
Apalagi Anastasya sendiri sudah mengatakan kalau dia hanya memahami sedikit saja mengenai itu. Jika nantinya pengobatan itu tidak berhasil berarti Anastasya akan mencoreng wajahnya sendiri. Tentu saja Diego bukan mau sengaja menargetkan Anastasya tetapi lebih ke pengobatan tradisionalnya. Dia berasal dari keluarga yang berlatar belakang pengobatan barat modern, jadi sudah sewajarnya jika Diego tidak menganggap pengobatan tradisional. Selain itu Anastasya hanyalah seorang gadis yang berasal dari desa. Anastasya ini memang sangat cantik tetapi Diego sama sekali tidak percaya jika Anastasya memiliki kemampuan medis.
Disebelah sana tampak Anastasya dan Irene telah selesai membahas tentang penyakit pasien itu. Lalu Irene melepaskan maskernya dan menatap Anastasya dengan heran. “Nona apakah kita pernah bertemu sebelumnya?” tanya Irene hati-hati dengan menggunakan bahasa Indonesia. Anastasya melirik Irene dengan terkejut, diapun menyadari bahwa tadi Irene sengaja berbahasa Inggris untuk mempermalukannya saja.
Berarti dia sudah tahu sejak awal jika Anastasya bukan anggota keluarga si pasien. Tetapi sekarang Irene mengubah bahasa percakapannya menjadi bahasa Indonesia dan sikapnya terhadap Anastasya pun telah berubah. “Ini pertama kalinya kita bertemu.” ujar Anastasya.
“Tapi mengapa aku merasa seperti pernah melihatmu dimana….” Irene sedang berusaha mengingat-ingat ketika sikunya ditabrak oleh Keenan.
“Hei, cara pdkt mu itu sudah ketinggalan jaman kalau dinegara kita ini. Sebaiknya kau mengubah strategimu, oh tidak saat ini peringkatmu belum bisa ditentukan.”
Irene merasa heran lalu bertanya, “Peingkat apa maksudnya?”
Baru saja Keenan ingin menjawabnya ketika Diego datang menyela, “Kalian berdua sudah mengobrol begitu lama Irene. Bagaimana pendapatmu tentang metode pengobatan tradisional yang dia katakan? Apakah itu memang omong kosong?”
Irene menggelengkan kepalanya dengan bingung, “Aku tidak mengerti arti omong kosong, tetapi aku rasa metode yang dikatakan wanita itu boleh dicoba.”
“Metode apa?” tanya Diego khawatir. Dia tidak mengerti bahasa Inggris yang digunakan Anastasya jadi membuat Diego merasa canggung.
Lalu Irene menunjuk ke pria yang masih tertidur dan berkata, “Dia mengatakan bahwa akupunktur dan moksibusi dalam pengobatan tradisional dapat digunakan bersama-sama dengan stimulasi magnetik transkranial yang berulang-ulang.”
Diego tidak mengerti kata-kata terakhirnya lalu dia pun bertanya lagi, “Memangnya akupunktur dapat menyembuhkan penyakit mental? Kalau begitu untuk apa kita menggunakan begitu banyak obat-obatan dari pengobatan barat?”
Irene menggelengkan kepalanya, “Pengobatan tradisional sangat luas dan mendalam. Tahukah kau metode bekam yang bisa mengeluarkan racun-racun dalam darah dan tubuh? Bahkan kedua guruku saja mempelajari pengobatan tradisional ini sejak sepuluh tahun yang lalu. Mereka datang kesini untuk belajar dari tabib pengobatan tradisional dari beberapa negara di Asia. Jangan pernah meremehkan pengobatan tradisional, mungkin kita dapat mencoba metode ini.”
Saat Diego mendengar bahwa Dokter raymond dan istrinya juga belajar pengobatan tradisional akhirnya kekhawatirannya akan metode yang akan digunakan oleh Anastasya pun perlahan sirna. “Kalau begitu silahkan! Siapkan apapun yang dia butuhkan. Jika kau merasa kondisi pasien ini mulai tidak benar, kau harus langsung memberitahunya untuk segera berhenti. Aku tidak bisa membiarkan kesalahan apapun terjadi pada pasien ini.”
“Baiklah Tuan Satoshi! Kalau begitu aku akan pergi sekarang untuk mengambil perlengkapan yang dia butuhkan.” kata Irene sambil mengangguk hormat pada Anastasya lalu berbalik dan berjalan keluar. Tetapi setelah berjalan beberapa langkah tiba-tiba dia kembali lagi dan bertanya, “Nona, apakah kau mengenal Raymond dan istrinya yang sangat terkenal dibidang psikologi?”
Anastasya diam-diam mengepalkan kedua tangannya lalu menggelengkan kepalanya sebagai tanda penyangkalan, “Aku tidak kenal.”
Anastasya bisa menyangkal apa saja tanpa perlu tersipu ataupun terengah-engah kecuali orangtua angkatnya yang telah memperlakukannya seperti anak kandungnya sendiri. Dia merasa tidak enak hati karena menyangkalnya. Kebetulan kegelisahan ini tertangkap mata Irene dengan tepat. Lalu dengan tenang dia berkata, “Oh tidak kenal ya...aku kira kau mengenal mereka.”
“Raymond dan istrinya adalah pakar psikologi terkenal, bagaimana mungkin aku bisa mengenal mereka? Kau berpikir terlalu jauh.” jawab Anastasya.
Diego mengibaskan tangannya, “Mereka tidak mungkin saling kenal, pergilah dan siapkan peralatannya.”
“Oke.” jawab Irene sambil menatap Anastasya lekat-lekat sebelum membalikkan badannya dan pergi.
Anastasya menyadari jika tatapan mata Irene tidak biasa, akhirnya setelah kepergian Irene barulah dia bisa menghela napas lega. Orang tua angkatnya sering memanggil murid mereka kerumah untuk belajar sehingga Anastasya benar-benar khawatir jika Irene mungkin pernah melihatnya. Pada saat itu, Kenneth berjalan kearahnya, “Apa kau benar-benar tidak mengenal pasangan suami istri Raymond dan Valeria itu?”
Ekspresi wajah Anastasya langsung membeku dan dia menggelengkan kepalanya. “Tidak kenal, tapi aku memang pernah mendengar nama mereka.”
Tiba-tiba Diego menghampiri, “Karena ucapanmu ini membuatku berpikir untuk mengundang pasangan suami istri Raymond dan Valeria untuk datang kesini membantu mengobati orang ini.”
Mata Anastasya bergerak sedikit dan ekspresi dimatanya dengan cepat disembunyikannya. Tidak ada seorangpun yang memperhatikan perubahan diwajahnya.
“Biarkan Anastasya mencobanya dulu, pasangan itu terlalu terkenal dan jika mereka berdua datang kenegara ini takutnya malah menarik perhatian banyak orang.” ujar Kenneth sambil menghela napas.
Diego pun mengangguk tanda setuju. “Ya benar. Irene adalah murid mereka, dia pasti belajar sesuatu dari pasangan suami istri itu. Biarkan Irene mencobanya sedangkan Nona Natasya...”
Diego tidak melanjutkan ucapannya, tetapi rasa tidak percaya yang ada dalam nada suaranya terdengar jelas. Anastasya pun tidak bicara lagi, dengan serius dia membantu pasien memeriksa denyut nadinya untuk mendiagnosis.
Tetapi tiba-tiba pria itu malah terbangun dan berteriak, “Ah…..jangan makan aku.” dan langsung mendorong Anastasya yang berdiri disampingnya. Anastasya yang tidak siap dengan dorongan itu pun oleng dan jatuh tanpa sempat menemukan sesuatu untuk dipegang. Tapi saat bersamaan sebuah tangan yang besar menahannya dengan kuat. Tanpa sadar, Anastasya menoleh dan melihat Kenneth menatap pria diatas tempat tidur itu dengan ekspresi dingin.
Lalu Anastasya pun mengalihkan pandangannya kepada pria itu kemudian melihat Brandon yang entah darimana datangnya sudah berada disamping tempat tidur itu dan langsung meninju wajah pria itu. Dia hanya bisa mendengar suara yang teredam lalu pria itu memutar matanya kemudian pingsan.
“Brandon!” teriak Diego yang langsung melangkah maju untuk menghentikan Brandon yang ingin memukul pria itu lagi.
Hanya Keenan saja yang menonton semua kejadian yang terjadi begitu tiba-tiba itu. Pikirannya seolah-olah belum utuh semuanya tetapi didalam hatinya ada perasaan seolah-olah kesempatan emasnya telah dirampok, kesempatan menjadi pahlawan untuk menyelamatkan seorang wanita cantik idamannya.
“Kau baik-baik saja?” tanya Kenneth membalikkan badannya dan bertanya pada Anastasya.
“Aku baik-baik saja. Brandon jangan kau pukuli pria itu lagi. Dia tidak melakukannya dengan sengaja, itu hanyalah sisa dari traumatiknya yang terlalu serius sehingga dia sensitif pada dunia luar.”
“Ummm…..”