THE PROMISE

THE PROMISE
BAB 56. PERAN SEBAGAI PANGERAN



Anastasya tersenyum kaku mendengar plot cerita itu. “Jatuh cinta kepada putri karena secangkir kopi? Apakah itu terdengar tidak masuk akal?”


Sutradara itu langsung menggelengkan kepala dan membantah. “Dongeng memang tidak masuk akal kalaupun masuk akal maka dongeng tentang pangeran yang mencari cinderella dengan sepasang sepatu kristal itu tidak akan pernah ada.”


Lalu sutradara itu melanjutkan ucapannya, “Begitu banyak orang yang memiliki ukuran sepatu yang sama tetapi kenapa malah cinderella saja yang bisa cocok dengan sepatu itu? Apa yang terjadi? Apa itu juga terdengar tidak masuk akal?”


Anastasya pun terdiam dan tak bisa membantah lagi. Asisten muda yang berada disebelahnya lalu menyeletuk. “Tetapi perubahan mendadak begini mau cari dimana aktor untuk pemeran pangerannya?”


Sutradara itu langsung tersedak saat mendengar ucapan asisten Anastasya. Ya, benar juga. Anastasya sangat cantik dan tampak seperti putri di cerita dongeng tapi jika pangerannya tidak sesempurna yang seharusnya maka adegannya tidak akan terlihat sempurna lagi. Dan pada saat itu tiba-tiba terdengar sebuah suara dari belakang.


“Biar aku saja yang jadi pangeran….”


Lalu Anastasya menoleh dengan terkejut melihat Brandon yang mengenakan pakaian kasual hitam sedang berjalan mendekatinya. Brandon berdiri sekitar satu meter dari Anastasya dan berkata pada sutradara. “Lagipula aku sedang tidak ada kerjaan, biar aku saja yang berperan sebagai pangeran. Bagaimana menurutmu apakah kami terlihat cocok?”


Brandon yang berperawakan tinggi dan maskulin dengan sepasang alis yang tebal, matanya yanghitam membuat rahang wajahnya tegas. Dia juga adalah blasteran sehingga ekspresi mata dan alisnya tampak lebih jelas.


Kulitnya yang berwarna gandum dengan oto-otot yang kuat tapi tidak nampak terlalu berlebihan adalah poin plusnya.  Dia adalah pria dengan penampilan paling sempurna.


Mata sang sutradara langsung berbinar-binar melihat pria tampan dihadapannya dan wanita cantik. Dia sangat yakin iklan ini akan langsung populer. Sang sutradara pun langsung menyetujui dengan tergesa-gesa. Dia tidak mau kehilangan kesempatan langka ini.


“Bagus sekali jika anda bersedia mengikuti syuting. Tapi anda harus mencari pakaiannya dulu. Pakaian anda ini terlalu kasual sebaiknya mengenakan setelan jas.” ujar sutradara.


Brandon berasal dari keluarga militer jadi dia mengenakan setelan jas kecuali pada acara yang sangat formal. Dia tertegun sejenak  mendengar ucapan sutradara itu.


Lalu dia melirik kearah Kenneth yang berdiri tidak jauh dari sana tiba-tiba mengangkat alisnya mendapatkan sebuah ide cemerlang. “Kenneth cepat pinjamkan aku jasmu sebentar.”


Kenneth mengeryitkan dahi dengan tatapan dingin. Saat Brandon melihat ekspresi wajah Kenneth, tiba-tiba dia teringat dengan kebiasaan Kenneth yang mencintai kebersihan lalu dia pun berkata “Lupakan saja aku akan meminta sesorang untuk mengantarkan satu set setelan jas untukku.”


“Ah lupakan saja, aku akan meminta seseorang mengantarkan satu set setelan jas untukku.”


Brandon baru saja hendak mengambil ponselnya ketika tiba-tiba ada tangan yang menahannya.


“Tidak perlu! Biarkan aku saja.” ujar Kenneth dengan nada dingin.


Brandon lalu tersenyum, “Oh saudaraku kau memang sangat baik bersedia meminjamkan jas-mu untukku agar menghemat waktu. Terimakasih.”


“Siapa bilang aku mau meminjamkan jasku padamu?”tanya Kenneth sambil melirik Brandon.


Brandon menjadi bingung dan bertanya-tanya dalam hati apa maksud Kenneth. Lalu Kenneth mengubah raut wajahnya. “Karena kau tidak punya pakaian maka aku saja yang akan melakukan syuting. Lagipula ini iklan untuk produkku sendiri.”


“Ha…..?” Brandon sangat terkejut. Setelah berpikir sejenak dan memastikan dia tidak salag dengar, dia pun meraih tangan Kenneth.


“Jadi…?” tanya Kenneth.


“Ja….di?” Brandon bertanya-tanya, ini sama sekali bukan gaya Kenneth.


Sutradara bahkan tidak mempercayai pendengarannya dan segera mengkonfirmasi pada Kenneth.


“Tuan muda Archilles apakah anda benar-benar ingin memerankan tokoh pangeran disyuting ini?”


“Mengapa kalian berdua ini bertanya perihal ini terus meneru? Cepat siapkan semuanya, kita segera syuting. Aku tidak punya banyak waktu.” kata Kenneth dengan alis berkerut tak sabar.


“Ya ya ya segera!” jawab sutradara dengan tangan gemetar merasa gembira. Sang sutradara langsung memberitahukan pada Anastasya dan Kenneth mengenai plot cerita agar mereka bisa mengambil posisi.


Plotnya sangat sederhana sehingga tidak banyak yang perlu dijelaskan oleh sutradara. Pancaran cahaya dari jalan yang dilalui oleh Anastasya secara tak sadar seperti bersandar pada Kenneth. ‘Ada apa dengan orang ini sebenarnya?’ pikir Anastasya tapi dia tidak mau baper lagi. Meskipun dia merasa heran mengapa tiba-tiba Kenneth mau ikut berperan dalam iklan itu.


Tapi mengingat Kenneth yang begitu mencintai kebersihan dan tidak suka barang miliknya dipakai orang lain, mungkin itu alasannya dia ikut syuting. Daripada harus meminjamkan bajunya pada orang lain pria itu memilih ikut berperan sebagai pangeran.


Dia benar-benar pria yang sulit dipahami dengan begitu banyak kebiasan-kebiasaan dan sifatnya yang aneh. Siapapun yang menikah dengannya kelak pasti sedang terkena karma buruk.


Kenneth mendengarkan dengan seksama penjelasan sutradara tentant plot cerita, tapi tiba-tiba dia menyadari kalau Anastasya sedang menatapnya. Entah mengapa dia merasa tangan yang dia letakkan dengan sembarangan di kedua sisi badannya seperti tidak diletakkan pada tempat yang seharusnya.


Wanita ini…..mengapa dia menatapnya seperti itu didepan semua orang? Apa yang sedang dia lihat? Kenneth tahu dibalik kata canda Anastasya sebenarnya dia menginginkannya.


Dengan ditatap seperti itu membuat telinga Kenneth memerah. Akhirnya dia sudah tidak tahan lagi dengan sikap Anastasya lalu menatapnya balik sambil pura-pura marah. “Lihat apa, hemm?”


Anastasya langsung menatapnya dengan muak. Lihatkan sifatnya ini aneh dan sulit dihadapi, dia bahkan tidak mengijinkan orang lain melihatnya. Gumam Anastasya dalam hati.


Kenneth melihat tatapan muak di mata Anastasya, tadinya dia mengira jika Anastasya menatapnya dengan penuh kerinduan, bukan tatapan muak! Amarah langsung memenuhi dada Kenneth tetapi dia tidak bisa melampiaskannya, dia hanya bisa mengertakan gigi saja dengan keras.


Sutradara merasa sudah menjelaskan dengan cukup pada kedua orang itu lalu dia membiarkan keduanya mencoba melakukan syuting itu sekali.


Saat mereka melakukan percobaan adegan syuting itu hasilnya sempurna!


“Mereka berdua serasi sekali!” ujar asisten muda bernama Amira Cahyani itu sambil menghela napas. Baru saja dia menyelesaikan kalimatnya, dia merasakan seseorang menatapnya dengan kesal. Dia pun melirik mengikuti tatapan itu dan melihat Brandon langsung membuang muka. Amira langsung menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Ehh! Mengapa dia merasa bahwa baru saja dia menerima tatapan kematian? Apakah hanya perasaannya saja? Bagaimana mungkin Brandon menatapnya begitu menakutkan? Saat Amira merasa bingung, Anastasya mulai melakukan syuting lagi.


Dengan secangkir kopi ditangannya dia berjalan perlahan menghampiri Kenneth yang tampak dingin.


Kenneth memang selalu memasang ekspresi dingin diwajahnya, sedingin es sehingga tidak perlu berakting lagi. Dia hanya perlu menunjukkan ekspresi aslinya saja. Yang menjadi kekhawatiran sang sutradara adalah pada bagian akhir dimana Kenneth harus memandang Anastasya dengan kagum dan dia harus menatapnya dengan penuh kasih sayang. Pasti itu akan terlalu sulit bagi Kenneth!