
Luka tusukan itu tampak sangat dalam seolah pisau yang menusuknya tertusuk sampai ke tulang. Bekas jahitannya juga terlihat menakutkan. “Kau….” Anastasya tercekat karena kaget. Dia melihat luka itu kembali berdarah, kondisinya sangat mengenaskan. Anastasya langsung teringat sesuatu. Dia teringat kejadian diluar negeri beberapa waktu lalu. Saat dia berjalan-jalan keluar setelah makan malam dan saat itu dia melihat seorang pria yang dihajar sekelompok orang bersenjata tajam.
Hal seperti itu jarang terjadi diluar negeri, saat Anastasya melihat seorang pria bersenjata tajam itu mengayunkan samurainya hendak menebas sesuatu, dia pun berlari mendekat. Kemampuan ilmu bela dirinya mumpuni tapi dia hanya seorang gadis melawan segerombolan pria.
Karena keadaan terdesak, dia pun menyeret pria itu dan menyelamatkan diri. Bahu pria itu terluka parah, saat itu Anastasya memanggil taksi dan menyuruh taksi mengantar pria itu ke rumah sakit. Anastasya juga memberikan sejumlah uang pada pria itu.
Kini pria yang diselamatkannya malam itu ada didepannya. “Kau….apakah kau...”
Sudut bibir pria itu terangkat dan menghela napas lega, “Sudah lama aku mencarimu di luar negeri. Teman-temanku yang diburu gerombolan penjahat itu menghilang lalu aku kembali kesini. Tapi aku terus mencarimu hingga aku memperoleh informasi tentang keberadaanmu tapi entah mengapa aku tidak bisa menemukanmu lagi. Semua informasi tentangmu hilang begitu saja.”
Akhirnya Anastasya teringat ucapan asistennya yang mengatakan kalau ada seseorang yang sedang menyelidikinya. “Siapa namamu?” tanya Anastasya ragu-ragu.
“Diego! Diego Satoshi! Namaku Diego Satoshi!”
“Benar ternyata dia orangnya!” gumam Anastasya. “Aku sama sekali tida menyangka kalau aku telah menyelamatkan nyawa seorang CEO dari Oshi Corp yang terkenal. Apa kabarmu? Apakah kau baik-baik saja? Lukamu berdarah lagi.”
“Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja apalagi setelah bertemu denganmu.”
“Baiklah kalau begitu.” ujar Anastasya. “Aku mau pulang. Pergilah kerumah sakit dan obati lukamu, kalau tidak diobati nanti lukamu bisa infeksi lagi.”
“Ini hanya luka kecil. Tidak mengapa. Kau tinggal dimana sekarang? Apakah kau menetap disini? Aku ingin membalas kebaikanmu waktu itu, bolehkah aku meminta nomor ponselmu?” tanya Diego.
Anastasya heran mengapa semua orang ingin membalas budi padanya padahal dia tulus menolong mereka semua.
“Tidak perlu membalas budi padaku. Aku senang melihatmu dalam keadaan baik. Aku harus segera pulang, sampai jumpa lagi.” Anastasya enggan memberikan nomor ponselnya pada sembarang orang.
Dia pun berjalan meninggalkan komplek villa itu, tapi Diego malah mengikuti dibelakangnya. Anastasya bingung dan menoleh ke belakang, “Apakah ada yang lain? Kau membutuhkan bantuanku?”
“Tidak ada….” jawab Diego menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Ini sudah larut malam dan aku mengkhawatirkanmu. Tidak baik bagi seorang gadis jalan sendirian malam-malam begini. Lebih baik aku menemanimu pulang. Aku tidak akan mengganggumu, anggap saja aku tidak ada.”
“Aku bisa menjaga diriku sendiri, tak perlu khawatirkan aku. Apa kau lupa jika waktu itu aku yang menolongmu? Lebih baik kau pergi kerumah sakit mengobati lukamu.” kata Anastasya menatap pria itu. “Pergilah, jangan sampai kau diburu dan dihajar orang-orang itu lagi. Jika itu terjadi mungkin aku tidak bisa membantumu kali ini.”
Diego kembali menggaruk kepalanya. “Waktu itu kami dijebak, aku disuntik obat bius hingga tak berdaya melawan mereka. Lagipula itu terjadi diluar negeri kalau sekarang aku berada dinegaraku sendiri. Tak akan ada yang terjadi padaku.”
“Baiklah kalau begitu kau bisa menemaniku sampai pintu gerbang komplek ini. Aku akan pulang naik taksi.”ucap Anastasya melihat sikap pria itu yang bersikeras.
“Oke.”
Keduanya pun berjalan sampai di pintu gerbang komplek, sebuah taksi sedang menunggu didepan gerbang lalu Anastasya menaiki taksi itu. Diego memberikan sejumlah uang pada supir taksi dan berkata, “Ini uang taksinya. Tolong antarkan dia dengan selamat sampai kerumahnya.”
“Baik, jangan khawatir. Pacar anda akan sampai dengan selamat.” ucap supir taksi itu tersenyum.
“Nona, pemilik villa itu bernama Raymond Xavier.”
“Raymond Xavier? Bukankah dia yang mengelola semua aset Clarissa di luar negeri?” tanya Anastasya.
“Benar nona. Dia bahkan sering booking hotel bersama Clarissa dan villa itu baru saja dibeli oleh Clarissa.”
Tiba-tiba mata Anastasya berbinar….jadi Clarissa sering booking kamar hotel? Benar-benar bodoh dan memalukan! Ternyata dia sengaja membuat Danendra mabuk agar bisa menemui laki-laki itu! Clarissa benar-benar nekat menemuinya!
“Ada informasi lain nona. Ternyata orang yang memeriksa identitasmu di pedesaan dan yang menculik dan ingin membunuhmu di kapal pesir juga adalah orang suruhan Raymond Xavier.”
Anastasya mengeram marah dan mengepalkan tangannya. “Cari informasi tentang Raymond ini. Selidiki dia dan temukan semua rahasia mereka secepatnya.”
“Baik nona!”
Anastasya tersenyum, kini dia bisa menerka apa rencana Clarissa yang sebenarnya. Dia harus makin hati-hati sekarang. Benak Anastasya dipenuhi dengan berbagai rencana dan langkah-langkah berikutnya yang harus dia lakukan. Kini dia bisa mengandalkan perlindungan Kenneth, ya pria itu akan sangat berguna kelak untuk membantunya saat menemui kesulitan.
...****...
Di dalam villa yang tadi dimasuki Clarissa, seorang pria tersenyum menyambutnya. Pria itu memeluk erat Clarissa dan menciumnya penuh kerinduan. Pria itu hanya mengenakan handuk yang melilit dipinggangnya sedangkan tubuh bagian atasnya polos menunjukkan bentuk tubuhnya. Raymond mengangkat tubuh Clarissa dan menekannya ke dinding. “Raymond….” desah liirh Clarissa saat bibir pria itu menyusuri lehernya. Keduanya saling berciuman melepaskan kerinduan.
Tiba-tiba Clarissa tersadar kalau semua pakaiannya sudah dilucuti dan tubuhnya polos. “Hei….tunggu dulu. Katakan padaku apa yang kau temukan?”
Tapi Raymond mengacuhkan lalu membopong tubuh polos Clarissa ke kamar di lantai dua. “Kita senang-senang malam ini. Soal lainnya bisa kita bicarakan besok, malam ini kamu puaskan aku sayang.
“Aahh…..” Clarissa berteriak saat tubuhnya dihempaskan keatas ranjang. Dengan cepat raymond melepaskan pakaiannya lalu naik ke ranjang dan menekan tubuh Clarissa.
Clarissa yang sudah merindukan sentuhan pria itu hanya pasrah dan tersenyum tanpa pnolakan. Dia sangat menginginkannya. Danendra memang pria paruh baya yang tampan dan tubuhnya kekar tapi dia tidak bisa memuaskan gairah Clarissa diatas ranjang. Setiap kali melakukannya, clarissa hanya berpura-pura menikmatinya. Berbeda dengan Raymond yang memapu membangkitkan gairah liar Clarissa, pria itu selalu memuaskannya bahkan kadang Clarissa kewalahan dengan kekuatan Raymond.
Clarissa pun mulai menikmati sentuhan Raymond, untuk saat ini dia hanya ingin kepuasan dan melupakan tentang urusan Anastasya. Keduanya bergulat berjam-jam sampai kelelahan dan peluh membasahi tubuh keduanya. Nafas keduanya terengah-engah, Raymond duduk sambil merokok ditepi ranjang. Dia tersenyum puas dengan pelayanan Clarissa.
“Apa yang kau khawatirkan? Gadis itu hanya gadis desa yang tidak tahu apa-apa, aku sudah menyelidikinya dan dia benar-benar gadis desa.”
“Apa maksudmu? Jangan bilang kalau kau tidak mendapatkan informasi apapun tentang dia.” seru Clarissa dengan kesal.
“Aku sudah menyelidikinya. Semua orang didesa itu mengenalnya dengan baik, dia benar-benar tumbuh besar disana dan bersekolah di desa itu. Ijazahnya juga dikeluarkan oleh sekolah didesa itu. Dan aku sudah memeriksa ke pihak sekolah dan semua datanya sesuai dan asli.” ucap Raymond.
Clarissa pun terdiam. “Apakah semua sudah diperiksa ulang? Teman-temannya, guru dan orang-orang didesa itu? Tidak ada yang terlewatkan?”