
Dia sudah cukup sabar dan bersikap baik pada Natasha selama ini. Anastasya tidak akan membiarkan Natasha dan ibunya bersikap semena-mena lagi padanya. Sedangkan Natasha yang menatap mata Anastasya yang dingin seperti bongkahan es seolah mampu membekukan siapapun.
Natasha belum pernah melihat tatapan mata yang begitu dingin dan menakutkan. Natasha pun mulai merasa takut. Tiba-tiba Anastasya menarik tangan Natasha dengan kasar lalu dia menoleh kearah pembawa acara, “Maaf Tuan. Adikku sedikit emosional. Bisakah kau membawanya kebelakang panggung agar dia bisa menenangkan dirinya disana?”
Belum sempat si pembawa acara menjawab, dua orang pengawal melangkah maju dan membawa Natasha pergi. Sejenak Anastasya terkejut melihat kehadiran dua pengawal, saat dia kembali ke tanah air Anastasya tidak membawa seorangpun pengawal pribadinya, lantas siapa kedua pengawal itu? Dia tercengang melihat dua pengawal menyeret Natasha kebelakang panggung.
Detik berikutnya dia melihat sosok tinggi jangkung dan kekar melangkah menghampirinya. Tuan Muda Archilles menatapnya dengan senyum tipis, tatapan matanya terpesona pada gadis didepannya itu. Pria itu memiliki wajah tampan dengan rahang tegas, saat pria itu tersenyum wajahnya terlihat lembut tapi sulit ditebak.
“Ken….apakah kedua pengawal itu adalah orang suruhanmu?” tanya Anastasya.
Kenneth berdiri didepan Anastasya hanya berjarak setengah meter, lalu dia menyodorkan tangannya sambil tersenyum, “Selamat, kamu resmi menjadi Brand Ambassador Cafe Moonlight kami. Franchise Cafe Moonlight berada dibawah manajemen Archilles Corp. Mulai hari ini kamu akan bekerjasama denganku. Pengacaraku akan menghubungimu nanti.”
“Tuan Muda Archilles.” suara Danendra terengah-engah menaiki panggung saat dia melihat Kenneth akan bicara pada putrinya. “Terimakasih karena telah memberikan kesempatan pada Tasya. Tolong suruh pengacara anda untuk menghubungiku saja. Tasya masih muda dan dia belum mengerti mengenai kontrak kerja jadi lebih baik aku yang mengurusnya. Aku akan jadi manajernya dan anda bisa langsung menghubungiku kapan saja.” kata Danendra bersemangat, dia tidak akan melepaskan kesempatan ini.
“Oh begitu. Lain kali akan kuhubungi” kata Kenneth enggan berurusan dengan Danendra, lalu dia pun melangkah pergi tapi Danendra menghalanginya, “Tunggu Tuan Muda. Karena kita akan sering berhubungan dikemudian hari, jadi untuk kenyamanan bisakah aku mendapatkan kartu namamu?”
Kenneth sudah menduga jika pria didepannya itu akan mencoba berbagai trik untuk mencapai keinginannya. Dia hanya menatap dingin dan mengacuhkan Danendra. Asisten Kenneth pun langsung berkata, “Tuan Muda tidak bisa memberikan kartu namanya sembarangan karena kartu nama Tuan Muda Archilles dibuat khusus. Aku akan menghubungi anda jika ada hal yang berhubungan dengan pekerjaan Nona Anastasya, tidak perlu menghubungi kami.”
Danendra merasa malu dan berdehem untuk mengurangi rasa canggung. Diapun tak lagi berani meminta kartu nama Kenneth lagi. Sedangkan Anastasya yang berdiri dibelakang Danendra terkejut mendengar ucapan asisten Kenneth. Hanya kartu nama saja kenapa bereaksi begitu?
“Papa, kenapa dia tidak mau memberikan kartu namanya padamu? Apakah kartu namanya sangat spesial?” tanya Anastasya.
“Tentu saja. Kartu nama Tuan Muda Archilles memang tidak diberikan sembarangan. Siapapun yang memiliki kartu namanya itu berarti Tuan Muda sudah mengganggap orang itu keluarganya. Jika memiliki kartu nama itu maka siapapun akan hormat dan bebas keluar masuk dari gedung Archilles Corp." kata Danendra menjelaskan. Tanpa sadar tangan Anastasya merogoh tasnya.
Didalam tasnya ada kartu nama Kenneth yang diberikan padanya, jika benar yang dikatakan Danendra bukankah itu berarti dia memiliki harta karun ditangannya? Dia pun bertekad menyimpan kartu nama itu dan takkan memberikan pada siapapun termasuk Danendra.
“Sekarang kau sudah jadi brand ambassador Cafe Moonlight. Saat kau sudah bekerja lama dengannya dan mengenalnya lebih dekat maka kau harus meminta kartu namanya untukku, ya. Kau harus menggunakan kesempatan ini, kau mengerti maksudku kan?” kata Danendra berusaha membujuk Anastasya. Gadis itupun mencibir dan mengutuk dalam hatinya. “Baiklah papa. Aku akan mendapatkannya untukmu.”
Anastasya pun tersenyum manis lalu berkata “Papa, kamu kan tahu jika aku tidak berpendidikan tinggi, aku sekarang adalah brand ambassador jadi aku harus banyak belajar. Apakah aku bisa memakai ruang bacamu untuk kupakai membaca dan belajar? Aku melihat papa punya koleksi buku-buku yang banyak sekali diruang baca itu.” Dia ingin mencari kesempatan untuk mulai mencari petunjuk tentang kematian ibunya dan ruang baca adalah tempat yang sudah diincarnya sejak masuk kerumah itu.
“Baiklah. Kau boleh memakai ruang baca sebagai tempatmu belajar tapi kau tidak boleh menyentuh dan mengobrak abrik dokumen serta barang-barang yang ada diruangan itu!”
“Aku janji papa. Aku hanya belajar saja disana dan tidak akan menyentuh barang-barang! Terimakasih papa.” ujar Anastasya tersenyum manis mempesona. Orang-orang yang melihat senyum Anastasya pun terpesona dan para pria menelan salivanya tapi gadis itu tidak menyadari betapa cantiknya dia. Danendra yang menyadari tatapan orang-orang pada putrinya pun merasa senang. Anastasya benar-benar harta karunnya yang paling berharga.
Ternyata putrinya itu tidak hanya cantik tapi dia juga memiliki keahlian dibidang coffee art. Ini adalah anugerah terindah yang Tuhan berikan dalam hidup Danendra, jika dia tidak dapat memanfaatkan dengan baik sama saja dengan menyiakan peluang yang sudah Tuhan berikan pada keluarganya.
Saat Danendra asyik bicara dengan Anastasya, seorang wanita mendekat, “Suamiku cepat tolong Natasha. Aku melihat dua orang pria telah membawanya pergi. Aku khawatir dia dalam bahaya! Cepat selamatkan dia!” kata wanita yang ternyata adalah Clarissa.
Danendra pun tersadar bahwa dia masih memiliki satu orang putri lagi yang sejak tadi tidak dilihatnya karena terlalu sibuk melayani orang-orang. Lalu dia dan Clarissa pergi bersama untuk mencari Natasha. Tapi Natasha malah sudah kembali dan mengeluh pada Danendra dengan wajah kesal dan sedih.
“Papa! Betapa malangnya aku, Anastasya sudah meminta pengawal Kenneth menyeretku lalu mengurungku dikamar! Kau harus memberinya pelajaran, dia itu sangat kejam dan jahat!”
Danendra pun mengerutkan keningnya, “Omong kosong apa yang kau bicarakan, ha? Aku yang akan menghajarmu karena kau terus bicara omong kosong dan tidak masuk akal! Kenapa kau masih saja asal bicara dan tidak sopan pada kakakmu?”
Natasha terkejut dengan reaksi ayahnya lalu menutup wajahnya dengan kedua tangannya karena takut dipukul oleh ayahnya. Saat ini wajahnya belum pulih akibat dipukul waktu itu dan giginya yang patah pun belum diperbaiki. Natasha melangkah mundur ketakutan, dia tidak memahami sikap ayahnya sekarang yang selalu marah dan menegurnya padahal semua kekacaun itu adalah ulah Anastasya.
“Sebagai adik, kau harus menghormati kakakmu! Apakah kau masih tidak mengerti aturan itu? Mulai sekarang kau tidak boleh menghina dan memfitnah kakakmu lagi. Jika kau masih melakukannya maka aku tidak akan pernah memaafkanmu.” Danendra memaki Natasha.
“Mama…..” Natasha terisak dan menatap ibunya untuk mencari dukungan.
“Sudahlah jangan menangis lagi. Temui kakakmu dan ucapkan selamat padanya.” kata Clarissa memegang bahu putrinya mencoba menenangkan.
Natasha berusaha bersikap tenang dan mencoba tersenyum meskipun terpaksa, “Selamat ya kak.”
Anastasya hanya menyunggingkan senyum, “Terimakasih adikku. Ini semua berkat bantuanmu, jika kau tidak memberiku kesempatan untuk hadir di acara ini maka aku tidak akan pernah mendapatkan gelar Brand Ambassador. Sekali lagi terimakasih, kau adalah adik terbaik.”
“Kau…..” hati Natasha sakit mendengar ucapan Anastasya, dia tahu jika Anastasya sengaja mengatakan itu sebagai sindiran tapi sulit baginya untuk meluapkan emosi saat ini mengingat ancaman ayahnya barusan.