
“Aneh! Pasti ada yang disembunyikannya didalam.” ujar Natasha.
Anastasya meletakkan piring buah diatas nakas lalu mengambil komputernya dan menghapus penelusuran. Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal, dia pun lalu mematikan komputernya dan pergi menemui Danendra diruang baca. Saat Natasha melihat Anastasya pergi keruang baca untuk menemui ayahnya, dia pun langsung masuk kedalam kamar Anastasya.
Dia mulai mencari-cari disetiap sudut kamar itu tapi tidak mendapatkan sesuatu yang mencurigakan. “Apa yang kau sembunyikan dikamar ini, ha? Pasti ada sesuatu yang penting disini tapi dimana dia menyimpannya?” Natasha mulai memandangi seluruh kamar yang rapi dan hanya melihat laptop Anastasya diatas ranjang.
Tidak ada hal yang aneh dikamar itu, lalu tatapannya terarah pada jaket milik Anastasya yang tersampir diatas kursi dekat meja rias. Dia pun tersenyum lalu mengambil jaket itu dan mulai memeriksa. Saat tangannya masuk kedalam saku jaket itu, dia menemukan sesuatu lalu menariknya keluar. Matanya terbelalak terkejut melihat benda yang dia temukan.
“Kartu nama Tuan Muda Archilles? Jadi Anastasya memiliki kartu nama ini dan tidak memberikannya pada papa? Dasar ****** kecil! Sialan kau Anastasya!” Natasha menatap kartu nama bertinta emas itu dengan senyum smirk.
“Aku akan memberitahu papa dan menyerahkan kartu nama ini padanya. Papa pasti akan senang sekali….tunggu…...tunggu….jika aku memberikan kartu nama ini pada papa maka dia akan memarahiku karena sudah masuk ke kamar Anastasya dan mencuri kartu nama ini.
Hmm…..aha….lebih baik kusimpan saja kartu nama ini. Ini akan menjadi jalanku untuk sering bertemu dengan Kenneth. Ha ha ha ha ha ternyata mencuri bukan hal buruk ya? Aku mendapatkan kartu nama Kenneth!”
Natasha meletakkan jaket diatas kursi kembali lalu merapikan kamar itu agar terlihat seperti semula. Dia memasukkan kartu nama Kennteh kedalam sakunya, setelah dia yakin semua seperti semula dan tidak ada barang yang salah tempat, dia pun keluar dari kamar Anastasya dengan hati yang bahagia.
...*****...
Anastasya membuka pintu ruang baca, begitu dia melangkah masuk dan menutup pintu dibelakanganya, Danendra tersenyum dan mempersilahkannya duduk. Danendra menyodorkan beberapa kontrak kepada Anastasya.
“Ini adalah kontrak kerjamu sebagai Brand Ambassador Cafe Moonlight. Aku sudah membaca isi kontrak dan kau bisa membacanya. Jika ada yang tidak sesuai kita bisa diskusikan dengan Tuan Kenneth. Tapi kalau menurutmu isi kontrak itu tidak ada masalah maka kau bisa langsung tandatangani.”
Danendra bicara tegas tanpa memberikan kesempatan pada Anastasya untuk mengatakn sepatah katapun. Anastasya mengambil kontrak dan membacanya. Didalam kontrak tertulis bayaran yang akan diterimanya, jumlahnya sangat tinggi melebihi bayaran yang diberikan pada aktris terkenal.
Sebagai Brand Ambassador Cafe Moonlight, dia akan mendapatkan berbagai kemudahan dan bisa menikmati semua fasilitas yang berada dibawah Archilles Group selama sepuluh tahun secara gratis.
Dengan jumlah bayaran dan fasilitas yang diterima selama sepuluh tahun saja sudah mampu membuat siapapun bersemangat. Tapi Anastasya tidak tertarik untuk jadi Brand Ambassador, ini bukan yang direncanakannya.
Kepulangannya hanya untuk mencari kebenaran kematian ibunya. Tapi demi mendukung tujuannya, maka mau tak mau dia harus menyetujui kontrak dan pura-pura bahagia.
“Aku tidak menemukan masalah sedikitpun di kontrak ini. Aku akan tandatangani saja.” kata Anastasya tersenyum manis.
“Langsung tandatangani kalau begitu. Besok pagi aku akan menyerahkan langsung kontrak ini ke Archilles Corp. Kau akan pergi kesana bersamaku, kau masih baru dikota ini dan aku khawatir kau bepergian sendirian.”
Didalam hatinya Anastasya mencibir, sejak kapan pria itu menjadi sebaik ini? Ah….sudah pasti dia punya tujuan tersendiri. Pasti dia ingin menggunakan kesempatan ini untuk bisa masuk ke gedung Archilles Corp dan bertemu Kenneth.
‘Uh….laki-laki ini sungguh menyebalkan. Yang ada diotaknya hanya memanfaatkan setiap peluang yang ada. Benar-benar tidak tahu malu!” gumamnya dalam hati.
“Terimakasih papa. Maaf merepotkanmu. Aku memang belum paham jalan-jalan dikota ini dan agak takut untuk bepergian seorang diri.”
Danendra sangat gembira memiliki putri yang penurut dan dapat diatur. Dia merasa beruntung sudah mendapatkan harta karun berharga. Apalagi kini dia yang akan mengatur semua kerjasama Anastasya dengan sponsor. Dia bisa menikmati begitu banyak keuntungan.
Dia pun mengambil kembali kontrak dan memasukkan ke tas kerjanya. “Kita akan pergi ke Archilles Corp jam sepuluh pagi tapi kau harus menemuiku jam delapan pagi. Aku akan membawamu kesuatu tempat untuk membantumu berdandan.
“Baiklah papa.”
“Kembalilah kekamarmu. Sudah larut malam dan waktunya istirahat agar kau bisa bangun awal besok pagi.” kata Danendra.
Tapi Anastasya punya rencana lain malam ini, dengan cepat dia berkata, “Papa, bolehkah aku meminjam ruang bacamu untuk membaca buku? Aku belum mengantuk dan tidak ada yang bisa kulakukan dikamarku.”
Meskipun sedikit ragu tapi Danendra pun langsung menggangguk. “Baiklah kau boleh menggunakan ruang baca tapi kau hanya boleh mencari buku di rak sebelah kanan, jangan menyentuh yang lain.”
“Baik Papa. Terimakasih.” ujar Anastasya patuh. Setelah Danendra sudah pergi, Anastasya bangkit dan menutup pintu ruang baca. Dia mengedarkan pandangan keseluruh ruang baca itu. Semua perabotan diruangan itu terbuat dari kayu rosewood mahal dan terlihat antik.
Perlahan Anastasya berjalan menghampiri rak buku dan tangannya menyentuh inci demi inci. Pasti dulu mama juga sering menghabiskan waktu diruangan inu kan? Sedikit demi sedikit ingatannya kembali ke masa lalu. Meskipun waktu itu dia masih kecil tapi dia masih ingat sebagian kejadian dimasa kecilnya.
Anastasya pernah menyelidiki mengenai ibunya. Ibunya seorang yang peduli pada kesehatannya dan rutin memeriksakan diri dua kali setahun. Dia menemukan bahwa penyebab kematian ibunya adalah depresi dan bunuh diri.
Tetapi dalam laporan kesehatannya dari rumah sakit, sama sekali tidak ada indikasi yang menunjukkan sesuatu yang janggal berhubungan dengan kesehatan mentalnya.
Lalu waktu itu Anastasya pun bertanya pada dokter yang melakukan pemeriksaan kesehatan pada ibunya. Dokter itu mengenal Adelia Sanari dengan baik dan mengatakan jika ibunya Anastasya tidak menderita depresi dan kesehatan mentalnya sangat bagus saat terakhir kali datang kerumah sakit untuk pemeriksaan kesehatan. Dan itu satu minggu sebelum kematiannya.
Karena itulah Anastasya sangat yakin jika ibunya tidak bunuh diri tetapi dibunuh!
Anastasya memejamkan matanya sejenak kemudian saat matanya terbuka kembali tatapan matanya berubah dingin dan tajam. Dia memindai rak-rak buku itu dengan cermat dan teliti. Dia mulai memeriksa mulai dari bagian luar hingga kedalam rak buku.
Tetapi dia tidak menemukan apapun yang terhubung dengan ibunya, bahkan tidak sebuah fotopun! Tapi dia bertekad akan menemukan kebenarannya!
Biasanya jika seorang istri meninggal maka suami pasti akan menyimpan beberapa foto mantan istrinya. Tetapi diruang baca itu tidak ada satu foto pun dia temukan bahkan tidak ada barang-barang yang berhubungan dengan ibunya.
Anastasya pun berpikir mungkin Danendra sengaja menyingkirkan semua benda yang berhubungan dengan mantan istrinya agar Clarissa tidak cemburu.
Atau mungkin Danendra memang tidak pernah mempunyai peraasaan pada ibunya atau bisa saja pria itu malah membencinya. Bisa saja Danendra menyingkirkan foto dan barang-barang mantan istrinya karena takut melihatnya. Tetapi apapun alasannya, semua itu sudah menunjukkan bahwa kematian ibunya berhubungan erat dengan Danendra atau apakah dia pembunuhnya?