
Sontak wajah Emma memucat setelah Rian menceritakan semuanya. Pria itu bahkan menyakinkan semua orang untuk memeriksa CCTV di mall untuk melihat kejadian sebenarnya. Emma mengepalkan tangannya lalu memasang wajah menyedihkan, menatap Keenan. “Bukan…...bukan seperti itu kejadiannya. Mereka ini mengarang cerita sembarangan. Mereka sengaja memfitnahku agar aku terlihat buruk dihadapan kalian.”
Keenan menatap sinis Emma sambil mencibir, “Masalah anjing tempo hari juga kau bilang dia memfitnahmu, sekarang pun kau bilang dia memiftnahmu juga. Apakah kau seseorang yang selalu difitnah begitu mudahnya? Bahkan oleh seseorang yang tidak mengenalmu sama sekali?’
“Aku----” wajah Emma semakin pucat tak mampu berkata-kata lagi. Sepertinya Keenan lebih membela Anastasya daripada dirinya.
“CUKUP! Jangan bicara lagi!” ujar Keenan penuh amarah.
“Apa kau lupa jika aku sudah memperingatkanmu! Jangan pernah anggap aku ini orang bodoh yang mudah terperdaya olehmu. Dan untuk kedua kalinya kau menganggapku orang bodoh! Karena kau masih tidak ingin memutuskan perjanjian pernikahan kita, maka hari ini aku akan menemui ibuku untuk memutuskan pertunangan!”
Apa? Memutuskan pertunangan? Emma mundur selangkah penuh ketakutan, dia tak ingin pertunangan itu batal karena dia membutuhkan keluarga Pradipa yang kaya raya untuk menyokong keluarganya.
Jika pertunangan dengan keluarga Pradipa diputuskan tidak akan ada keluarga terpandang lain yang akan menginginkan gadis sepertinya. Entah keberanian darimana yang didapat Emma, dia memeluk paha Keenan dan menangis sambil memohon.
“Tidak…..tidak. Aku mohon Keenan jangan lakukan itu. Aku sadar kalau aku berbuat salah, aku mohon maafkan aku kali ini. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi. Aku janji tidak akan berbuat onar dan mencari masalah dengan siapapun. Tolong jangan putuskan pertunangan ini.”
Keenan sudah kehabisan kesabaran dan simpatinya untuk Emma. Dia menatap kepala pelayan. “Apakah kau sudah matai, ha? Mengapa kau diam saja disitu? Usir orang ini!”
Si kepala pelayan lantas bergegas maju bersama dua orang pengawal dan menyeret Emma serta temannya keluar lalu menutup pintu gerbang. Keduanya diusir dari rumah itu secara kasar dan menyedihkan. Supir yang membawanya langsung meluncur kembali kerumah kediaman keluarga Jatmika. Sepanjang perjalanan tak ada sepatah katapun yang terucap dari mulit Emma.
Dia tak pernah membayangkan jika rencananya untuk memberi pelajaran pada Rian dan Anastasya ternyata sangat sulit malah membuatnya terusir. Keenan pun semakin membencinya dan menatapnya menjijikkan, bahkan pertunangannya pun terpaksa putus.
“Arggg…...” teriak Emma yang sudah tidak tahan dengan kekesalan dan rasa sesak didadanya. Supir dan temannya pun menoleh terkejut melihat Emma yang sangat marah.
Sementara itu dikediaman keluarga Bagaskara, Anastasya yang menyaksikan bagaimana Keenan mengusir Emma pun merasa takjub. Dia masih bertanya-tanya kenapa pria itu tiba-tiba mengusir Emma. Tidak peduli dengan apa yang baru saja terjadi, saat ada orang yang membalas musuhnya maka orang itu adalah teman Anastasya!
Anastasya tersenyum pada Keenan tanpa sadar. “Terimakasih untuk apa yang sudah kau lakukan tadi.”
Waktu itu jika saja Keenan tidak ada disana mungkin wajah Clarissa sudah dirusak anjing milik Emma. Alis Anastasya melengkung sambil tersenyum manis membuat Keenan tiba-tiba merasa kakinya tidak berpijak dibumi dan tubuhnya melayang.
“Ya, tidak masalah.” ucapnya lalu berbisik pada Brandon, “Dialah sang dewi yang kuceritakan padamu waktu itu! Aku menyukainya dan akan mengejarnya. Aku akan mendapatkan hati dan cintanya.”
Sontak wajah Brandon pun pias dan menunjukkan ketidak senangannya, ingin rasanya dia melahap Keenan bulat-bulat. Jadi Anastasya adalah gadis yang selama setengah bulan ini terus dicari oleh Keenan? Semakin Brandon memikirkannya dia semakin tidak suka dan membuatnya marah. Apakah mereka akan saling bersaing demi gadis itu? Tempo hari dia berkelahi dengan Kenneth dan sekarang saingannya bertambah lagi satu.
Bahkan ekspresi Kenneth pun lebih jelek, ketiga pria itu saling melemparkan tatapan tak senang. Sedangkan Anastasya yang tidak tahu menahu hanya tersenyum cerah pada semua orang kecuali Kenneth. Sepertinya hanya pada Kenneth saja dia tidak peduli. Entah sikapnya yang mana yang membuat Anastasya tidak senang. Kenneth mencoba bersabar dan saat dia hendak bicara pada Anastasya, ponselnya malah berdering.
Sutradara Ero terdengar sedang menahan amarah dan tak sabar. “Tuan Muda Archilles bagaimana ini? Aktris yang anda rekomendasikan kemarin benar-benar payah. Dia sama sekali tidak cocok untuk peran utama. Aku ingin menggantinya secepatnya, aku sudah tidak bisa mentolerir lagi! Meskipun anda bersikeras mempertahankannya maka lebih baik anda mengganti saya saja. Saya tidak mau lagi menyutradarai film ini! Ganti sama yang lain saja!”
Kenneth bingung lalu menatap Anastasya. Apa maksudnya semua ini? “Ada apa sebenarnya?” ujar Kenneth menanyakan pada Eros.
“Sebagai pemeran utama di film ini, wanita utama harus dirias alami tapi dia tidak mau dan ingin selalu dirias dengan cantik. Dia tidak suka jika riasannya membuatnya jelek sementara di film ini pemeran utama wanita memang harus tampak alami tanpa riasan. Film ini tentang sebuah bencana, bagaimana mungkin si pemeran utama melarikan diri dari bencana dengan riasan cantik.”
Eros menghela napas lalu bicara lagi. “Oke, soal ini mungkin tidak masalah masih bisa dicari solusinya tapi ada adegan dimana pemeran utama harus di gantung. Tapi barusan wanita itu malah meminta stuntman untuk menggantikannya karena dia bilang adegan itu menyakitkan. Sedangkan adegan itu harus direkan dengan kamera close up! Bagaimana mungin digantikan stuntman? Ini benar-benar konyol, belum lagi dia selalu marah-marah dan memerintah semua orang disini sesuka hatinya.”
Eros meluapkan semua emosi yang ditahannya sejak tadi. Kenneth bisa merasakan kemarahan pria itu tapi saat dia mendengar kata “barusan”, sontak pikiran Kenneth tertuju pada Anastasya dengan curiga. Bagaimana bisa?
“Tadi kau bilang barusan? Kira-kira kapan kejadiannya?” tanya Kenneth penasaran.
“Beberapa detik yang lalu sebelum aku meneleponmu. Kepalaku sakit mendengar teriakannya.”
“Apa? Beberapa detik yang lalu kau bilang?” Kenneth terdiam sejenak. “Siapa nama pemeran wanita itu?”
“Tasha. Ya namanya Natasha Hilman.”
Tasha…..
Tasha…..
Mata Kenneth memicing, dia sedang berpikir kerasa dan mencoba mengingat kejadian sejak awal dan penyebab semua kejadian ini. Akhirnya dia mengerti mengapa waktu itu tiba-tiba dikabarkan kalau Anastasya ingin berperan dalam film itu dan mengapa Eros merasa tidak cocok dengan Anastasya.
Orang itu bukan Anastasya, penulisan namanya berbeda. Jika disebutkan maka terdengar sama padahal berbeda jauh. “Sialan!” umpat Kenneth.
Eros terkejut mendengar umpatan Kenneth, dia tak tahu kenapa dia malah dimaki. Baru saja dia ingin bertanya malah teleponnya sudah diputuskan. Sedangkan suara Natasha yang penuh drama kemunafikan terdengar dari belakang Eros.
“Apa kalian tidak mendengarku? Aku sudah bilang berulang kali aku minta stuntman! Kalau kalian membantahku maka aku akan meminta CEO Archilles Corp untuk menarik dananya dari film ini! Kalian harus ingat siapa aku.”
Eros semakin pusing menghadapi sikap arogan Natasha, dia memijit pelipisnya lalu melemparkan naskah ke lantai. “Aku berhenti! Aku sudah tidak tahan lagi!”