lagi....Tuan Archilless, Nona Tasya apakah kita akan mati disini?"


Anastasya melepaskan tangan Kenneth lalu meraih tangan si asisten dan menenangkannya, "Jangan khawatir. Kita tidak akan mati disini. Jika pintunya terkunci ya hancurkan saja sampai terbuka."


Beberapa petugas keamanan berusaha mendobrak pintu. Dengan tergesa-gesa mereka mengangkat bangku dan membantingkannya ke pintu kaca. Namun Anastasya tampak terkejut ketika melihat seberapa kencang dan kuatnya orang-orang itu berusaha tapi tetap saja pintu kaca itu sama sekali tidak bisa dihancurkan.


Salah satu petugas keamanan itu membuang alat ditangannya dengan putus asa. Dia menggelengkan kepalanya dengan tak berdaya dan berkata, "Tak ada gunanya.....sejak ada serangan ******* tahun lalu, semua kaca pintu dan jendela di perusahaan ini diganti dengan kaca grade A yang keras dan kuat. Jangankan kursi, bahkan dengan meledakkan bom pun kacanya tidak akan pecah."


Anastasya melangkah dan menghampiri satpam lalu berkata dengan dingin, "Jangan putus asa dulu! Pintu ini di kunci oleh apa? Jika menggunakan gembok, buka saja dengan kuncinya."


Satpam itu menatapnya dan menundukkan kepalanya, "Bagaimana mungkin bisa sesederhana itu? Pintu ini adalah smart door. Aku telah mencobanya berkali-kali diruang CCTV dan keamanan tadi. System smart door-nya rusak dan tidak dapat dibuka sama sekali."


Anastasya baru saja akan berbicara ketika Kenneth bertanya, "Dimana ruang CCTV dan keamanannya?"


Petugas keamanan itu tampak segan kepada Kenneth. Dia tidak berani asal bicara lalu dia menunjuk keatas dan berkata, "Di ruang pertama di lantai dua....."


Kenneth mengangguk dan berkata kepada Anastasya, "Sistemnya pasti sudah diubah.  Aku akan keatas untuk memeriksanya. Kamu tetaplah disini."


"Tidak! Aku akan pergi bersamamu." ujar Anastasya yang tak ingin Kenneth pergi sendirian.


"Jangan mengambil resiko! Untuk saat ini yang terbaik bagimu adalah tetap menunggu disini. Biar aku saja yang naik keatas untuk memeriksa." ucap Kenneth.


Anastasya pun berkata dengan tegas, "Aku tidak akan merepotkanmu! Aku tahu sedikit mengenai pemograman. Mungkin aku bisa membantumu. Percayalah!"


Kenneth menatap Anastasya lekat-lekat, matanya tampak cerah, jernih dan sedingin es. Kenneth tahu bahwa dia tidak bisa menghentikannya, jadi dia pun terpaksa menyetujui. "Oke, Kamu ikut denganku."


Keduanya saling menatap dan berlari ke lantai dua melawan arah kerumunan orang itu. Lift sudah tidak bisa digunakan lagi. Jadi keduanya dengan hati-hati menghindari api yang disebabkan oleh bensin yang tumpah tadi dan berlari menuju ke lantai dua.


Tetapi tidak peduli seberapa hati-hatinya mereka, ketika mereka berdua sampai di lantai dua, kaki mereka berdua sudah terluka. Kenneth tidak peduli dengan dirinya sendiri lalu dia melihat sekilas kearah pergelangan kaki Anastasya yang terkena luka bakar. Tiba-tiba dia berhenti dan berkata,"Kakimu....."


"Jangan pedulikan ini, buka dulu pintunya." ujar Anastasya yang tidak mempedulikan luka dikakinya. Dia berlari menuju ke ruangan CCTV dan keamanan. Kenneth pun tidak punya pilihan lain selain mengikuti gadis itu dengan cepat menyusulnya.


Dengan cepat mereka berdua sudah sampai didepan pintu ruang CCTV dan keamanan itu. Sayangnya pintu ruangan itu dikunci dengan gembok yang besar,


"Kamu mundur sedikit!" ujar Kenneth lalu dia mundur dua langkah dan dengan cepat berlari menendang pintu ruangan itu. Pintu bergetar dua kali dan masih berdiri kokoh. Dan pada saat ini seluruh ruangan telah dipenuhi oleh asap sehingga membuat mereka kesulitan bernapas.


"Uhukkk....uhukkk....." Anastasya menutup mulutnya dan batuk beberapa kali. Tiba-tiba dia teringat ada kotak emergency di sudut tangga. Matanya pun menyala, "Ada kapak disana! Aku akan mengambilnya." teriaknya.


Dia bergegas ke kotak emergency dan benar saja disana ada kapak. Anastasya menendang kaca kotak emergency dan mengeluarkan kapak yang ada didalamnya. Namun ketika dia mengeluarka kapak itu, tak sengaja dia melukai punggung tangannya terkena pecahan kaca sehingga darah segar merembes keluar.


"Sialan....." keluhnya dengan suara rendah. Tetapi dia berdiri tidak lama disana. Dia hanya ingin segera membuka pintu. Dia menyeka darah dari punggung tangannya dengan pakaiannya dan kemudian dengan cepat berlari kembali ke ruangan CCTV dan keamanan itu.


"Kapak....aku sudah membawanya...." Anastasya terengah-enagh, asap itu tersedot kedalam paru-parunya sehingga dia terbatuk dengan kencang. Dan asap ditempa itu pun semakin tebal membuat pandangan mata mereka juga sudah kabur.