
Clarissa menatap Anastasya tak percaya jika dia memiliki tenaga sekuat itu untuk mematahkan tangan putrinya. Wanita itu berusaha menggerakkan tangan Natasha tapi Natasha menjerit kesakitan. Barulah Clarissa percaya jika tangan putrinya benar-benar patah.
Clarissa pun tak bisa menahan emosinya lagi, dia mengambil ponsel dan menelepon polisi. Menurutnya lebih baik menghubungi polisi daripada menghubungi suaminya yang ujung-ujungnya akan menyalahkannya. Biarlah polisi yang akan menindak Anastasya.
Anastasya tetap bersikap tenang seolah dia sudah tahu apa yang akan dilakukan oleh Clarissa. Tak butuh waktu lama, polisi pun tiba bersama ambulans. Melihat itu Anastasya pun menghampiri Natasha untuk membantunya berdiri. Dia mengangkat tangannya untuk menopang Natasha.
“Ahh…..sakit!” Natasha berteriak kesakitan dan mendorong Anastasya dengan tangan satunya agar menjauh. “Mama! Si ****** ini memukulku lagi!”
Clarissa pun dengan cepat mengangkat tangan ingin menampar Anastasy tetapi tangannya hanya bergantung diudara karena dia teringat jika polisi ada disana. Dengan terpaksa dia menurunkan tangannya dan berusaha tenang lalu menoleh ke petugas polisi, “Tangkap anak itu, pak! Dia mematahkan tangan putriku dan memukulinya!”
Petugas polisi itu melihat kearah Anastasya dengan tatapan tak percaya melihat wajah polos dan lugu gadis itu. Petugas polisi pun memanggil dokter, “Dokter tolong periksa dulu pasiennya.”
“Ini….ini tanganku yang patah, dok. Aku tidak bisa menggerakkan tanganku sama sekali. Saat aku berusaha menggerakkan meskipun hanya gerakan kecil maka terasa sakit sekali.” kata Natasha menjelaskan pada dokter dengan wajah kesakitan.
Dokter pun memeriksa tangan Natasha, tetapi setelah melakukan pemeriksaan sang dokter malah menunjukkan ekspresi curiga diwajahnya dan matanya bergantian menatap Anastasya dan Natasha secara bergantian. Melihat reaksi dokter, membuat Natasha keheranan.
“Dokter ada apa? Apa---apakah tanganku masih bisa pulih lagi?” tanya Natasha.
“Pak polisi tangkap saja orang ini. Dia sudah bertindak keterlaluan dengan mematahkan tangan putriku dan memukulinya. Tolong tindak dia sesuai hukum!” geram Clarissa.
“Tante, tolong jangan membuka mulutmu dan memanggilku tahanan. Jika tante terus menerus memanggilku tahanan maka aku akan melaporkan tante dengan tuduhan fitnah dan pencemaran nama baik. Hukumannya bisa dipenjara loh.” kata Anastasya dengan suara dingin.
“Apa katamu? Fitnah? Huh!” ujar Clarissa sambil menunjuk kewajah Anastasya “Kau yang mematahkan tangan adikmu dan memukulinya, sekarang kau menyebutku sudah memfitnahmu?”
“Tante jangan marah-marah nanti wajahmu berkerut dan cepat tua. Lebih baik kita tanyakan saja pada dokter apa diagnosisnya tentang tangan Natasha.” kata Anastasya sambil tersenyum mencibir.
Clarissa mengeryitkan kening melihat sikap Anastasya yang tetap tenang tanpa terlihat rakut sama sekali. Tapi dia percaya dengan saksi dan bukti yang ada maka Anastasya tidak bisa lagi berkelit dan akan ditindak secara hukum. Itu sangat bagus!
“Dokter, apakah sudah selesai memeriksa tangan putriku? Bagaimana hasil diagnosismu? Apakah tangannya patah dan masih bisa dipulihkan?” tangan Clarissa tak sabar. Dokter itupun melirik Clarissa dengan tatapan kesal dan menggelengkan kepala.
“Nyonya...apakah menurutmu sebagai dokter aku punya waktu luang untuk bermain-main? Jika keluargamu punya masalah yang harus diselesaikan, tolong jangan membuat drama yang melibatkan kami para petugas. Kami masih punya pekerjaan yang jauh lebih penting.”
Clarissa terkejut sejenak dan merasa bingung. “Apa maksudmu dokter? Bukankah anda sudah memeriksa tangan putriku yang patah? Bagaimana bisa anda mengatakan kami membuat sandiwara?”
Ucapan dokter itu membuat Clarissa dan Natasha tercengang. Bagaimana ini, bagaimana mungkin tidak terluka bukankah tangannya patah? Natasha pun mencoba menggerakkan tangannya dan kali ini tangannya bisa bergerak normal tanpa rasa sakit sedikitpun. “Bagaimana ini bisa terjadi? Tanganku sudah pulih, mama.”
“Benarkah? Tanganmu sudah bisa digerakkan lagi?” tanya Clarissa sambil menyentuh tangan Natasha dan gadis itu tidak merasa sakit sama sekali.
“Apa yang sebenarnya sudah kau lakukan? Pasti kau sengaja menggunakan trik untuk mempermalukan kami, iyakan?” kata Clarisa dengan marah menatap Anastasya.
Tapi gadis itu hanya menanggapi dengan dingin, “Aku benar-benar heran dengan kalian ini. Seharusnya aku yang bertanya pada kalian, sandiwara apa yang sedang kalian mainkan? Apakah sangat menyenangkan memanggil polisi untuk menangkapku dan melibatkan dokter yang sibuk menyelamatkan nyawa orang lain untuk datang kesini hanya membuang waktunya yang berharga? Hebat sekali kalian ya, apakah kalian ingin semua orang tahu tentang skandal yang terjadi dikeluarga kalian? Apa yang akan papa lakukan jika dia tahu tentang ini.”
Mendengar ucapan Anastasya sontak membuat Clarissa pucat, dia mendadak ketakutan. Tapi Natasha tidak peduli, dengan marah dia berteriak pada Anastasya, “Hei gadis desa udik! Aku tidak membuat laporan palsu ke polisi. Aku juga tidak mengganggu tugas dokter, tanganku memang patah. Kau jangan berpura-pura lagi Anastasya! Ini pasti trikmu iyakan?”
Clarissa menyadari untuk kesekian kalinya mereka kembali jatuh dalam jebakan Anastasya. Entah apa yang tadi dilakukannya pada Natasha hingga tangannya tidak bisa digerakkan. Gadis yang berpenampilan polos dan lugu itu ternyata tidak sepolos yang mereka perkirakan. Anastasya adalah seorang yang sangat licik! Sepasang ibu dan anak itu akhirnya diberi peringatan oleh petugas polisi yang masih berada disana melihat pertengkaran mereka.
Sama sekali tidak ada bukti yang bisa mereka berdua berikan pada polisi bahwa Anastasya telah mematahkan tangan Natasha. Selain itu tidak ada cctv yang terpasang di area tempat mereka berdiri sehingga mereka hanya bisa menekan emosi dan kemarahan karena tidak bisa melaporkan Anastasya.
Ibu dan anak itu pun akhirnya meminta maaf kepada petugas polisi. Ini adalah kekalahan mereka yang keempat kalinya dan untuk kesekian kalinya mereka masuk dalam jebakan Anastasya. Entah kenapa sepertinya gadis itu seakan tahu jalan pikiran mereka.
Setelah petugas polisi pergi, Natasha kembali menyerang Anastasya tapi melihat gerakan was-was Anastasya membuatnya hanya bisa tertegun dan berteriak marah, “Dasar gadis udik! Kau ****** tak tahu diri! Untuk apa kau berpura-pura lagi, ha? Kau hanya berani berbuat tapi tidak berani mengakui.”
Clarissa mulai berpikir jika mereka tidak boleh meremehkan Anastasya, gadis itu tidak bisa diprediksi dan seakan bisa membaca situasi bahkan mungkin dia bisa membaca pikiran mereka.
“Ha ha ha ha kau lucu sekali adikku. Aku bahkan tidak melakukan apa-apa! Lantas apa yang harus aku akui, ha? Atau mungkin justru kau yang harus mengakui sesuatu. Bukankah begitu adikku?” ujar Anastasya tertawa sambil menggelengkan kepala.
“Kurang ajar kau!”
“Ssstttt…..jangan berteriak-teriak. Aku hanya belajar darimu. Bukankah kau yang mengajariku?”
“Kau….” Natasha sudah tak bisa berkata-kata lagi. Melihat kemarahan putrinya sudah tak terbendung, Clarissa pun menghentikan putrinya, jika tidak maka keadaan akan makin memburuk. Natasha tidak akan menang berdebat dengan Anastasya. Wanita itu menarik putrinya pergi dan meninggalkan Anastasya sendirian diluar rumah. Ibu dan anak itu naik ke mobil dan pergi meninggalkan villa.
Tadinya Anastasya ingin mengerjakan beberapa hal setelah tiba dirumah tapi setelah melihat mereka meninggalkannya sendirian, diapun tersenyum. Memang itulah yang dia inginkan. Anastasya pun berjalan menuju gerbang utama.
Daerah itu agak sulit untuk mendapatkan taksi karena berada di komplek pemukiman mewah, jadi Anastasya memutuskan berjalan ke jalan besar. Stelah berjalan selama dua puluh menit akhirnya dia sampai dijalan besar.