THE PROMISE

THE PROMISE
BAB 42. MENYEMBUNYIKAN IDENTITAS



Natasha membayangkan saat dirinya menjadi aktris terkenal pasti Kenneth akan memandangnya, mengingatnya dan memperhatikannya lalu akan jatuh cinta. Jadi dia harus bersabar dan mengambil langkah tepat yang tidak terburu-buru toh semuanya butuh proses.


Di sebuah cafe, dua pria sedang duduk berhadapan. “Tuan Muda Archilles, kita sudah bertemu beberapa kali dan aku tahu kalau kamu adalah orang yang tidak suka mencampur adukkan urusan pribadi dengan urusan bisnis. Jadi aku ingin mengatakan ini padamu, temanmu itu tidak berbakat sama sekali. Dia tidak akan membantu filmku ini, jika aku memakainya sebagai pemeran utama wanita maka film ini tidak akan laku. Aktingnya benar-benar buruk!”


Kenneth sangat menghormati Eros, itulah alasan kenapa dia bersedia mengeluarkan banyak uang untuk film yang disutradrai oleh Eros Bratadikara. “Tasya adalah temanku, dia seseorang yang sangat penting bagiku. Meskipun dia tidak berbakat tapi aku tahu kalau dia adalah gadis yang rajin dan pintar. Berikan dia kesempatan, aku yakin dia bisa cepat belajar dan kamu akan terkejut olehnya.”


Eros sangat terkejut dengan ucapan Kenneth, dia sama sekali tidak melihat semua kemungkinan yang diucapkan Kenneth pada diri Tasha. Bagaimana bisa Kenneth bicara seperti itu? Yang Eros tahu selama ini Kenneth adalah orang yang jujur dan tidak akan membiarkan siapapun mendapatkan sesuatu dengan jalan pintas.


Tapi apa yang terjadi sekarang? Kenneth bahkan memintanya untuk memberikan kesempatan pada gadis yang tidak berbakat sama sekali dan gadis itu bahkan ingin mendapatkan peran itu dengan jalan pintas.


“Kamu belum mengenalnya, saat kamu sudah mengenalnya maka kamu pasti akan paham kenapa aku mendukungnya.” ujar Kenneth. “Kamu tidak akan menyesal sudah memilihnya, aku bisa jamin itu!”


Meskipun Eros merasa berat hati tapi akhirnya dia pun menggangguk. “Baiklah kalau kamu begitu yakin pada kemampuan wanita itu. Aku pun tidak mengerti mengapa wanita itu layak mendapatkan perhatianmu dan membuatmu melanggar semua prinsip yang pegang selama ini.”


‘Apakah Kenneth ini buta? Gadis itu tidak berbakat, dia juga gadis yang tidak sopan, tidak bertangung jawab, kasar, angkuh, malas dan manja. Bagaimana bisa Kenneth berteman dengan gadis seperti itu? Gumam Eros dalam hati.


Akhirnya Kenneth pun buka suara, “Tasya pernah menyelamatkan hidupku, dia adalah gadis yang sangat istimewa dan dia itu gadis yang pintar. Berikan saja peran itu padanya dan anggap ini hutang budiku padamu.”


Mendengar ucapan Kenneth akhirnya Eros pun tak bisa berkutik selain setuju. “Baiklah, aku akan berikan peran itu padanya. Aku hanya berharap dia tidak akan mengecewakan semua orang yang sudah menaruh harapan padanya. Tetapi jika sesudah beberapa kali syuting dia masih tidak berhasil maka aku tidak akan memberinya kesempatan lagi.”


“Bagus, aku rasa itu sudah cukup. Jika dia gagal maka aku tidak akan ikut campur lagi dalam masalah ini dan kamu bisa lakukan apapun padanya.” ujar Kenneth. Pria itu mengenal Anastasya dan dia sangat yakin akan kemampuan Anastasya.


Hanya saja dia tidak tahu kalau yang dibantunya bukanlah Anastasya tapi Natasha yang punya nama panggilan yang sama. Setelah selesai berbincang dengan Eros, Kenneth mengirimkan sms pada anastasya.


Anastasya membuka sms itu ,’kau berhutang budi padaku.’


“Hutang budi? Pria ini sudah gila, hanya gara-gara aku menerima tawarnnya sebagai Brand Ambassador, aku berhutang budi?” Anastasya tampak bingung. Dasar pria pelit! Akulah yang menyelamatkan hidupnya, bagaimana bisa aku yang berhutang budi padanya? Jika saja waktu itu aku tidak menolongnya, entah sudah berada dimana pria itu sekarang, mungkin sudah dimakan ikan hiu.


Anastasya menggelengkan kepalanya lalu membalas sms Kenneth. “Kau memang pria yang sangat pelit dan perhitungan, kujamin kau pasti akan jadi bujangan seumur hidupmu!’


Kenneth yang membaca sms dari Anastasya membayangkan bagaimana marahnya gadis itu sekarang. Dia pun terkekeh. Sementara itu di villa keluarga Hilman, Anastasya yang baru saja pulang berpapasan dengan Natasha.  Saat dia sudah masuk kedalam rumah, Natasha langsung berteriak kencang, “Papa! Aku punya kabar baik! Aku mendapatkan pemeran utama wanita di film itu.”


Danendra senang dan teersenyum mendengar kabar itu, “Putriku sayang, papa sangat bangga padamu! Katakan padaku apa yang kamu inginkan maka papa akan berikan! Apakah kamu mau makan mewah nanti malam?” Danendra tertawa bahagia.


Clarissa pun merasa senang, ketiga orang itu langsung berpelukan sedangkan Anastasya hanya berdiri diam dan memalingkan wajahnya. Dia berusaha menahan perasaannya, dia sudah tahan untuk tinggal lebih lama disana.


Anastasya pun pergi ke kamarnya dan mengunci pintu. Setelah mandi dan berganti pakaian dia menghubungi asistennya yang berada diluar negeri. “Selidiki identitas orang yang mengelola property milik Clarissa diluar negeri. Selidiki juga semua aktifitas perusahaan Danendra Hilman dan proyek-proyek yang sedang dijalankannya. Sekalian cari informasi tentang Natasha, semua aktifitasnya dan siapa orang-orang dekatnya.”


“Baik.”


Awalnya Anastasya pikir jika Clarissa tulus mencintai Danendra karena dia menikahi suami kakaknya sendiri bahkan sebelum menikah mereka berselingkuh. Itu adalah hal yang sangat memalukan.  Bahkan sekarang Clarissa sepertinya punya rencana sendiri, memanfaatkan Danendra untuk kepentingannya tanpa pria itu sadari.


Tak lama menunggu, akhirnya asistennya menghubungi kembali, “Baru beberapa menit lalu aku meneleponmu, cepat sekali kau mendapatkan informasi yang kuminta?”


“Maaf, ada hal yang lupa aku beritahukan sesuatu tadi.” jawab sang asisten bernama Rene.


“Ada apa?”


“Ada seseorang yang sedang menyelidiki identitasmu baru-baru ini, hampir saja dia mengetahui jika perusahaan itu milikmu. Untung saja aku bisa cepat menutup semua akses sehingga orang itu tidak bisa menemukan apapun tentangmu.”


“Hem….menyelidiki aku? Siapa orang itu? Apakah Clarissa, Natasha atau siapa?” seru Anastasya terkejut.  Siapa orang yang sangat ingin tahu tentangnya.


“Bukan. Aku sudah menyelidiki identitas orang ini. Bodoh sekali dia karena dia tidak menyembunyikan identitasnya. Orang itu bernama Diego Satoshi, CEO dari Oshi Corp.”


“Diego Satoshi? Aku tidak kenal. Tutup semua akses tentangku, aku tidak peduli siapapun itu tidak ada yang boleh tahu tentang siapa aku sebenarnya. Belum saatnya aku mengungkapkan identitasku.” ujar Anastasya.


“Tidak perlu kahwatir. Aku sudah melakukan semuanya, tidak akan ada seorangpun yang bisa menyelidikimu.”


Pikiran Anastasya tidak tenang setelah pembicaraan dengan asistennya. Berulang kali dia menyebutkan nama Diego Satoshi, dia sama sekali tidak pernah mengenal orang itu meskipun namanya terdengar tak asing. Mungkinkah orang itu adalah suruhan Clarissa untuk menyelidikinya?


Anastasya langsung membuka ponselnya dan menelusuri pencarian nama perusahaan Oshi Corp dan akhirnya menemukan informasi yang dicarinya. Perusahaan itu bergerak dibidang teknologi terkenal. Tidak mungkin Clarissa punya kuasa untuk menyuruh seorang CEO perusahaan besar untuk menyelidikinya.


Anastasya tak ingin terlalu memikirkan masalah itu, membuang energi dan waktunya untuk hal tidak penting seperti itu. Dia harus fokus pada misi awalnya, dia juga tidak akan bisa menyembunyikan identitasnya terlalu lama jadi dia harus bergerak cepat dengan misinya. Seseorang sudah menyelidikinya sampai keluar negeri dan itu membuatnya khawatir jika identitasnya akan terbongkar.


...***...


Clarissa yang menerima telepon dari orang bayarannya, dia melirik Danendra lalu perlahan menjauh dan mencari sudut sepi dibelakang rumah yang sepi dan tak ada siapapun.


“Halo….apa kau sudah dapatkan informasinya?”


“Ya, Rissa sayang. Aku sudah pulang dan sangat merindukanmu.”


“Aku juga merindukanmu tapi aku tidak bisa menemuimu malam ini Danendra mengajakku dan Natasha untuk makan malam diluar. Aku akan menemuimu setelah makan malam, jangan lupa janjimu untuk memuaskanku malam ini, aku sudah merindukan sentuhanmu.”


“Iya Rissa sayang. Aku akan menunggumu ditempat biasa. Usahakan datang lebih awal agar kita bisa habiskan banyak waktu bersama malam ini.”