THE PROMISE

THE PROMISE
BAB 37. MULAI MENYELIDIKI



Tapi kenapa semua orang mengatakan bahwa ibunya mati bunuh diri? Jika memang benar dia bunuh diri lantas mengapa dia mengucapkan kata-kata ‘Lari’ dan ‘Balaskan dendam mama?’ kepada putrinya sendiri? Bahkan Anastasya sudah menyelidiki tentang Danendra. Keluarga Hilman adalah keluarga kecil yang memiliki usaha batubara. Saat itu Sanari Corp adalah perusahaan besar yang sangat terkenal pada masanya.


Jika melihat reputasi dan status ibunya saat itu, mengapa dia menikahi anak daris eorang pengusaha batubara yang hanya memiliki perusahaan kecil? Meskipun seandainya Danendra adalah pria yang berhati mulia tetapi karakter dan sifat Danendra sangat buruk.


Apalagi berdasarkan informasi yang didapat Anastasya jika pernikahan ibunya dilaksanakan dalam waktu singkat dan terkesan terburu-buru. Mereka menikah seminggu setelah berkenalan dan ini sangat aneh apalagi disaat itu.


Anastasya melihat ada empat laci, dia sudah memeriksa tiga laci namun tidak menemukan apa-apa. Saat dia ingin membuka laci keempat ternyata dikunci dan dia mencari kunci laci tapi tidak ada diruang baca itu. Tepat saat dia ingin mencoba untuk membuka laci itu, dia mendengar suara langkah kaki di koridor.


Anastasya pun meraih sebuah buku dari rak dan duduk dikursi pura-pura sedang membaca. Tak lama pintu ruang baca terbuka. Anastasya yang sedang membaca buku mengangkat kepalanya dan menatap Danendra dengan bingung.


Danendra terlihat panik tapidengan cepat ekspresi wajahnya berubah lebih tenang. Tetapi Anastasya sempat melihat kepanikan diwajah Danendra. “Papa, ada apa? Kenapa papa kembali?”


Wajah Danendra menjadi tenang saat dia melihat Anastasya duduk dan sedang membaca buku dengan serius. Pria itu memijit ujung hidungnya dan terbatuk pelan, “Aku lupa kalau ada hal penting yang harus kukerjakan. Sudah larut malam, lebih baik kamu istirahat dan kamu bisa melanjutkan membaca di lain hari. Kembalilah ke kamarmu dan tidur.”


Karena Aanastasya tidak mau ketahuan sedang menyelidiki sesuatu, dia pun patuh. Satu hal yang dia tahu ada sesuatu didalam laci yang terkunci dan mungkin itu alasan kenapa Danendra panik. “Baiklah papa.” jawabnya lalu dia menutup buku yang ada ditangannya. Buku itu berjudul Ekonomi Makro Dunia.”


“Buku itu tidak cocok untuk kamu baca, terdalam sulit bagimu mempelajarinya. Lagipula seorang gadis tidak perlu mempelajari hal-hal terlalu mendalam seperti itu. Aku akan mencarikanmu buku-buku yang cocok untuk kamu pelajari.”


Danendra selalu berpikiran bahwa seorang perempuan tidak pantas untuk berbisnis. Dia ingin agar putrinya cukup menjadi gadis cantik dan menikahi pria kaya. Wanita tidak cocok berbisnis, mereka hanya membuat kekacauan dan merepotkan.


Dan perkiraannya itu mungkin benar karena Clarissa sudah mengosongkan perusahaan Danendra tanpa dia sadari. Lalu Anastaasya berjalan keluar dengan tenang seperti tidak ada beban.


“Tasya…..ngomong-ngomong….” Danendra ingin mengatakan sesuatu namun tak melanjutkan. “Dimana kamu belajar Coffee Latte Art?”


Anastasya tidak terpikir jika Danendra akan menanyakan hal itu. “Ketika aku tinggal didesa, aku sempat bekerja disebuah cafe yang ramai dikunjungi turis. Pemilik cafe itu ternyata barista hebat yang pernah belajar diluar negeri. Dia lah yang mengajariku.


“Oh begitu ya. Nanti saat kamu sudah terkenal maka kamu harus menemuinya untuk berterimakasih.”


“Baiklah papa. Aku pikir itu ide bagus, aku dan papa akan pergi kesana menemuinya.” Anastasya menunjukkan wajah sumringah dan polos miliknya untuk membuat Danendra percaya dengan cerita karangannya. Lalu Anaastasya berbalik dan berjalan ke kamarnya.


Sambil berjalan, dia berpikir untuk menyelidiki laci terkunci itu tanpa menimbulkan kecurigaan orang-orang dirumah itu. Jangan sampai semua rencananya gagal, tapi satu hal yang mungkin membuat Danendra mulai curiga adalah keberadaannya diruang baca hingga larut malam. Tapi dia tidak merasa cemas sedikitpun, ide-ide lain mulai muncul dibenaknya.


Setelah menutup dan mengunci pintu kamarnya, dia menyandar di pintu lalu memejamkan mata dan menghela napas dalam-dalam. “Tenanglah Tasya. Semua kebenaran pasti akan terungkap. Aku hanya perlu bersabar dan menyelidiki setiap sudut rumah ini tanpa menimbulkan kecurigaan.


Saat Anastasya membuka matanya, dia menyadari jika seseorang sudah masuk kekamarnya. Dia adalah seorang yang teliti dan berhati-hati. Sebelum meninggalkan kamarnya, dia sempat menaburkan serbuk perak dilantai dan dia bisa melihat dengan jelas ada jejak kaki dilapisan bubuk perak itu.


Posisi mouse juga masih seperti semula. Tidak ada yang menyentuh komputernya.


“Natasha! Pasti dia yang masuk ke kamarku!”


Akhirnya Anastasya pun memeriksa seluruh kamarnya tapi tidak ada barang yang hilang. Tapi saat dia memeriksa jaketnya dan menemukan kalau kartu nama Kenneth telah hilang. Natasha benar-benar keterlaluan! Dia bahkan berani mencuri kartu nama!


Kartu nama itu tidak penting bagi Anastasya jadi dia pun tidak berencana melakukan apapun pada Natasha dan hanya akan berpura-pura tidak tahu. Biasanya orang-orang yang suka mencuri barang orang lain akan kena karma dan bakal diserang balik oleh barang curiannya.


Keesokan harinya, seorang pelayan mengetuk pintu untuk membangunkan Anastasya. Ketiga keluarga Hilman sedang duduk diruang makan untuk sarapan pagi. Saat Anastasya datang, Natasha terlihat tidak seperti biasanya.


Dia langsung mengatakan kalau dia sudah selesai dan langsung pergi menghindari Anastasya. Gadis itu hanya tersenyum sinis, dia tahu alasan Natasha menghindarinya pasti dia takut dituduh mencuri kartu nama itu.


“Mau kemana dia? Kenapa tidak menghabiskan makanannya?” tanya Danendra saat dia melihat makanan Natasha hanya dimakan sedikit. “Mau kemana dia pergi terburu-buru?”


“Apakah kau tahu sutradara Eros Bratadikara?” tanya Clarissa.


“Ya aku kenal. Memangnya kenapa?”


“Sutradra itu sedang mencari pemeran utama untuk serial barunya hari ini dan Natasha akan pergi audisi.” jelas Clarissa. Natasha telah mengatkan pada Clarissa sebelumnya bahwa dia telah mendapatkan peran untuk serial itu padahal Natasha hanya mendapat kesempatan untuk audisi saja. Tapi secara diam-diam Clarissa telah menyogok agar Natasha mendapatkan kesempatan untuk audisi.


“Wah bagus sekali kalau begitu! Aku memang punya dua putri yang membanggakan. Aku bahagia sekali mendengar kabar ini. Nanti malam kita akan makan malam bersama untuk merayakan. Sekalian sebagai sambutan untuk kepulangan Tasya. Sejak dia kembali aku belum mengadakan acara untuk menyambutnya.” kata Danendra yang bahagia, dia sama sekali tidak tahu apa yang telah dilakukan Clarissa.


Wajah wanita itu langsung menunjukka ekspresi tidak senang mendangar nama Anastasya disebut suaminya. Dulu dia sengaja menamai putrinya Natasha karena nama panggilan Anastasya adalah tasya. Dia pun sengaja memberi nama panggilan yang sama pada Natasha.


Dulu Clarissa merasa sangat cemburu pada kakaknya Adelia Sanari dan dia selalu mengambil apapun yang menjadi milik kakaknya.


“Baiklah suamiku. Kebetulan sekali tadi Natasha mengatakan bahwa hari ini adalah hari baik keluarga kita. Jadi kita harus pergi makan enak nanti malam.”


“Tentu saja! Itu sudah keharusan!” ujar Danendra sambil memperhatikan Anastasya. “Tasya cepat makan sarapanmu. Kita harus pergi pagi ini.”


“Ok papa.” Anastasya hanya menjawab singkat lalu mula makan.