
Natasha menganggukkan kepala, “Iya, Ma. Dia juga membawa Tuan Muda Archilles ke tim kru untuk mempermalukanku didepan semua orang. Aku---aku benar-benar sudah tidak tahan lagi! Mama…...mama harus membantuku membuat perhitungan dengannya! Tidak boleh dibiarkan gadis udik itu berbuat sesuka hatinya, lama-lama dia akan makin ngelunjak dan menginjak-injak kepala putrimu ini! Apakah mama yang dulu diinjak-injak kepalanya oleh mama gadis udik itu akan membiarkan putrinya juga melakukan hal yang sama pada putrimu ini?”
“Diam!” bentak Clarissa. Dia menggebrak meja sekuat tenaga dan penuh amarah. “Blam…..” dia membanting barang yang ada diatas meja. Jika membahas tentang Adelia maka emosinya selalu terpancing dan dia tidak bisa mengendalikan diri lagi. Matanya memerah dan sikap lemah lembutnya sebagai istri dan ibu pun lenyap Sekujur tubuhnya gemetar karena marah.
Saat Natasha menyebut nama Adelia, dia tahu bahwa Clarissa pasti akan kehilangan kendali tapi dia tidak mengira kemarahan ibunya akan separah ini. Natasha bahkan tampak ketakutan sehingga bahunya bergetar tapi melihat reaksi ibunya itu membuatnya sangat puas. Clarissa tidak terlalu lama terbuai dalam ketenangan selama bertahun-tahun, hanya dengan merangsangnya sedikit saja baru bisa membuat ibunya sadar kembali.
“Dimana Anastasya sekarang?” tanya Clarissa dengan suara serak. Dia merasa kalau ucapan putrinya ada benarnya juga, mereka tidak boleh mentolerir Anastasya lebih lama lagi.
Adelia dulu menginjak-injaknya dan bahkan setelah dia matipun Clarissa merasa masih sering dibandingkan dengan Adelia oleh para sosialita dan kalangan atas dibalik punggungnya. Adelia sudah lama mati dan Clarissa tidak ingin melihat putrinya juga diganggu oleh putri Adelia begitu saja. Tidak! Dia tidak akan membiarkan itu terjadi!
“Tadi dia masuk ke modil Kenneth dan aku tidak tahu ada dimana dia sekarang.” jawab Natasha.
Baru saja Natasha selesai bicara, seorang pelayan mengetuk pintu dan masuk melapor, “Nyonya, Nona muda, bapak sudah pulang dan bapak meminta kalian berdua segera turun kebawah.”
Saat Natasha mendengar ucapan pelayan itu seluruh tubuhnya langsung gemetar ketakutan. Tanpa disadarinya dia meremas pakaian Clarissa, “Ma, bagaimana ini? Apa yang harus kita lakukan? Papa pasti marah dan membuat perhitungan denganku!”
Clarissa tidak terlalu mempedulikan kepulangan Danendra suaminya, jadi dia tenang dan menjawab dengan enteng, “Kebetulan sekali papamu sudah pulang jadi aku bisa segera memberitahunya tentang Anastasya yang sudah membuatmu menderita. Papamu tidak akan terima perbuatannya. Papamu lebih menyayangimu dibandingkan dengan Anastasya. Kau adalah putri kandungnya, darah dagingnya yang dirawatnya sejak kecil.” Setelah Clarissa selesai bicara, dia melangkah keluar, tiba-tiba Natasha merasa panik.
Tadi dia sangat ketakutan dan melimpahkan semua masalah pada Anastasya dengan sengaja dan menyembunyikan dari Clarissa perihal kerjasama dengan Archilles Corp yang telah dibatalkan. Sekarang Danendra pulang, bagaimana nanti dia akan menjelaskannya? Keringat dingin mengalir deras dan si pelayan melihat Natasha yang tidak ikut turun pun segera mendesaknya untuk turun.
“Nona muda, silahkan ikut turun kebawah. Bapak juga tadi menyuruhmu turun.”
“Aku tidak tuli! Kau menyebalkan sekali!” bentak Natasha memelototi pelayan itu lalu dengan sengaja menabrak bahunya lalu turun kebawah.
Dia sangat yakin jika ibunya pasti akan membantunya menyelesaikan masalah ini, dia juga percaya bahwa Danendra tidak akan membuang putri kandungnya hanya gara-gara sebuah kontrak kerjasama. Natasha merasa tenang dan berjalan turun kebawah menemui yang lainnya.
Diruang tamu sudah ada Anastasya, dia melihat Danendra yang masuk kerumah dengan tergesa-gesa dan penuh emosi. Wajahnya tampak suram seperti baru saja keluar dari kekelaman neraka.
Anastasya langsung menduga jika Danendra pasti sudah tahu tentang pembatalan kerjasama dengan Archilles Corp. Dia pura-pura tidak tahu dan menunjukkan wajah cemas saat bertanya pada ayahnya, “Papa ada apa? Kenapa papa terlihat cemas begitu? Apa yang terjadi?”
Danendra mengeryitkan kening, “Bukan urusanmu. Apa Natasha sudah pulang? Cepat panggil dia turun bersama dengan mamanya!”
“Kau masih berani tanya kenapa aku sudah pulang? Kau tanyakan saja pada putri kesayanganmu itu apa yang telah dia lakukan sehingga membuat Kenneth marah dan membatalkan kerjasama dengan perusahaan kita secara langsung!”
Clarissa sontak terkejut karena dia tidak tahu masalah ini. Dia menatap Natasha dengan bingung dan mendapati putrinya itu terlihat ketakutan dan memundurkan langkahnya, “Aku---aku tidak tahu papa. Apakah kau ada salah paham dengan mereka?”
“Salah paham kau bilang? Saat aku pulang kerja aku menerima telepon dari perusahaan Archilles Corp dan menyampaikan padaku bahwa kau telah menyinggung Tuan Muda Archilles. Itulah alasannya kenapa mereka membatalkan semua kerjasama dengan perusahaan kita! Katakan padaku! Apa yang sudah kau lakukan?”
Semakin terkejutlah Clarissa setelah mendengar semua ucapan suaminya, dia mengeryitkan kening dan bertanya pada Natasha. “Tasha apa yang sebenarnya telah terjadi? Apa kau benar-benar menyinggung Kenneth?”
“Tidak! Itu semua bohong! Aku tidak menyinggungnya sama sekali.” tanpa sadar Natasha menyangkal semuanya karena merasa takut.
Tadi dia sempat merasa tenang tapi saat dia melihat ekspresi Danendra yang tampak garang dan marah, mau tidak mau dia bergidik ngeri dan merasa takut.
“Kau tidak menyinggungnya?” tanya Danendra dengan suara pelan tapi tegas. Dia menghela napas dalam-dalam, “Ceritakan padaku apa yang telah terjadi.”
Clarissa tidak berpikir terlalu jauh, dia hanya mengira jika Anastasya sengaja membuat perselisihan, “Tidak apa-apa Tasha, jelaskan saja pada papamu. Apakah Anastasya sengaja menyakitimu?”
Natasha tidak berani bicara dan hanya menundukkan kepalanya. Tadinya dia berencana menjebak Anastasya tapi kebohongan itu terlalu mudah terungkap sekarang, dia tidak berani lagi mengatakan apapun. Melihat Danendra seperti itu, Clarissa mengira Natasha takut pada ayahnya jadi dia sengaja mengalihkan pandangannya ke Danendra.
“Suamiku aku tahu kau merasa telah berhutang budi pada Anastasya jadi kau selalu membelanya. Tapi kurasa untuk masalah ini tidak ada hubungannya dengan Tasha,tadi saat dia sampai dirumah dia menangis dan mengadu padaku tentang Anastasya yang telah membawa Kenneth ke tim kru film dan merebut posisi pemeran utama wanitanya. Mengenai masalah perusahaan kurasa pasti Anastasya mengatakan sesuatu pada Kenneth.”
Clarissa menatap Anastasya dengan dingin, “Anastasya! Aku tak menyangka diusiamu yang masih muda kau sudah sangat kejam. Kalau kau membenci adikmu dan ingin merebut posisi pemeran utama di film itu, tidak jadi maslaah. Tapi kau bahkan tega membuat kerjasama perusahan keluarga hancur. Aku yakin kau sudah merencanakan ini semua dengan baik. Apa yang kau inginkan, ha?”
Danendra yang sangat marah merasakan kepalanya berdenyut tapi dia sama sekali tidak percaya jika Anastasya yang selalu bersikap baik, sopan dan lembut mampu melakukan semua itu.
Dengan sekuat tenaga dia berusaha menahan emosinya dan bertanya pada Anastasya. “Apakah masalah ini ada hubungannya denganmu?”
Anastasya yang balas menatap dingin pada Clarissa berkata dengan tenang, “Papa, aku tidak tahu mengapa tante tidak menyukaiku bahkan mencurigaiku dengan hal semacam ini. Tadinya aku tidak ingin membicarakan masalah ini tapi karena tante sudah menuduhku dan mencurigaiku dan memfitnah maka aku terpaksa akan mengatakan semuanya.”