THE PROMISE

THE PROMISE
BAB 75. RENCANA JAHAT CLARISSA



Clarissa tak percaya dengan ucapan Anastasya dan melotot, “Disana udaranya dingin jadi membawakan lebih banyak pakaian untuk dipakainya juga tidak apa-apa agar tidak masuk angin.”


“Tasya benar. Tidak perlu membawa begitu banyak pakaian, disana semuanya sudah ada termasuk jaket,sweater jadi kau tidak perlu membawakan semua barang-barang ini. Dan ini juga, barang-barang elektronik juga tidak perlu dibawa kalau dia disana hanya untuk bermain game sepanjang hari bukannya intropeksi diri tapi pergi bersenang-senang. Aku hanya memperbolehkan membawa barang yang penting dan dibutuhkannya sehari-hari. Dia disana untuk belajar agama dan intropeksi diri agar saat dia kembali kesini dia sudah berubah lebih baik.” ujar Danendra.


“Tapi----” Clarissa masih ingin membela Natasha tapi suaminya menatapnya tajam.


“Kukira kau tahu kalau dia bersalah dan setuju juga dia pergi untuk intropeksi diri, tapi sepertinya tidak ya? Apakah tamparan yang tadi kau berikan itu hanya drama yang ingin kau tunjukkan padaku, hu?”


Clarissa tercekat dan mengubah kata-katanya, “Bukan begitu suamiku, aku hanya khawatir jika anak itu akan sakit tapi karena kau sudah mengatakan itu ya sudahlah lupakan saja.”


Pelayan pun mulai mengurangi barang-barang yang akan dibawa, kini hanya ada satu koper saja. Bahkan peralatan makeup dan perawatan tubuh Natasha pun tidak diijinkan dibawa, satu koper hanya berisi pakaian seadanya saja.


Saat Natasha sampai di pemondokan yang berada diluar kota dan melihat hanya ada satu koper saja dan setelah mengeceknya ternyata isi koper itu hanya pakaian dalam saja, dia merasa seluruh tubuhnya terasa hancur. Ponselnya pun tidak ada! Setega itukah ayahnya bahkan ponsel pun tidak diijinkan untuk dibawa?


“Cepat beritahu mama untuk membawakan ponselku!”


Baru saja si pelayan hendak bicara ketika kakak perempuan Danendra bernama Maharani Hilman berjalan mendekat.


Dia adalah orang yang bertanggung jawab atas pelatihan di pemondokan itu, tampak rambutnya sudah beruban dan saat dia melihat Natasha berteriak pada pelayannya dia langsung mengeryit tak suka. “Ini tempat belajar agama bukan bar dimana kau bisa teriak sesukamu. Apa yang kau lakukan disini?”


Natasha bergidik ngeri ketika dia melihat Maharani, wanita tua itu sangat ketat terhadapnya dan ibunya sebelum berlatih di pemondokan ini. Dia lebih menyukai Adelia ibunya Anastasya daripada Clarissa ibunya Natasha. Tapi entah apa yang terjadi akhirnya dia langsung datang kesini untuk membersihkan diri


“Bibi….” Natasha menyapa wanita tua itu dengan gemetar. Dia tahu wanita tua itu adalah orang yang disiplin dan tidak bisa diajak kompromi. Banyak orang yang datang kesana untuk membersihkan diri dan meditasi. Maharani menatapnya dengan dingin, dari tatapannya bisa dilihat kalau dia tidak menyukai Natasha.


“Masuk dan pergi sembahyang dulu.”


Natasha merasa ingin mati saja dan mengharapkan ibunya bisa mencari jalan untuk menjemputnya lebih awal. Dia tidak pernah belajar agama apalagi sembahyang, entah dia tahu cara berdoa atau tidak karena Clarissa tidak pernah mengajarinya.


Saat Natasha mengingat tamparan keras mamanya diwajahnya, tiba-tiba hatinya merasa sakit dan membenci mamanya. Mama pasti tidak menginginkannya lagi, dia sudah tidak menginginkan putri kandungnya! Apa dia akan mulai menyukai Anastasya karena gadis udik itu lebih baik darinya? Natasha sudah memikirkannya, jika mamanya tidak mau datang menjemputnya maka dia tidak akan mengakui mamanya lagi.


Sementara itu di villa keluarga Hilman.


Anastasya memasukkan surat yang dia dapat dari pelayan kedalam sakunya, ini adalah surat yang ditulis Clarissa untuk Natasha. Anastasya sengaja memberi sejumlah uang pada pelayan itu dan memintanya untuk memberitahu Clarissa bahwa surat itu sudah dikirimkan. Jadi setiap kali Clarissa mengirimkan surat untuk Natasha maka surat-surat itu akan diberikan pelayan pada  Anastasya. Dia ingin mengawasi pergerakan kedua orang itu.


“Pergilah. Ingat ya jangan sampai Clarissa tahu kalau suratnya kau berikan padaku.” ujar Anastasya yang dijawab anggukkan kepala si pelayan. Anastasya memperhatikan pelayan itu pergi lalu mengeluarkan surat dari sakunya. Dia mulai membaca isi surat itu, kata-kata yang ditulis di surat itu sangat sulit dibaca, pasti Clarissa begitu cemas saat ini.


Putri kesayangannya telah dikirim ke pemondokan untuk intropeksi diri, dia sudah tahu kehidupan seperti apa yang akan dijalani putrinya disana maka tidak heran kalau dia cemas. Tetapi begitu dia pulih kembali dia pasti akan mencari cara untuk membalas Anastasya jadi gadis itu harus bersiap-siap mulai sekarang. Anastasya berusaha membaca satu demi satu kata-kata disurat itu, isinya sangat sederhana. Clarissa hanya menjelaskan pada Natasha alasa dia emnamparnya. Semua itu dilakukannya untuk meringankan hukuman dari Danendra.


Sedangkan masalah pergi ke pemondokan, dia berjanji akan segera menjemputnya dan meminta Natasha untuk sementara waktu harus bersabar dan menurut serta patuh pada bibinya agar tidak menambah masalah lagi. Semua tulisan dan informasi ini tidak berguna, tapi setelah membaca seluruh isi surat akhirnya dia menemukan informasi yang berguna.


“Mama sudah punya ide cemerlang untuk membalas Anastasya! Mama akan mencari seorang pria dan membuatnya terlibat skandal. Jadi nanti papamu akan ingat bahwa dia masih punya satu anak lagi. Percayalah pada mama, aku akan segera menjemputmu pulang dengan penuh martabat setelah menghancurkan nama baik Anastasya!”


Setelah membaca surat itu, mata Anastasya memicing dan tatapannya dingin. Sepasang ibu dan anak ini sama-sama jahat. Yang satu lebih jahat dari yang satunya. Hanya saja mereka berdua terlalu menganggap remeh Anastasya. Apakah wanita jahat itu ingin menodai kesucian Anastasya? Kalau begitu dia ingin melihat apakah Clarissa mampu melakukannya atau malah sebaliknya!


Anastasya pun membakar surat itu hingga tak tersisa.


Disisi lain, Clarissa berjalan mondar mandir dengan cemas diruangan lain dan tiba-tiba dia melihat kalender didinding. Beberapa hari lagi Emma akan berulang tahun dan karena masalah anjing waktu itu Emma pasti sangat membenci Anastasya dan memiliki dendam dihatinya. Tampak kilatan cahaya dimata Clarissa lalu dia berbalik dan mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Emma.


Begitu teleponnya terhubung dengan Emma dia langsung bertanya dengan nada suara yang tidak baik, “Ada masalah apa lagi?”


Meskipun Clarissa adalah tantenya Emma tetapi hubungan mereka tidak dekat dan dia selalu mengabaikan sopan santun yang mengharuskannya menghormati orang yang lebih tua.


“Aihhhhh siapa yang telah menyinggung Emma kita?” tanya Clarissa yang tidak mempermasalahkan nada suara Emma yang tidak menghormatinya. “Katakan pada tante ada apa, tante akan membantumu untuk melampiaskan amarahmu.”


Emma mendengus dingin dan mencibir. “Tidak perlu! Jika bukan karena putrimu yang tidak berguna itu, pertunanganku tidak akan dibatalkan oleh keluarga Pradipa! Aku tidak ingin bicara dengan seorangpun dari keluargamu sekarang!”


“Kenapa keluarga Pradipa membatalkan pertunanganmu? Apa yang terjadi?” tanya Clarissa.


Emma sebenarnya tidak ingin membahas masalah ini tapi dia berhasil luluh dibawah bujuk rayu Clarissa hingga akhirnya dia pun menceritakan secara singkat tentang masalah itu.


Clarissa pun tersenyum setelah mendengar cerita Emma. Sepertinya Emma memiliki dendam yang sangat besar pada Anastasya! Lalu Clarissa pun berakting seolah dia sangat menyesali apa yang terjadi pada Emma. “Oh Emma sayang, tante tidak tahu tentang masalah ini…..tapi setelah aku mendengar ceritamu aku merasa bahwa kau juga tidak menyalahkan Tasha lagi apalagi tantemu ini. Seharusnya kau menyalahkan Anastasya brengsek itu! Jika bukan karena dia merayu Tuan Muda Pradipa, keluarga mereka tidak akan membatalkan pertunangannya denganmu!”


Setelah mendengar ucapan Clarissa yang juga sejalan dengannya dan menganggap Anastasya juga sebagai musuh, perlahan perasaannya  berangsur membaik. “Keluarga kami masih menyembunyikan masalah pembatalan pertunangan ini, jadi tolong ya tante jangan sebarkan masalah ini untuk sementara. Untuk Anastasya itu aku akan membuat perhitungan dengannya! Jika waktunya tiba, kau jangan berani menghalangiku untuk membalasnya!”


“Oh Emma, tante tidak akan menghalangimu. Kenyataannya tante juga sudah memikirkan sebuah rencaana untuk menghancurkannya tapi aku butuh seseorang untuk bekerjasama.” ujar Clarissa.