
“Sekarang aku mau coba hasil buatanmu!” dengan santai Kenneth mengambil sesendok capcay lalu memasukkan ke dalam mulutnya. Rasa kaldu dan bumbunya pas dan rasa makanannya juga enak,cocok dilidah Kenneth. Tapi namanya juga Kenneth, gengsinya tinggi buat mengakui kalau masakan Anastasya enak. Tapi rasa masakan ini memang benar-benar enak,
Tanpa sadar dia mengangkat alisnya dan menatap Anastasya dengan heran. Bahan dan bumbu yang tersedia sangat sederhana, semuanya berasal dari bahan-bahan yang ada didapur kamar suit itu.
Tapi ini pertama kalinya dia merasakan makanan yang begitu lezat. Anastasya belum mencicipi masakannya, saat dia melihat ekspresi terkejut diwajah Kenneth dia pun bertanya.
“Tidak enak ya?” tanya Anastasya menatap Kenneth.
“Oh tidak! Rasanya oke. Makanan yang dibuat sendiri memang beda rasanya.” kata Kenneth.
Mulut Kenneth tidak pernah mengucapkan kata-kata yang baik dan Anastasya merasa kalau ucapan Kenneth yang bilanga “Rasanya oke” tadi itu sudah merupakan penilaian yang cukup tinggi dari seorang Kenneth Archilles.
Anastasya pun tak mau bertanya lagi dan mulai makan. Saat Anastasya mengangkat wajahnya dia melihat sayur capcay hampir ludes dan fuyunghai tinggal satu saja di piring.
Dan dia melihat Kenneth sedang mengunyah fuyunghai dimulutnya. Sedangkan di piringnya capcay dan fuyunghai menumpuk seperti bukit. Anastasya pun tersenyum tipis.
...******...
Matahari bersinar dengan terang, Kenneth meminta seseorang untuk pergi membeli satu set pakaian wanita untuk Anastasya. Sekarang dia sudah mengenakan pakaian lengkap dan berjalan keluar dari hotel.
Baru saja dia akan naik taksi untuk pulang, tiba-tiba mobil mewah Danendra melaju dan berhenti didepannya. Seolah-olah Danendra tahu jam berapa Anastasya akan meninggalkan hotel itu.
Dengan cepat supir keluar dan membukakan pintu mobil untuknya dengan hormat. “Nona, Tuan meminta saya untuk menjemput anda disini. Silahkan masuk ke mobil.”
Anastasya mencibir dan menatap supir itu dingin. Dengan ekspresi datar dia naik ke mobil, dia bisa merasakan bahwa si supir itu tampak jauh lebih menghormatinya. Ini pasti perintah Danendra.
Ketika dia adalah Tasya yang berguna baginya maka perlakuan Danendra padanya akan berbeda. Tetapi sejak Anastasya mengetahui bahwa Danendra bukan ayah kandungnya, dia tidak algi merasakan sedikitpun gejolak di hatinya mengenai hal tidak menyenangkan semacam ini. Setelah masuk kedalam mobil, Anastasya menatap ke atas gedung hotel.
Dia melihat tirai disamping kamar tempat dia berada tadi tampak bergerak sedikit, seakan-akan ada seseorang yang sedang berdiri disana menatapnya. Apakah itu hanya halusinasinya saja? Bagaimana mungkin Kenneth melihatnya pergi…..tapi dia merasa yakin kalau pria itu memandanganya tadi.
Anastasya kembali berbinar saat memikirkan bagaimana cara dia melangkah keluar dari apa yang akan dihadapinya nanti. Dia memiliki firasat dihatinya jika dia dapat menemukan rahasia mengenai jati dirinya maka kebenaran dari kematian ibunya tidak lama lagi akan terungkap. Tak lama kemudian mobil sudah sampai didepan gerbang villa Hilman.
Anastasya tidak cukup tidur tadi malam kecuali dimalam dia di infus, tetapi didalam villa itu juga ada dua orang yang tidak tidur pada malam yang sama.
Saat Danendra menerima kabar bahwa Anastasya sudah sampai, dia bergegas berlari keluar dari ruang baca. Bersamaan dengan itu Clarissa juga mendapat kabar kepulangan Anastasya.
“Dia benar-benar baru pulang sekarang?” tanya Clarissa tak percaya.
Pelayan itu mengangguk, “Iya Nyonya. Baru saja Tuan turun untuk menyambutnya.”
“Menyambutnya…...” tangan Clarissa gemetaran.
Clarissa pun meminta pelayan untuk segera pergi dan setelah pintu kamar dikunci, dia berjalan mondar mandir didalam kamar itu dengan gelisah. Setelah berpikir beberapa saat, dia pun menelepon Raymond dan menceritakan pada selingkuhannya itu tentang Anastasya.
Raymond merespon seolah-olah dia sudah mengetahuinya, “Aku kan sudah bilang kemarin, tak akan ada seorang pria pun yang akan menolak kecantikan Anastasya itu. Tetapi kau tidak percaya!”
Clarissa berdecak, “Ck! Sekarang bukan waktunya untuk menceramahiku! Cepat kau pikirkan sesuatu! Cari cara bagaimana menyingkirkannya!” ujar Clarissa kesal.
“Mau cari cara seperti apalagi? Lanjutkan saja sesuai rencana kita semula. Selain itu, apa yang terjadi sekarang dengan Anastasya juga bukan hal yang buruk.” ujar Raymond.
“Dia sudah berhasil mendapatkan Kenneth! Kau masih bisa bilang kalau itu bukan hal yang buruk?”
“Eh Clarissa! Jangan panik dulu, dengarkan dulu penjelasanku. Jika semuanya berjalan sesuai dengan rencana kita sebelumnya, paling juga dia hanya mencoreng nama baiknya sendiri tapi sekarang berbeda. Jika rencananya berjalan dengan baik maka itu berarti dia telah mengkhianati Kenneth!”
“Kau tahu, orang yang berani mengkhianati keluarga Archilles tak ada satupun yang berakhir dengan baik. Kau paham?”
Mendengar penjelasan Raymond, mata Clarissa pun kembali berbinar. “Ya...ya…..kau benar! Saat itu terjadi pasti Kenneth akan marah besar dan mungkin Danendra juga akan membalas. Jika waktunya pas, kita dapat menggunakan kesempatan ini untuk menghancurkan Danendra! Dengan begitu Hilman Corp sepenuhnya akan menjadi milik kita!”
“Dan saat itu terjadi, kau hanya akan menjadi milikku seorang Clarissa!”
Senyum sumringah muncul diwajah Clarisaa, “Baiklah! Kalau begitu kau atur saja semua secepat mungkin.Carilah obat yang kau butuhkan itu secepatnya!”
“Oke!”
Setelah selesai menelepon, Clarissa segera turun kelantai bawah dengan suasana hati yang sangat bahagia. Dia ingin memuji Anastasya untuk yang terakhir kalinya sebelum dia menghancurkannya.
Semakin Anastasya merasa bangga dengan keberhasilannya mendapatkan Kenneth, maka semakin putus asa juga dia nantinya. Terjatuh dari surga ke neraka itu perbedaannya sangat luar biasa.
Di lantai bawah, tampak Danendra yang bergegas keluar dan ketika dia melihat Anastasya, wajahnya semakin berbinar dan penuh senyuman. “Tasya putriku yang baik sudah pulang! Apakah berjalan lancar?” Sebenarnya hal itu tidak perlu lagi dipertanyakan lagi akrena semua bisa melihat dari ekspresi Anastasya, masalah semalam pasti lancar!
Anastasya tampak tersenyum malu-malu dan dengan bersikap tenang dia berkata, “Seharusnya…...seharusnya lancar, iyakan?” ekspresi wajahnya seolah bagai seorang gadis polos.
Danendra yang mendapatkan jawaban langsung dari Anastasya pun langsung tenang, seolah-olah dia telah meminum pil penenang. Sepertinya semuanya berjalan sesuai dengan rencananya.
“Lalu apa Kenneth ada mengatakan sesuatu kepadamu malam itu?” tanya Danendra tak sabar.
Tepat ketika Anastasya akan menjawab pertanyaannya, ponsel Danendra berdering. Dia dapat melihat mata Danendra yang berbinar dan segera menjawab panggilan telepon itu.
“Halo CEO Ivan! Apa kabar? Apa kerjasamanya dilanjutkan! Terimakasih banyak! Kedepannya kita harus lebih sering lagi berhubungan jika ada beda pendapat sih oke oke saja silahkan lanjutkan kegiatanmu.” ujar Danendra dengan raut wajah senang dan puas.