
Natasha yang juga mendengar pujian dari bawah panggung menjadi senang dan membuatnya merasa puas dengan kemampuan dirinya. Dia semakin yakin kalau dialah pemenangnya. Tak sia-sia dia sudah membayar mahal seorang desainer terkenal untuk memberinya ide tema.
Setelah mendapatkan tema itu, dia sudah berlatih keras dirumahnya untuk membuat karya yang menakjubkan. Natasha tahu jika video itu akan diunggah di blog resmi institut, dia pasti mendapatkan banyak penggemar dengan begitu langkahnya untuk masuk kedunia perfilman akan semakin mudah dan dia tidak akan membutuhkan kerja keras untuk mendapatkan penggemar lagi.
Saat itulah Kenneth akan kagum padanya dan akhirnya akan mulai memperhatikannya, bahkan mungkin akan jatuh cinta padanya. Jadi dia akan mendapatkan dua keuntungan yaitu cinta dan karir! Bukankah rencananya sangat brilian?
Semakin dia memikirkan semuanya membuatnya tersenyum, diapun lalu melirik kearah Anastasya yang masih sibuk melukis latte art-nya. Tema yang dipilih oleh Anastasya hanyalah melukis bunga dan pohon buah yang bermekaran, tehnik yang digunakan Anastasya tidak jelek tapi jika dibandingkan dengan lukisan Natasha maka konsep seninya masih lebih buruk.
Tampak Anastasya sudah selesai melukis latte art-nya lalu dia memanggil pembawa acara, “Pembawa acara bolehkah anda membantuku?”
Pembawa acara pun segera menghampiri Anastasya.
‘Huh berlebihan sekali memanggil pembawa acara! Meskipun Kenneth mendukungnya sekalipun Anastasya tidak akan dapat menang. Ini adalah tantangan terbuka yang ditonton dan dinilai oleh banyak orang. Mana bisa dia menang dengan cara curang hanya mengandalkan dukungan Kenneth? Geram Natasha dalam hati.
“Apa yang bisa saya bantu?” tanya pembawa acara pada Anastasya. Anastasya melihat kopinya sedang ditampilkan di monitor dan inilah kesempatannya untuk beraksi.
“Bisakah anda meminjamkanku kertas naskah yang ada ditanganmu?” tanya Anastasya.
“Boleh. Silahkan saja.” ujar pembawa acara itu dengan senang hati membantu lalu dia menyerahkan kertas ditangannya pada Anastasya.
Natasha menatap ke layar monitor yang menampilkan latte art karya Anastasya dan diapun mencibir mengejek. Itu hanya lukisan biasa dan tidak ada istimewanya. Hatinya semakin tenang karena tidak ada yang perlu dicemaskan dari karya Anastasya. Gadis desa itu tidak akan menang darinya!
Anastasya memegang kerta naskah yang diberikan pembawa acara lalu dia berpindah kesudut yang tepat lantas mulai mengipasi kopi dengan gerakan lembut.
Natasha terdiam, semua yang hadir pun terdiam melihat tampilan di layar monitor. Kenapa gadis itu malah mengipasi kopinya? Begitu hembusan angin dari kipasan kertas ditangan Anastasya bertiup, terlihat pola lukisan di kopi itu menyebar, lukisan bunga dan pohon buah mulai terbuka. Bahkan seolah-olah bunga dan bunga pohon buah seakan bergerak bermekaran dan jatuh. Anastasya berhenti mengipas dan membungkuk pada para hadirin lalu mengambil mikrofon, “Inilah karyaku yang bertema hembusan angin musim bunga mengiringi indahnya bunga dan buah yang bermekaran membawa kedamaian. Terimakasih sudah menyaksikan.”
Ini benar-benar mengejutkan! Sungguh sebuah karya Latte Art yang luar biasa, baru kali ini mereka melihat sebuah karya Latte Art yang bergerak dan hidup! Secangkir kopi itu bisa berharga ratusan ribu tapi dengan lukisan bergerak selama beberapa detik itu bisa membuat kopi itu bisa dijual seharga jutaan rupiah! Ini bukan saja tentang kopinya tapi keahlian melukis diatas kopi yang bernilai tinggi!
Semua orang masih kagum dan Kenneth yang pertama kali mengangkat tangan lalu bertepuk. Karya Latte Art milik Anastasya itu sama sekali tidak berlebihan, lukisan diatas kopi itu sesuai dengan temanya. Kenneth pun mengerti kenapa Anastasya berani menerima tantangan itu dan tampak tenang.
Gadis itu memang agak kasar bicaranya tapi Kenneth tidak menyangka jika gadis yang sudah mengacaukan pikirannya itu ternyata punya keahlian dan juga begitu lembut dan elegan. Berapa banyak lagi rahasia yang dimilik gadis itu?
Akhirnya ruangan itupun dipenuhi tepuk tangan para hadirin. “Hebat sekali! Ini sungguh luar biasa!”
“Aku belum pernah melihat karya Latter Art seperti itu sebelumnya. Ini sungguh hebat!”
“Gadis itu benar-benar hebat dan cantik! Wah…..aku mengidolakannya.”
“Apakah karya itu bisa dibuat hak patennya?”
“Ini pasti menjadi viral dan terkenal!”
“Siapakah gadis itu sebenarnya? Tidak mungkin dia dari desa.”
“Aku juga penasaran apakah dia salah satu murid dari The World Coffee Institut?”
“Mungkin dia seorang barista profesional tapi mengapa aku belum pernah melihatnya sebelum ini?”
Danendra masih syok akibat kejutan yang diberikan Anastasya, begitu dia sadar diapun mulai menyombongkan diri. “Ah….dia adalah putriku! Ya dia putri sulungku. Dia bukan murid dari The World Coffee Institut!”
“Benarkah dia putri anda? Bukankah gadis yang satu lagi juga putri anda?” tanday seorang tamu.
“Ya benar. Mereka berdua adalah putriku yang hebat!” ujar Danendra bangga.
“Anda sungguh beruntung memiliki putri-putri yang hebat.”
“Bisakah memutar kembali videonya? Kami ingin melihat video itu lagi.”
“Apakah kopinya dijual? Bolehkah dicicipi? Aku akan membayar berapapun untuk kopi itu!”
Seorang pria menghampiri Danendra lalu berkata “Maaf Pak. Perkenalkan namaku Danny. Aku adalah CEO dari Champion Coffee. Bolehkah aku berkenalan dengan putrimu?”
“Aku juga ingin berkenalan dengan putrimu. Aku juga seorang CEO dari perusahaan XX...”
Para sponsor bergegas mendekati Danendra untuk mendapatkan nomor telepon pria itu. Dalam sekejap wajah Danendra berseri karena gembira dengan keberuntungan yang didapatnya malam ini. Sepanjang hidupnya dia belum pernah disambut dan didatangi begitu banyak sponsor dari perusahaan terkenal. Dia semakin merasa beruntung karena Anastasya sangat berharga dan membawa keberuntungan baginya.
Hal itu tidak membuat Clarissa tidak senang, pandangan nanar dan wajahnya gelap. Dia mengepalkan kedua tangannya. Mengapa bisa jadi seperti ini? Kenapa selalu gagal dan Anastasya yang mendapatkan keberuntungan? Ini sungguh tidak adil! Tidak seharusnya berakhir seperti ini! Clarissa semakin membenci Anastasya, hanya dalam beberapa hari saja gadis itu mengalahkannya dan putrinya. Sepasang ibu dan anak itu selalu kalah telak! Harusnya Natasha yang menjadi bintang malam ini tapi sekali lagi gadis desa itu mengalahkannya!
Clarissa bertekad untuk menyelidi tentang Anastasya, tidak akan sesederhana itu, bukan? Apakah dia benar-benar tinggal di pedesaan dan tidak berpendidikan? Dibandingkan dengan Clarissa justru Natasha tidak bisa mengontrol emosinya.
“Anastasya! Kau pembohong! Dasar ****** kecil!” teriaknya marah mendekati Anastaasya lalu menarik bajunya. “Kau tidak bisa minum kopi bahkan tidak pernah minum kopi! Bagaimana kau bisa membuat Latte Art, ha? Dasar kau pembohong! Kau pembohong! Pasti kau tukang sulap, iyakan?”
Ekspresi Natasha sangat mengerikan, wajahnya memerah karena marah, matanya melotot menatap tajam pada Anastasya. Saat tangan Natasha mengangkat satu tangannya ingin menampar Anastasya.
Anastasya menahan tangan itu dan mencibir pada Natasha, “Apa yang kau lakukan! Lepaskan tanganmu dan jangan coba-coba memukulku! Selama ini aku diam menerima perlakuanmu dan ibumu. Jika kau terus bersikap kasar maka jangan salahkan aku jika aku membalasmu!” bentak Anastasya.