THE PROMISE

THE PROMISE
BAB 87. CEPAT CABUT JARUMNYA!!



“Kenneth! Nona Anastasya pun sudah pingsan jadi lebih baik kita tidak usah menaruh terlalu banyak harapan padanya kalau dia bisa menyembuhkan orang ini. Ayo cepat cabut saja jarum-jarum itu, melihatnya saja aku merasa tidak tega…..” ucap Keenan yang berada disebelah Kenneth.


Wajah Kenneth tetap tenang dan tak berubah, “Tidak boleh!”


“Kenneth!” teriak Diego semakin marah. “Jika kau masih tidak mau melepaskan tanganku mau tak mau aku akan memukulmu. Daripada nanti kau emosi malak merusak rencana.”


Tatapan mata Kenneth menggelap lalu dia berkata, “Aku tidak akan melepaskannya meskipun kau bersikeras untuk mencabut jarum-jarum itu. Langkahi dulu mayatku jika kau mau melakukan itu.”


“Apa? Kau serius?” tanya Diego tak percaya dengan ucapan Kenneth.


“Silahkan coba !”


Diego pun menggertakkan giginya, “Kalau begitu jangan salahkan aku jika aku memukulmu.”


Begitu dia selesai bicara, Diego langsung mengangkat tangannya dan mengayunkan tinju ke wajah kenneth. Gerakannya cepat dan tinjunya berangin karena Kenneth membungkuk dengan cepat menghindari tinju Diego. Lalu Diego kembali mengambil kesempatan itu menarik tangan kananya yang mencengkeram Kenneth. Dia mendorongnya menjauh lalu berbalik dan berlari kesamping ranjang rumah sakit itu.


Tepat ketika tangan Diego hampir menyentuh jarum dikepala pria itu, tangan Kenneth pun terulur dan meraih kerah baju Diego dengan erat lalu menariknya menjauh dari sisi tempat tidur. Kedua pria itu kembali berkelahi saling meninju dan memukul. Perkelahian antar teman itu tidak bisa ditentukan siapa menang dan siapa kalah untuk sementara ini karena masing-masing dari mereka mengetahui kebiasaan meninju temannya sendiri.


Keenan yang tidak pandai berkelahi hanya bisa berdiri disamping memandang kedua temannya dengan cemas. “Hei, kenapa kalian benar-benar berkelahi? Berhentilah berkelahi!”


Tetapi kenneth dan Diego sama sekali tak mendengarkan ucapannya. Sebaliknya Diego tiba-tiba menyadari kalau Keenan adalah penolongnya. Dia menghindari tinju Kenneth lalu berteriak, “Keenan! Cepat cabut semua jarumnya!”


“Ha? Aku…..” Keenan tampak ragu-ragu.


“Cepat! Cepat cabut!” teriak Diego lagi.


Sambil menggertakkan giginya, Keenan melangkah menghampiri pria yang ada diatas ranjang rumah sakit itu. Dengan terburu-buru Kenneth mengejar Keenan untuk menghentikannya tetapi Diego kembali meninjunya. Kenneth berhasil menghindar tetapi dalam hitungan detik Keenan sudah berada disamping ranjang pria itu. “Maaf ya Nona Anastasya, aku benar-benar tidak mampu mengambil resiko ini--” gumam Keenan lalu dia mengulurkan tangannya untuk mencabut jarum akupunktur dikepala pria itu.


Tetapi saat itu juga tampak sekelebat bayangan putih melayang dan memeluk pinggang Keenan dan menyeretnya secara paksa menjauhi ranjang pasien itu. Keenan menoleh dan melihat dibelakangnya adalah Irene yang menatapnya sambil berkata, “Maaf Tuan Muda Pradipa aku tidak bisa membiarkanmu menyentuh jarum itu---”


“Sial--!” maki Keenan, “Kau membela orang luar? Lepaskan aku! Tidak boleh ada yang terjadi pada orang itu! Memangnya kau kira jarum-jarum dikepala orang itu tidak terlihat menakutkan? Cepat lepaskan aku!”


Irene semakin memeluk Keenan dengan erat dan menolak untuk melepaskannya. Diego sama sekali tidak menduga Irene akan mengkhianatinya. Dengan penuh amarah dia bertanya, “Irene! Kau tahu apa yang sedang kau lakukan?”


Irene sedang memeluk Keenan dengan erat, “Maaf Tuan Muda Satoshi, tolong percaya padaku sekali ini saja. Aku rasa metode pengobatan akupunktur ini patut dicoba!”


“Apa kau tahu berapa harga dari praktek percobaan ini? Orang ini sangat penting bagi kami kalau hanya menusukkan jarum ditubuhnya saja tidak masalah tapi ini menusuk jarum dikepalanya!”


“Aku---tapi---” Irene tampak ragu-ragu.


Beberapa orang itupun langsung menghentikan kegiatan mereka dan melihat ke arah pria itu. Pria itu membuka mata birunya dan bertanya dalam bahasa Inggris dengan bingung, “Dimana aku?”


Suara pria itu terdengar jelas dan matanya tampak jernih seperti orang normal. Dia benar-benar jauh berbeda dengan sebelumnya dan sebelumnya ucapannya juga tidak jelas.


Semua yang ada diruangan itu tercengang. Pria ini…..apakah dia sudah sadar? Tiba-tiba Irene mengabaikan Keenan, dia melepaskan pelukannya ditubuh Keenan dan membungkuk kearah ranjang pasien, “Bagaimana perasaanmu sekarang?”


Dengan bersusah payah pria itu mencoba menjawab, “Aku merasa…..seluruh tubuhku sakit. Dimana ini?” Aku ada dimana sekarang?”


Irene tampak sangat gembira lalu dia berkata, “Kau bisa menjawab kata-kataku? Apa—apakah kau sudah normal?”


“Tentu saja aku normal. Apa-apaan kau ini? Mengapa aku ada disini, bukankah seharusnya aku berada dilaut?” tanya pria itu,


Lalu Irene menoleh ke Diego dengan gembira lalu dia bicara dalam bahasa Indonesia, “Diego sepertinya pikiran pria ini sudah normal, dia sudah sembuh! Meskipun aku tidak yakin apakah fungsi tubuh lainnya juga normal tapi setidaknya sudah tidak ada masalah jika kau menanyainya.”


Mata Diego membelalak kaget dibalik kacamata berbingkai emasnya. ‘Ba—bagaimana mungkin bisa begini?”


Keenan berdiri tidak jauh dari ranjang dan dia merasa seolah-olah seperti sedang bermimpi. Disisi lain Kenneth bertanya pada Diego dengan suara dingin yang tangannya masih mencengkeran tangan Kenneth, “Bisakah kau melepaskan tanganku sekarang?”


Diego pun segera melepaskan tangannya, dia menutupi hidungnya lalu terbatuk karena merasa malu. Siapa yang menyangka seorang gadis dari desa dengan hanya menusukkan beberapa jarum saja pada seorang pasien ternyata bisa menyembuhkan pasien tersebut.


Jika dibandingkan dengan dokter Irene yang merupakan seorang dokter terkenal skala internasional, dia jauh lebih hebat berkali-kali dari Anastasya! Tetapi Anastasya tadi malah mengatakan kalau dia hanya memahami sedikit ilmu medis? Sudah jelas ini bukan memahami sedikit lagi, tapi dia benar-benar paham soal medis!


Sedangkan Anastasya yang masih terbaring diranjang menggerakkan dua jarinya lalu membuka matanya dengan lemah. Begitu Anastasya membuka matanya, dia melihat bangsal itu kacau balau.


Vas bunga pecah didekat pintu, TV juga oleng seolah-olah baru saja terjadi gempa bumi ditempat itu. Dia duduk dengan bingung, “Apa yang terjadi barusan?”


Kenneth melangkah kearahnya tanpa menjawab pertanyaan Anastasya. Dia malah bertanya “Bagaimana keadaannya?”


Anastasya menggelengkan kepala dan baru saja ingin bicara ketika dia mendengar si pria yang berada diranjang sebelah berbicara dalam bahasa Inggris, “Ternyata kalian!”


Diego segera melangkah maju dan menyayat leher pria itu dengan pisau. Pria itupun langsung pingsan. Anastasya yang melihat kejadian itu terkejut seolah baru tersadar kembali, “Apakah dia sudah sadar?”


“Ya” jawab Kenneth mengangguk lalu melirik Diego, “Terimakasih berkat bantuanmu kita tidak perlu merawatnya selama satu tahun.”


Diego merasa tidak nyaman dan memalingkan wajahnya, air mukanya tampak sangat canggung. Lalu dia mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan menghubungi seseorang, “Kalian naiklah keatas dan bawa orang ini pulang.”