
Diego terdiam. Mereka memang benar-benar tidak bisa menunggu lagi. Tak ada yang bisa menebak apa rencana yang akan dilakukan musuhnya. Anastasya menatap Kenneth dengan agak terkejut karena pria itu mendukung usulannya. Sepertinya dia memiliki kepercayaan yang cukup tinggi kepadanya. Apakah karena dia telah menyelamatkan hidupnya? Tetapi karena Kenneth begitu mempercayainya, jadi dia tidak akan mengkhianati kepercayaan yang telah Kenneth berikan padanya.
Anastasya menghela napas dalam-dalam, “Pengobatan modern memiliki banyak efek samping tapi pengobatan tradisional tidak. Meskipun aku gagal saat melakukan percobaannya, itu tidak akan membahayakan dia.”
Ketika Diego mendengar penjelasan Anastasya ekspresi dimatanya berangsur-angsur mengendur. “Baiklah kalau begitu kau bisa mencobanya. Tapi jangan sampai kau mencobanya dan orang itu mati.”
“Tenang saja. Meskipun percobaannya gagal tidak akan ada yang terjadi pada pasienmu itu.”
“Kalau begitu, sebaiknya kita pergi sekarang.” Bagas langsung mengangkat kakinya dan melangkah keluar kamar itu.
“Tunggu” ujar Anastasya canggung. “Maaf kalau aku merepotkanmu, bisakah kau membantuku menyiapkan satu set pakaian? Aku juga tidak bisa keluar melalui pintu depan karena aku tidak tahu ada berapa banyak mata yang sedang mengawasi ruangan ini.”
“Sana pergi! Ambilkan dia satu set pakaian dan carikan seutasn tali, kita tidak bisa keluar melalui pintu utama jadi kita harus keluar lewat jendela.” kata Kenneth.
Diego pun menganggukkan kepalanya, “Ya benar. Tadi saat aku masuk kesini aku melihat ada orang yang sedang menjaga didepan hotel. Dan saat tadi ditelepon kau mengatakan padaku untuk tidak menarik perhatian jadi aku mengenakan pakaian pelayan hotel untuk menghindari perhatian mereka. Tetapi...ini lantai teratas, kita bisa turun lalu bagaimana dengan dia? Apakah kau akan membopongnya turun?”
“Kalian jangan khawatir, aku bisa turun sendiri. Hanya turun melalui jendela dengan seutas tali hal yang mudah bagiku jadi jangan khawatirkan aku.” ujar Anastasya membuat Kenneth menatapnya.
Kedua pria itu menatap Anastasya bersamaan dan setelah melihat ekspresinya yang menyakinkan mereka berdua akhirnya Kenneth menoleh pada Diego, “Bersiap-siaplah.”
Diego sedikit merasa ragu tapi akhirnya dia pun membalikkan badan dan keluar dari kamar itu. Tidak membutuhkan waktu lama baginya untuk membawakan barang-barang yang mereka butuhkan. Anastasya mengenakan pakaiannya, lalu dia langsung mengambil tali yang terletak dilantai dan berkata, “Pakaian pelayan yang aku kenakan ini tidak akan terlalu menarik perhatian orang. Aku akan turun dan membantu kalian mengawasi sekitar.”
Diego yang sudah tak tahan untuk memperingatkannya pun berkata, “Nona Tasya, kita sedang berada dilantai teratas. Apakah kau yakin bisa turun sendiri?”
“Yakin!” ujar Anastasya sambil mengencangkan gesper pengaman dengan baik dan rapi. Sebelum Kenneth dan Diego sempat mengatakan sesuatu lagi, Anastasya sudah berjalan kejendela. Sambil memegang pinggiran jendela dengan satu tangan, Anastasya langsung membalikkan badannya dan dengan cepat dan tangkas dia melompat keluar jendela dan mendarat diatas kipas AC yang berada disebelah luar dinding.
Gerakan lincah Anastasya yang gesit itu membuat Diego yang tadinya tidak percaya bahwa Anastaya bisa turun sendiri itu pun sekarang jadi tertegun dan menatap lurus padanya. Dia memperhatikan bagaimana lincahnya gadis itu meloncat dari setiap lantai seolah dia seorang profesional jumper.
Kenneth tidak menjawab pertanyaan Diego, dia malah berjalan menuju jendela untuk memastikan bahwa Anastasya baik-baik saja. Detik berikutnya dia melihat tangan Anastasya yang sedang menarik dan melepaskan tali itu bergantian lalu dengan cepat dia sudah turun sampai kelantai sembilan.
Kenneth segera menelan kembali ucapan kekhawatirannya lalu menoleh pada Diego, “Jangan meremehkan wanita! Aku akan menjadi orang yang turun berikutnya dan kau yang terakhir.”
Diego mendekati jendela dan menatap Anastasya yang sudah turun sampai setengah jalan, dia tampak syok dengan keahlian wanita itu. Tanpa bisa menahan diri dia berkata pada Kenneth, “Wah! Dia benar-benar luar biasa! Akhirnya aku mengerti sekarang mengapa si Brandon itu memperlakukan wanita itu dengan sikap yang berbeda. Bocah itu paling benci dengan wanita manja tetapi dia menyukai wanita yang mandiri dan kuat seperti ini.”
Kenneth yang merasa tidak suka dengan kalimat yang didengarnya pun melirik Diego dengan kesal, “Jangan banyak omong! Cepat bersiap-siap untuk turun.” Hanya dengan mengingat ucapan Brandon yang mengatakan bahwa dia telah jatuh cinta pada Anastasya pada pandangan pertama saja sudah membuat Kenneth merasa gelisah sekarang. Perasaannya tidak tenang dan ada emosi yang bergejolak didadanya. Dia tidak tahu apa yang telah terjadi…..
Hanya dalam waktu sepuluh menit mereka bertiga sudah mendarat dibawah dengan selamat lalu langsung pergi ke rumah sakit keluarga Satoshi.
Rumah sakit swasta keluarga Satoshi tersebar diseluruh dunia dan hanya ada lima dikota Jakarta. Orang yang ingin mereka obati itu ada dirumah sakit kelima milik keluarga Satoshi yang biasanya memang tidak menerima pasien biasa. Oleh sebab itu rumah sakit kelima ini tampak kosong karena khusus untuk pasien tertentu saja.
Saat Anastasya turun dari mobil, dia tidak melihat orang-orang yang menunggu didalamnya kecuali petugas medis yang sedang mengambil shift. “Ayo jalan kebagian sini.” ujar Diego Satoshi sambil melangkahkan kaki dan memimpin mereka berjalan didepan. Ada rasa tidak yakin didalam hatinya jika Anastasya bisa melakukan pengobatan itu.
Memangnya metode pengobatan tradisional bisa mengobati penyakit mental yang memerlukan waktu satu tahun untuk sembuh jika menggunakan metode barat? Dia benar-benar tidak percaya, tetapi karena mereka sudah datang kesini maka dia membiarkan saja Anastasya untuk mencobanya. Lalu ketiganya berjalan sampai kebagian rawat inap yang berada digedung terakhir. Hanya ada satu pasien diseluruh gedung sekarang dan itu adalah orang yang mereka tangkap.
Anastasya yang berjalan dilorong rumah sakit yang situasinya begitu sepi, dengan tidak sabar dia mengehal napas lalu berkata, “Ini rumah sakit paling sepi yang pernah aku kunjungi...”
Biasanya rumah sakit baik itu didalam maupun diluar negeri pasti akan selalu ramai dikunjungi orang. Lalu dengan perasaan bangga Diego berkata, “Tidak sembarangan orang yang bisa datang dan masuk kerumah sakit ini. Hanya pejabat saja yang bisa datang dan masuk kesini. Dan pejabat tinggi sekalipun juga masih harus meihat level pangkat mereka dan kekayaan finansial mereka.”
Anastasya hanya menggelengkan kepalanya karena tidak setuju, “Tidak benar seperti itu. Orang sakit datang untuk mencari dokter untuk meminta pertolongan. Rumah sakit didirikan untuk mengobati orang sakit. Sedangkan dokter sudah sewajarnya merawat orang-orang sakit itu tanpa membedakan status seseorang. Kalau tidak mau merawat dan menolong orang sakit lalu apa bedanya dengan membunuh seseorang. Bagaimana bisa kau melihat status dan finansial seseorang untuk memilih pasien?”
Diego hendak membantah tapi pada akhirnya dia tidak mengatakan apapun. Melihat raut wajah Diego yang rumit, Anastasya pun tidak mengatakan apa-apa lagi. Orang-orang yang berada dipuncak paramida sosial ini memang selalu memiliki pandangan yang berbeda terhadap status dan level seseorang sehingga ucapan Anastasya yang hanya beberapa kata itu tidak mungkin bisa mengubah pandangan mereka. Jadi yang bisa dilakukannya hanyalah memulai dari dirinya sendiri.