
Clarissa yang sebenarnya berencana untuk pergi mencari Maharani keesokan harinya untuk mengunjungi Natasha pun langsung memasang wajah cemberut setelah mendengar ucapan suaminya.
“Suamiku, tapi dia adalah….”
“Diam! Ada beberapa hal yang pantas diucapkan dan ada juga yang tidak pantas untuk diucapkan! Menurutku otakmu itu sudah rusak parah! Beberapa hari kedepan aku akan tidur diruang baca, kau tidak kuijinkan pergi kemanapun. Jadi jangan coba-coba keluyuran sembarangan. Aku akan meminta seseorang untuk mengawasimu agar kau tidak mencoba untuk mencari anak sialan tak berguna itu!”
Clarissa mengepalkan kedua tangannya dan mencoba menahan emosinnya. Dia pun mulai berpikir untuk segera mengambil alih Hilman Corp karena semakin hari dia semakin tidak tahan lagi dengan sikap suaminya. Anastasya yang memandang wajah Clarissa yang tampak geram karena menahan amarahnya pun mencibir dalam hatinya. Clarissa benar-benar pandai menyembunyikan emosinya.
Andai saja Natasha bisa sesabar Clarissa, ada kemungkinan Anastasya tidak akan bisa mengusir Natasha dengan mudah. “Papa, kapan kau pergi?” tanya Anastasya dengan suara lembut seolah sengaja mendesak pria itu.
Danendra pun langsung pulih dari amarahnya dan berkata, “Supir sudah menunggu, kau pergilah sekarang. Papa tidak akan emngantarmu keluar tapi kau harus tetap hati-hati ya. Jika memang benar-benar tidak bisa...maka cepatlah pulang. Papa tidak akan menyalahkanmu.”
Sebenarnya dia juga tidak menginginkan Anastasya untuk naik keatas ranjang seorang pria. Jika Kenneth sampai terjerat dengan rencananya kali ini dan berita ini tersebar keluar maka dia akan kehilangan seorang putri yang luar biasa. Tapi dia sudah tidak punya pilihan lagi, perusahaannya saat ini benar-benar dalam masalah besar dan dia harus melakukan ini.
Anastasya beranjak pergi sambil melambaikan tangannya, perlahan sosoknya hilang di kegelapan malam.
Danendra yang melihat punggung Anastasya yang berjalan keluar pun tiba-tiba merasakan seperti dia telah kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Tapi dengan cepat dia menenangkan hatinya dan tertawa kecil sambil mencela dirinya sendiri. Apakah dengan bertambahnya usia dia malah semakin memiliki perasaan emosional?
Ada pepatah yang mengatakan bahwa bahaya tidak mungkin bisa dihadapi tanpa mendapatkan resiko. Dan demi menyelamatkan perusahaannya maka mau tak mau dia harus mengambil keputusan ini. Dan dia bersyukur karena putrinya Anastasya adalah seorang anak yang baik dan tidak menyalahkannya. Lalu Danendra pun berjalan naik kelantai atas dengan puas hati dan duduk diruang bacanya sambil menunggu kabar baik.
Saat Anastasya pergi keluar, Clarissa berada dikamarnya di lantai atas. Dia pun segera menyelidiki apa yang hendak dilakukan oleh Anastasya dengan keluar dimalam hari. Dia pun menghubungi kekasih gelapnya Xavier dan mengetahui semuanya. “Wah, benar-benar sulit dipercaya. Kupikir Danendra menyayanginya tapi tampaknya dia hanya menganggap Anastasya itu seperti bidak catur yang dapat dia gunakan untuk melompat dan meraih keinginannya.” ujar Clarissa tertawa lucu.
“Kau masih bisa tertawa? Bisa-bisanya kau masih sempat berpikir seperti itu! Apa kau tidak menganggap si ****** itu sudah menghalangi jalanmu? Kalau sampai dia benar-benar naik keatas ranjang Kenneth maka itu akan berdampak buruk pada kita. Kita akan menghadapi semakin banyak rintangan dan juga kemungkinan besar kita berdua akan….” Xavier bicara dengan nada cemas.
“Tenang saja! Itu semua tidak akan terjadi. Meskipun Danendra sangat cerdik tapi dia itu juga bodoh! Dia bahkan tidak menyelidiki seperti apa Kenneth itu sebenarnya. Status yang dimiliki Kenneth sangat cukup baginya untuk bermain dengan semua wanita tapi apakah kau pernah mendengar skandal yang melibatkannya?”
“Tidak. Aku tidak pernah melihatnya terlibat skandal.” jawab Xavier.
“Nah itu dia! Kenneth bermain sangat bersih dan tidak peduli secantik apapun Anastasya, dia tidak akan pernah bermain dengan wanita yang menyerahkan dirinya begitu saja. Bahkan saat dipesawat waktu itu sikapnya pada Anastasya pun sangat dingin.ujar Clarissa sambil memegang telepon diantara telinga dan bahunya sambil memainkan kukur jarinya.
“Tetapi…..” Xavier masih merasa cemas. “Tapi tadi sore kau mengatakan padaku kalau si ****** kecil itu telah bekerjasama dengan Kenneth sehingga membuat Natasha diusir keluar kota oleh danendra untuk intropeksi diri? Jangan-jangan Kenneth memang tertarik pada si ****** itu.”
“Baiklah kalau kau memang seyakin itu.”
“Sudah kubilang, kau tidak perlu mengkhawatirkan masalah ini lagi. Secepatnya kau harus mencari pria yang cocok, jika sampai Kenenth mengingat bantuan yang pernah diberikan oleh Anastasya dan mengabaikan masalah ini maka kita masih punya cara lain untuk merusak reputasinya.”
“Ok aku mengerti. Akan segera kucari laki-laki yang cocok untuk itu.”
Setelah sambungan telepon berakhir, suasana hati Clarissa pun berubah menjadi lebih tenang dan lega. Malam pun bergulir semakin larut dan kehidupan malam di kota semakin ramai. Sementara itu diruang dansa hotel Grand International tampak sekelompok pejabat sedang berkumpul mengelilingi Kenneth untuk makan dan minum. Semua orang tersenyum dan menyanjungnya karena mereka berharap bisa mendapatkan kerjasama di proyek baru dari Archilles Corp.
Kenneth duduk dengan menyilangkan kakinya yang panjang, dia mengayunkan gelas berisi anggur merah, dia terlihat duduk santai dan acuh. Sejak awal perjamuan dia hanya diam dan sibuk dengan pikirannya sendiri. Cahaya lampu yang menyinari wajahnya membuatnya semakin tampan seperti dewa yunani. Meskipun dia hanya diam tanpa mengatakan sepatah katapun namun dia tetap terlihat seperti bintang kejora dilangit yang membuatnya tidak mudah diabaikan oleh semua orang.
Ketika orang-orang itu melihat ekspresi Kenneth, mereka pun mulai berbisik-bisik. “Apa yang sebenarnya terjadi dengan Kenneth hari ini? Sejak tadi dia hanya diam tak mengatakan apapun.Apakah dia merasa tidak senang dengan perjamuan ini? Apakah ada yang membuatnya tidak puas?”
“Apa kau tidak tahu kalau dia memang tidak suka banyak bicara. Mungkin dia sedang dalam suasana hati yang buruk hari ini.”
“Eh, apakah orang yang aku maksud sudah diantarkan?” ujar seorang tamu.
“Aku baru saja dihubungi, katanya dia sudah ada didepan hotel.”
“Tapi---apa menurutmu ini tidak akan jadi masalah? Beberapa orang juga memberikan ‘hadiah’ pada Tuan Muda Archilles sebelumnya tapi akhirnya mereka dimaki.”
“Jangan khawatir, kali ini Hilman Corp mengirimkan putrinya sendiri kesini sebagai hadiah.”
“Natasha? Meskipun dia tampak seperti gadis baik-baik dan terkenal dikalangan sosialita tapi tidak mungkin dia bisa membuat Tuan Muda Archilles akan tertarik padanya.”
“Bukan! Ini bukan Natasha tapi yang satunya lagi….aku sudah melihat fotonya dan aku sangat yakin kali ini akan berhasil.”
“Coba tunjukkan padaku foto-fotonya! Biarkan lelaki tua yang sudah berpengalaman ini melihatnya sebentar. Aku ingin tahu wanita seperti apa yang mampu membuat Kenneth tertarik.”
Pria itu baru saja hendak mengambil ponsel dari sakunya ketika Kenneth tiba-tiba bangkit berdiri. Beberapa orang tampak terkejut dan tidak berani berbisik-bisik lagi. Suasana di perjamuan itupun berubah seketika.