THE PROMISE

THE PROMISE
BAB 33. MENYINGKIRKAN MUSUH



Natasha mengatakan pada Emma kalau Anastasya adalah gadis desa yang berpenampilan sederhana dan tidak menarik sama sekali. Tapi Natasha mengatakan kalau Anastasya sangat cantik tapi Emma merasa kalau dirinya adalah wanita tercantik di kota ini jadi dia sama sekali tak terpengaruh.


Saat tiba dipintu gerbang dan Emma dapat melihat penampilan Anastasya dengan jelas. Anastasya memiliki alis tebal yang melengkung sempurna, gaunnya sederhana tapi dia nampak mempesona dengan aura yang kuat, wajahnya mulus, kulitnya halus dan glowing, dia terlihat indah seperti kupu-kupu yang paling cantik.


Bibirnya tebal berisi berwarna merah muda, rambut coklat panjang terurai dan kaki jenjang miliknya yang ramping dan mulus. Anastasya memiliki mata besar yang mempesona dan tegas.


Tak ada kata-kata yang bisa mengungkapkan kecantikan Anastasya, dia anggun dan elegan. Emma membelalakkan matanya tak percaya saking terkejutnya, sejenak dia lupa bernafas melihat gadis cantik bertubuh sempurna didepannya. Bagaimana mungkin ada gadis sesempurna itu? Bukankah dia hanya gadis desa? Kenapa dia bisa secantik itu?


Dia bukan saja cantik tapi penampilannya yang sederhana jauh lebih baik daripada juara pertama gadis tercantik setanah air. Apakah matanya rusak? Emma menggosok matanya dengan tangan. Dia merasa cemburu akan kecantikan Anastasya. Rasa cemburu dan iri membuatnya ingin mematahkan tulang-tulangnya dan merusak wajahnya. Emma ingin memberikan pelajaran kejam yang takkan dilupakan oleh Anastasya seumur hidup.


Anastasya melihat ada seorang gadis berambut pirang disamping Natasha, gadis berambut pirang itu nampak arogan dan tatapan matanya dingin. Gadis itu membawa seekor najing besar. Anastasya memahami situasi lalu mengeryitkan keningnya. “Natasha cepat buka pintu gerbangnya? Apa yang kau lakukan disana?”


Natasha menatap Emma yang mengangkat tangannya lalu mengambil sepotong daging mentah dari tangan pengawalnya lalu melemparkan daging mentah itu ke gerbang.


Emma mendongakkan dagunya dengan angkuh, “Namamu Anastasya, iyakan? Beri makan Roxy jika kau ingin masuk, aku tidak memaksamu tapi jika kau tidak mau memberi makan anjingku, tidak apa-apa tapi kau hanya bisa masuk dengan berjalan melalui selangkanganku!”


Anastasya tetap tenang dan tak terpengaruh, dia bahkan tak peduli. “Aku tidak ada urusan dengamu! Apakah begini didikan dikeluargamu? Kasihan sekali orangtuamu yang salah mendidik anaknya.”


Wajah Emma memerah, “Apa kau bilang? Kau menghina keluargaku? Hei gadis desa, pergi sana kembali kedesa terpencilmu! Kau tidak diterima disini apalagi dikota ini!”


Sebenarnya alasan Anastasya kembali ke tanah air adalah untuk mencari tahu penyebab kematian ibu kandungnya dan kenapa keluarga Sanari bisa diubah menjadi keluarga Hilman. Tapi melihat situasi sekarang tampaknya dia harus menyingkirkan dulu orang-orang yang tak jelas itu semua barulah dia bisa melanjutkan penyelidikannya. “Apakah kau benar-benar menginginkan ini? Kau yakin tidak akan menyesal nanti?” tanya Anastasya dingin.


Natasha ketakutan tapi tidak dengan Emma. Natasha masih ingat rasa sakit saat tangannya patah waktu itu. “Emma, sudahi saja. Tidak perlu diteruskan.”


“Persetan! Aku akan menghabisi gadis desa itu!” geram Emma. Dia tidak merasa takut pada Anastasya. Toh dia hanya seorang gadis desa, memangnya apa kelebihannya? Dia hanya punya wajah cantik saja dan tampak polos, sama sekali bukan ancaman untuknya.


“Apa kau sudah membuat pilihan? Kusarankan lebih baik kau kembali ke desamu!” ujar Emma.


Anastasya punya prinsip hidup ‘Kau jual aku beli. Dia tidak akan mengganggu orang lain tapi jika ada orang yang menganggunya maka dia tidak akan berbelas kasihan pada penganggu itu.’ Anastasya pun melangkah maju dan tersenyum sini. “Buka pintunya. Aku akan memberi makan anjingmu. Tapi kuharap kau jangan menyesal! Kau yang meminta ini.”


“Ha ha ha ha….dasar bodoh!” Emma tertawa mengejek. Ternyata gadis desa itu sangat bodoh! Dia membuat pilihan yang salah, benar-benar gadis desa yang tidak tahu diri! Emma pun memerintahkan pengawal membuka gerbang. Emma mengendurkan tali Roxy kemudian menepuk kaki anjing itu, “Pergi Roxy! Itu makanan enak untukmu!”


Begitu tali anjing itu dilepaskan dia berubah menjadi ganas, anjing itu menatap tajam kearah Anastasya lalu anjing itu berjalan lambat dan mantap. Ini adalah situasi yang berbahaya, anjing itu siap menyerang.


Roxy semakin ganas dan bersemangat saat mendengar suara teriakan karena anjing itu menyukai ketakutan dari mangsanya. Lalu anjing itu melompat tinggi dan mengerang kearah wajah Anastasya. Jika kena gigitan bisa membuat wajah Anastasya rusak.


Tapi gadis itu malah terlihat tenang dan berdiri diam seakan menunggu musuhnya menyerang. Tepat saat Roxy hendak menggigit wajah Anastasya, gadis itupun menghindar dengan cepat lalu tangannya meraih leher anjing itu.


Meskipun anjing galak itu berukuran besar dan berbobot berat tapi Anastasya dengan mudahnya mengangkat anjing itu lalu menghempaskan ke tanah dengan kuat. Emma dan Natasha yang mengiri wajah Anastasya akan digigit oleh anjingnya hingga rusak, terkejut melihat gerakan cepat gadis itu. Gadis desa itu menghempaskan Roxy ke tanah hingga mengeluarkan suara keras. Emma jadi cemas melihat Anastasya yang akan memukuli Roxy.


“Hei gadis desa! Lepaskan anjingku!” bentak Emma dengan suara marah. Anastasya yang sudah marah tidak mau melepaskan anjing itu begitu saja. Satu tangannya mencengkeram leher Roxy sedangkan tangan lainnya menepuk beberapa bagian ditubuh anjing itu. Anastasya sedang melatih anjing galak itu tapi Emma berpikir jika Anastasya melukai anjingnya.


“Lepaskan anjingku! Apa kau tidak mendengarku ******?” teriak Emma. Semua orang menggosok mata mereka tidak percaya saat anjing yang tadinya hanya mengikuti perintah Emma kini malah mengoyangkan ekornya menatap Anastasya.


Anjing itu bahkan menurut pada Anastasya saat tangannya mengelus kepala Roxy. Bagaimana mungkin? Emma menyewa seorang pelatih profesional untuk melatih anjingnya jadi Roxy hanya menuruti perintah Emma saja tapi sekarang anjing itu malah mengibaskan ekor menatap Anastasya seakan ingin menyenangkannya. Melihat itu Emma menjadi marah, “Apa yang kau lakukan pada anjingku? Lepaskan dia!”


“Anjingmu lepas kok tidak diikat. Apa yang kau bicarakan.”kata Anastasya tenang.


“Dasar gadis desa sialan! Lepaskan anjingku!”


“Baiklah. Apa kau yakin ingin melepaskan anjing ini? Jangan salahkan aku ya,kau yang meminta dan aku kabulkan permintaanmu.” kata Anastasya sambil tersenyum. Lalu dia membungkuk dan mengambil daging mentah dan melepaskan leher Roxy.


Emma lantas memerintahkan anjingnya begitu melihat Roxy sudah dilepaskan, “Roxy gigit dia!”


Para pelayan terkejut dan menatap Emma heran. Dia sungguh arogan dan bersikap berlebihan, sungguh keterlaluan. Ini benar-benar tindakan kriminal! Bagaimana mungkin seorang gadis dari keluarga kaya bersikap seperti itu?


Emma yang mengira Roxy akan menyerang dan menggigit Anastasya malah terkejut karena melihat Roxy menatap kearahnya dengan tatapan ganas dan suara mengeram.


“Roxy…..” panggil Emma. Anastasya berjongkok lalu menyodorkan daging mentah kemulut Roxy. Anjing itu melahap daging mentah hingga ludes. Lalu Anastasya menepuk-nepuk kepala anjing itu dengan lembut “Sudah selesai makan ya? Pergilah.”


Wajah Emma langsung pucat saat melihat Roxy menghampirinya dengan ganas, tidak seperti sikap seekor anjing pada pemiliknya.


Emma berbalik dan berlari sekencang mungkin. “Gukkk…..Gukkk…..Gukkk….” Roxy mengejar Emma seperti terbang. Keadaan itu membuat semua orang terkejut. Emma berlari sambil berteriak minta tolong tapi tak ada seorangpun yang berusaha menolongnya. Clarissa tiba tepat waktu, seorang pelayan melapor pada Clarissa karena pelayan itu takut jika Natasha dan Emma akan membuat masalah.