THE PROMISE

THE PROMISE
BAB 24. KOPI PAHIT



Anastasya mengenakan dress warna putih selutut dengan dada terbuka dan berlengan panjang. Model dressnya menonjolkan bagian dadanya yang padat dan berisi. Pinggang rampingnya terbentuk sempurna dengan dress yang pas memperlihatkan lekukan tubuhnya.


Mengenakan sepatu hak tinggi memperlihatkan kaki jenjang nan mulus miliknya. Gadis itu terlihat sangat manis dan bersikap baik. Siapapun yang memandang wajah polosnya, akan menilai betapa lugu dan polosnya gadis itu.


Tapi hanya Anastasya yang tahu dibalik wajah polos dan lembutnya, dia bisa diibaratkan bagaikan seekor serigala yang siap menerkam mangsanya saat sang mangsa lengah. Tapi sekarang ini dia memakai topeng sebagai gadis desa yang polos dan tak tahu apa-apa. Seorang gadis baik dan patuh. ‘Malam ini aku akan memainkan sedikit permainan. Aku ingin lihat reaksi ketiga orang itu saat melihatku.” gumamnya dalam hati.


Tempat diadakannya acara penghargaan sudah didekorasi dengan sangat megah dan dipenuhi dengan berbagai area untuk mencicipi kopi dari berbagai sponsor kopi yang ikut serta. Seluruh ruangan dipenuhi aroma kopi yang kuat.


Tampak Natasha berjalan kedalam ruangan acara dan mengambil secangkir kopi lalu menghirup aroma kopi. Kemudian dia berkata sambil menoleh pada ayahnya, “Kopi ini lumayan juga, aromanya juga lembut. Jika melihat dari aroma dan biji kopinya aku yakin kopi ini berasal dari Brazil.”


Sponsor kopi yang berdiri disebelahnya mendengar ucapan Natasha dan merasa kagum. “Anda benar sekali Nona. Biji kopi ini memang berasal dari Brazil.  Kami memproduksi langsung kopi ini dan kopi kami adalah kopi terbaik dari Brazil.” Pria bertubuh tinggi berambut coklat yang merupakan sponsor kopi itu memuji Natasha. Hal itu membuat Danendra merasa bangga dan menatap putrinya dengan senyum puas, dia yakin bisa mengandalkan Natasha dikemudian hari.


Natasha merasa bangga pada dirinya, dengan angkuh dia mengangkat kepalanya dan melihat sponsor itu menatap kearah Anastasya dengan tatapan takjub, pria itu terpana. Natasha bahkan melihat sponsor itu menelan air liurnya berkali-kali, matanya berbinar memandang Anastasya yang berjalan didalam ruangan sambil memperhatikan beberapa pajangan kopi dari para sponsor. Natasha bisa melihat ternyata bukan hanya sponsor itu saja yang terpesona pada Anastasya tapi semua orang terpana.


Dia marah dan merasa cemburu, Natasha sudah berusaha berdandan cantik untuk bisa jadi pusat perhatian malam ini tapi rencananya gagal saat Anastasya hadir disana dengan pakaian yang memperjelas lekuk tubuh dan riasan nude alami yang semakin menonjolkan kecantikannya.


Natasha berusia beberapa bulan lebih muda dari Anastasya dan saat ini mereka berdua berumur dua puluh tiga tahun dan masih polos. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana Anastasya akan bertumbuh  dan sehebat apa dia beberapa tahun kemudian.


Yang dia tahu saat ini, dia tidak bahkan tidak memenuhi syarat untuk bersaing dengan Anastasya. Semakin Natasha memikirkan semua kelebihan yang dimiliki Anastasya, semakin dia membencinya.


Dengan geram dia bersumpah dan berharap dalam hatinya agar Anastasya segera lenyap dari kehidupannya. Seharusnya gadis desa itu tidak pernah muncul dirumahnya, kehadiran Anastasya benar-benar mengganggu kehidupannya. Kemanapun Anastasya berada, dia selalu berhasil menjadi pusat perhatian dengan wajah cantik alami, tubuh tinggi semampai bak gitar spanyol dan dada padat berisi.


Natasha mengambil segelas kopi dan sengaja berdiri didepan sponsor itu untuk menghalangi pandangan matanya lalu memberikan segelas kopi itu pada Anastasya. Natasha sudah punya rencana jahat lainnya yang siap dia mainkan. “Kakak, kau harus mencoba kopi ini. Tadi aku sudah mencicipinya menurutku sih enak.”


Sebelum Anastasya menjawab, Natasha tiba-tiba menutup mulutnya dengan satu tangan dan memasang wajah bersalah “Ah...maafkan aku kakak. Aku lupa kalau kau selama ini tinggal didesa ya. Kau pasti belum pernah minum kopi dan tidak tahu tentant kopi.”


Sponsor itupun menatap Anastasya dengan tatapan meredup setelah mendengar ucapan Natasha bahwa Anastasya tinggal di pedesaan.


Apa kata netizen nantinya jika gadis itu jadi brand ambasador kopinya? Meskipun gadis itu sangat cantik dan mempesona tapi tidak cocok untuk jadi brand ambassador. Tidak bisa dipakai sama sekali! Tidak berkelas! Sedangkan Anastasya tidak peduli sedikitpun dengan ucapan Natasha.


Dia pun mencicipi kopinya. Setelah dia mencecap kopi itu,dia mengerutkan kening. “Hmmm…..kopi ini terlalu pahit. Kopi ini aromanya enak tapi rasanya terlalu pahit dimulut. Selain rasanya pahit, setelah meminum kopinya tidak ada aroma kopi yang tertinggal.” Anastasya mengatakan opininya dengan sengaja mengejek penilaian Natasha.


Natasha kesal lalu mengambil gelas kopi dari tangan Anastasya. Natasha mengira bahwa Anastasya tidak mengerti soal kopi. Gadis itu berasal dari desa mana mungkin mengerti tentang kopi. Ucapan Anastasya tentang kopi itu membuat hati Natasha senang lalu dia menoleh pada sponsor. “Maafkan kakakku ya, dia tidak pernah minum kopi dan tidak tahu apa-apa soal kopi.” ujarnya dengan nada lirih.


Si sponsor pun semakin yakin bahwa Anastasya tidak berkualitas sama sekali. Dia memang tidak mengerti apapun tentang kopi. Lalu sponsor itu tersenyum pada Natasha, “Tidak apa-apa Nona. Hal wajar jika seseorang tidak pernah minum kopi karena mereka tidak terbiasa. Aku tidak akan mengganggu kalian, silahkan menikmati acaranya.”


Danendra yang sedari tadi memperhatikan apa yang terjadi, menatap punggung sponsor yang pergi. Dia merasa bangga pada Natasha, dia jauh lebih berbakat dan lebih bisa diandalkan daripada putri sulungnya.  Clarissa melihat ekspresi suaminya dan sengaja menegur putrinya, “Natasha, kenapa kau memberi kopi pada kakakmu? Dia tidak biasa minum kopi, jangan permalukan kakakmu didepan semua orang.”


“Maaf mama, aku lupa….”ujar Natasha lirih dengan wajah sedih.


Danendra mengibaskan tangan “Jangan hiraukan. Tapi, Anastasya kenapa kau mengatakan kalau kopi itu pahit? Bicaralah hati-hati jangan mengatakan sesuatu yang tidak kau pahami karena bisa menyinggung orang lain.” Danendra merasa kesal. “Benar-benar memalukan!”


“Maaf papa. Tolong jangan marah,aku tidak akan mengulanginya.” kata Anastasya.


“Sudahlah!” kata Danendra membuang muka. Lalu dia mengingatkan Natasha “Pergilah kebelakang panggung dan bersiap-siaplah. Papa dan mama akan menunggumu untuk menerima penghargaan.”


“Baiklah, Pa.” ujar Natasha tersenyum senang. Dia lalu beranjak setelah melambai pada Clarissa lalu berjalan kearah belakang panggung.  Sedangkan Anastasya mengikuti Danendra dan Clarissa dari belakang.


Dengan sengaja Danendra dan Clarissa berjalan cepat meninggalkan Anastasya, seakan-akan mereka menghindari sesuatu yang kotor dan menjijikkan. Itulah watak asli seorang Danendra Hilman, dia akan meninggalkan apapun dan kapanpun saat dia tahu sesuatu itu tidak bernilai lagi dimatanya. Sungguh ayah yang sangat baik!


Anastasya tidak peduli dan berusaha menyembunyikan semua emosi dengan baik dan mengikuti kearah mana Danendra dan Clarissa pergi. Tak lama setelah mereka duduk, acara pn dimulai. Acara penghargaan malam ini dihadiri banyak orang, lebih banyak dari biasanya karena bintang tamu malam ini adalah Tuan Muda Archilles. Banyak orang yang datang ke acara itu hanya ingin melihat pria tampan dan kaya itu serta mencari kesempatan untuk menunjukkan diri mereka didepan Tuan Muda.