
Dia berdiri dengan sabar di pinggir jalan besar, tiba-tiba sebuah mobil mewah warna hitam berhenti didepannya. Anastasya hanya mundur dua langkah dan mengacuhkan. Jendela dikursi belakang pun diturunkan dan memperlihatkan wajah Kenneth Archilles yang tersenyum tipis melihat Anastasya. Gadis itu agak ragu-ragu apakah harus menyapa duluan.
“Apa yang kau lakukan dipinggir jalan? Apa kau amnesia?” tanya Kenneth.
“A—aku tidak. Ah….aku sedang menunggung taksi.” kata Anastasya canggung.
“Naiklah. Aku akan mengantarmu.” ucap Kenneth dengan nada memerintah.
“Tidak usah. Aku naik taksi saja.” kata Anastasya menolak.
“Kenapa tidak mau? Apa kau takut aku akan melakukan sesuatu padamu?” ujar Kenneth sambil menatapnya instens. Pria itu menatapnya dengan pandangan ragu-ragu. Anastasya hanya diam sejenak lalu tanpa membuang waktu lagi dia pun membuka pintu dari sisi lain dan masuk kedalam mobil.
Setelah menutup pintu, Anastasya berkata “Tolong antar aku ke bank terdekat. Maaf sudah merepotkanmu. Terimakasih sudah menolongku.”
Kenneth tak menjawab, dia pura-pura membaca koran ditangannya seolah tak ada Anastasya disana.
“Kami hendak ke kantor, kalau begitu kamu akan diturunkan di perempatan tak jauh dari gedung kantor kami. Didaerah sana kamu dapat menemukan semua bank. Dari sana mudah bagimu untuk mendapatkan taksi untuk mengantarmu pulang nanti.” Asisten Kenneth yang bernama Rian Malik itupun menjawab. Dari spion dia dapat melihat Kenneth yang sibuk memperhatikan koran ditangannya.
Tidak pernah pria itu membaca koran didalam mobil. Saat Rian melihat jika Kenneth sengaja mengabaikan Anastasya, dia pun langsung paham situasinya. Apakah Kenneth merasa gugup? Biasanya kalau kita bersikap acuh pada seseorang yang kita sukai, itu berarti kebalikannya.
“Terimakasih Rian.” kata Anastasya tidak bisa menahan senyum sambil melirik pria disebelahnya.
Mendapat ucapan terimakasih dari seorang gadis cantik pasti selalu membuat siapapun akan senang dan tersenyum. Saat dia hendak tersenyum dan melirik ke kaca spion, dia melihat Kenneth menatapnya tajam seperti ingin membunuh.
Rian langsung ketakutan sehingga dahinya mengeluarkan keringat dingin. Dia diam tak berani mengatakan apa-apa lagi kepada Anastasya selama perjalanan. Sekitar tigapuluh menit kemudian mereka pun tiba di perempatan dan Rian memberhentikan mobil didepan gedung bank. Saat Anastasya sudah turun dan hendak mengucapkan terimakasih. Tiba-tiba Kenneth memerintah supir untuk melajukan mobil, “Cepat jalan!”
Ah….aneh sekali pria itu. Kenapa dia marah? Bukankah dia yang menawarkan untuk mengantarku?
Anastasya tidak peduli lagi, dia berjalan kedalam bank dan mengeluarkan kartu tambahan yang diberikan oleh Danendra. Beberapa menit kemudian, Anastasya keluar dari bank. Anastasya sudah memeriksa kartu utama Danendra dan dia terkejut karena kartu utama Danendra hanya memiliki uang tunai sebanyak dua ratus milyar saja.
Apakah keluarga Hilman tidak memiliki uang banyak? Apa Danendra punya kartu utama lainnya? Anastasya mengambil ponsel dari dalam tasnya lalu melakukan panggilan ke luar negeri. “Tolong kamu periksa semua aset dan rekening Danendra Hilman baik yang didalam negeri maupun diluar negeri.”
“Baik, Nona. Segera kudapatkan laporannya.”
Anastasya memiliki anak buah yang cekatan dan ahli dalam segala bidang, mereka selalu bekerja cepat dan tak butuh waktu lama untuk mendapatkan apa yang Anastasya butuhkan. Saat dia baru tiba didepan gerbang villa, dia sudah menerima email dari anak buahnya.
Dulu keluarga Sanari memiliki aset puluhan trilyun tetapi ditangan Danendra hanya enam ratus milyar rupiah saja. Bagaimana dia menghabiskan semuanya? Atau jangan-jangan semua aset berada atas nama Clarissa atau mungkin Natasha? Lalu Anastasya mengirimkan pesan kepada anak buahnya untuk memeriksa rekening Clarissa Sanari dan Natasha Odelia Hilman. Sesudah itu, Anastasya membunyikan bel pintu gerbang villa.
Saat Anastasya membunyikan bel dipintu gerbang, seorang pelayan segera melaporkan pada Natasha. “Dia sudah kembali!” kata Natasha senang menatap gadis yang duduk disampingnya. Gadis berambut panjang warna pirang itu bernama Emma Claresta Putri Jatmika.
Dia adalah sepupu Natasha yang menjuarai kompetisi salsa tingkat nasional. Emma seorang sosialita dan juga seorang model terkenal. Keluarga Jatmika adalah keluarga terpandang di Surabaya.
Keluarga Jatmika mempunyai hubungan baik dengan keluarga kaya Pradipa yang merupakan keluarga terkaya ke lima di Jakarta. Kedua keluarga itu mengatur perjodohan antara Emma dengan anak sulung keluarga Pradipa sejak mereka kecil.
Emma banyak mengandalkan lingkaran pergaulan sosialita kelas atasnya dalam segala hal sepanjang hidupnya. Saat Natasha kembali ke Jakarta dia segera meminta bantuan Emma.
“Ayo kita temui dia. Aku sudah tidak sabar memberinya pelajaran.” Emma berdiri dengan santai.
“Emma! Bagaimana caramu untuk memberinya pelajaran?” tanya Natasha.
“Tenang saja. Aku punya ide cemerlang. Orang jahat harus dihajar oleh anjing jahat. Aku sengaja membawa anjingku Roxy kesini. Aku akan perkenalkan Roxy padanya.” ujar Emma tenang. Emma memiliki seekor anjing pitbull raksasa bernama Roxy. Saat mendengar nama anjingnya sudah membuat Natasha ketakutan, dia tahu bagaimana buasnya anjing sepupunya itu.
“Pengawal! Bawa Roxy kesini sekarang!” perintah Emma pada pengawal yang berdiri dipintu masuk villa. Tak lama kemudia pengawal bersenjata lengkap itu membawa seekor anjing pittbull berukuran besar, air liur menetes dari lidahnya yang menjulur keluar. Taring anjing itu terlihat tajam.
“Kenapa kau jadi penakut begini? Tenang saja, kalau kau takut pada papamu nanti kau beritahu saja padanya kalau semua ini adalah ideku. Aku juga hanya akan memberinya sedikit pelajaran, tidak akan melukainya. Sudahlah jangan takut, lagipula anjingku tidak akan mencelakai orang tanpa perintahku.” kata Emma.
Natasha pun merasa tenang setelah mendengar dukungan Emma, diapun tidak merasa khawatir lagi. Biarkan saja anjing galak itu yang akan memberi pelajaran pada Anastasya si gadis desa yang menyebalkan itu!
Keduanya pun berjalan menuju pintu gerbang, namun saat anjing itu melihat seorang pelayan yang sedang menyiram tanaman, diapun langsung berlari dan menggigit kaki pelayan itu dengan ganas. Darah menetes dari kaki pelayan pria itu, dia berteriak kesakitan. Pelayan lain segera berlari ingin menolong, dengan membawa tongkat ingin memukul anjing itu.
“Hei berhenti! Jangan coba-coba kalian menyakiti anjing peliharaanku! Jika kalian menyakiti anjingku, aku akan menyuruh pengawalku untuk memutuskan kaki kalian!” ujar Emma dengan arogan. Para pelayan pun tak ada yang berani maju untuk membantu pelayan yang terluka itu, mereka hanya bisa saling menatap tak berdaya.
Sebulan lalu Emma datang bertamu dengan membawa Roxy, anjing itu telah menggigit tangan seorang pelayan hingga putus! Dan Emma bahkan tidak membayar ganti rugi pada pelayan itu.
Emma berjalan menghampiri anjingnya lalu menyentuhnya dan seketika anjing itu diam. Hanya dengan sentuhan Emma, anjing itu berubah dari ganas menjadi anjing penurut. Pelayan yang terluka itu akhirnya dibawa untuk diobati dan Emma membawa anjingnya menuju pintu gerbang villa.
Dia bisa melihat Anastasya yang berdiri diluar gerbang, tubuhnya tinggi dengan lekuk tubuh yang indah dan pinggang ramping. Meskipun Emma tidak bisa melihat wajahnya tapi dia bisa melihat keunikan Anastasya. Tapi Emma tidak peduli, dia disana hanya ingin memberi pelajaran pada Anastasya.