
Clarissa yang tanpa sengaja memandang wajah Anastasya yang duduk membelakangi jendela diruang makan, membuat sinar mentari pagi menyinari wajahnya yang lembut. Paras cantik Anastasya berkilau seperti dilapisi bubuk emas, canti sekali bagaikan lukisan dewi yunani. Wajah Anastasya terlihat persis seperti almarhun Adelia. Tangan Clarissa yang sedang memegang garpu langsung mengepal, dia sudah tidak sabar menunggu kabar dari orang yang dibayarnya untuk menyelidiki tentang Anastasya. Seharusnya nanti siang orang itu sudah kembali dengan hasil penyelidikan.
Setelah mandi dan berganti pakaian, Anastasya merias wajahnya. Hari ini dia mengenakan terusan formal berwarna abu-abu. Baju terusan sebatas lutut itu memeprlihatkan bentuk kakainya yang sempurna. Rambutnya digerai dengan riasan mata smooky membuat matanya terlihat seperti boneka barbie, dia tampak sangat cantik sehingga orang-orang akan sulit mengalihkan perhatian mereka.
Danendra telah menghabiskan banyak uang untuk pakain branded yang dipakai Anastasya. Belum lagi sepatu dan tas tangan. Begitu dia keluar dari ruang ganti, sipenata gaya menarik napas dalam-dalam penuh semangat, “Perfect! Sangat cantik!”
Danendra yang melihat Anastasya pun tercengang sejenak, dia seakan-akan melihat sosok mantan istrinya disosok Anastasya sekarang.
Dulu Danendra sangat mencintai Adelia tetapi kemudian dia membencinya karena Adelia terlalu pintar dan hebat dalam segala hal terutama dalam bisnis. Hal itulah yang membuat Danendra merasa tertekan menikahi Adelia, aura wanita itu mendominasi dan membuat Danendra seperti orang bodoh.
“Pakaian ini sangat cocok denganmu. Belilah lebih banyak pakaian bagus untukmu.” kata Danendra. Dalam hatinya muncul rasa takut, dia takut jika Anastasya kelak akan seperi ibunya yang hebat dan mendominasi. Tanpa sadar Danendra mencubit tangannya untuk menyadarkan diri.
“Benarkah papa? Aku ingin terlihat cantik untuk membuatmu bangga. Jika papa ijinkan aku sangat ingin membeli baju bagus dan sepatu serta tas. Bukankah berpenampilan cantik dan mewah bisa menunjang karirku kelak?” ucap Anastasya yang ingin mulai menghamburkan uang ayahnya.
“Ya boleh. Aku akan meminta seseorang untuk menemanimu belanja pakaian. Belilah semua yang kau suka dan sekalian pergi ke spa untuk melakukan perawatan kecantikan.”
“Papa baik sekali! Terimakasih Papa. Aku akan bekerja keras untuk membuatmu bangga.” ujar Anastasya tersenyum puas. Tidak lama lagi dia akan merubah total penampilannya dan lihat saja bagaimana reaksi Clarissa dan Natasha nanti.
Lalu si penata gaya memotong pembicaraan mereka, “Nona, anda memiliki kaki yang indah. Pilihlah pakaian yang menunjukkan kaki jenjangmu. Jangan segan untuk menunjukkan lekukan tubuhmu dengan memilih pakaian yang pas ditubuhmu. Kau harus percaya diri dan ekspresikan kecantikanmu, kau adalah gadis tercantik yang pernah aku lihat.”
Anastasya tahu betapa cantiknya dia tetapi bagaimana mungkin dia menunjukkan kebenaran dirinya? Dia yang mengaku berasal dari pedesaan harus selalu tampak seperti gadis desa yang polos untuk mendukung penyamarannya. Dengan mata malu-malu dia menatap Danendra dan berkata, “Papa, aku percaya dengan penilaian penata gaya ini. Jaman sekarang harus tampil keren, lain kali aku akan memakai rok diatas lutut agar kakiku lebih terlihat.”
“Bagus….bagus…..kalau perlu kau konsultasi dengan penata gaya sebelum kau membeli pakaian.”
“Lebih baik kita pergi sekarang sebelum terlambat. Menjelang siang biasanya jalanan pasti macet.” kata Anastasya lalu berjalan mengikuti Danendra dengan kepala menunduk.
Melihat sikap Anastasya yang polos dan terkesan pemalu membuat hati Danendra tenang, kekhawatirannya jika Anastasya akan seperti Adelia pun langsung sirna. Setelah menempuh perjalanan setengah jam akhirnya mereka tiba di gedung Archilles Corp tepat pada waktu yang telah ditentukan. Seorang penanggung jawab atas Cafe Moonlight telah menunggu mereka di lobi.
Saat melihat Anastasya wajahnya terpesona dan kagum pada gadis itu. Dia ingat saat melihat video di internet dia sudah terkejut dengan penampilan dan kecantikan Anastasya tapi setelah melihatnya langsung, dia tak bisa berbohong jika dia benar-benar terpesona oleh kecantikan itu. Bagaimana mungkin ada seorang gadis yang berasal dari desa terlihat sangat sempurna?
Wajahnya cantik, bentuk badan sempurna, mata besar yang bening serta keterampilannya di Coffee Latte Art yang hebat, dialah orang yang tepat sebagai Brand Ambassador untuk Cafe Moonlight. Dengan penuh semangat dia pun menyambut Anastasya dan Danendra.
Lalu dia membawa Anastasya dan Danendra ke lantai sepuluh. Karyawan dari Archilles Corp yang melihat Anastasya semua menatapnya kagum bahkan saat seorang OB membawakan kopi, dia hampir menumpahkan kopinya karena terkesima menatap Anastasya. Si penanggung jawab membawa mereka ke ruang rapat. “Silahkan duduk dan beristirahat sebentar. Tim kami akan segera menemui anda.”
“Baiklah. Kami akan tunggu saja toh kami juga tidak buru-buru.” kata Danendra menggangguk.
Lalu si penanggung jawab pergi dengan senyum diwajahnya. Alih-alih pergi ke kantor pusat Archilles Corp, dia malah naik lift menuju ke lantai teratas dan berjalan menghampiri ruang kerja CEO. Seorang asisten muda menghentikan si penanggung jawab itu, “Dari departemen mana? Ada apa datang kesini? Apakah sudah membuat janji?”
Cafe Moonlight adalah proyek global yang besar, meskipun dialah penanggung jawab Cafe Moonlight tapi dia tetap harus membuat janji sebelum bertemu dengan CEO.
Dia diam sejenak, ini pertama kalinya dia naik ke lantai teratas. Dia pun berusaha menenangkan diri dan segera menjawab, “Aku belum membuat janji dngan CEO tapi Tuan CEO sudah mengatakan padaku jika Brand Ambassador Cafe Moonlight datang untuk tanda tangan kontrak maka aku diminta untuk datang langsung memberitahunya.” jawabnya dengan tenang dan tepat.
Asisten muda itu adalah asisten baru. Dia seorang mahasiswi internasional dan diwawancarai oleh CEO langsung untuk posisi yang dijabatnya sekarang. Yang dia tahu, hanya para eksekutif senior dari Archilles Corp saja yang naik kelantai atas. Sedangkan pria didepannya ini hanyalah penanggung jawab Cafe Moonlight saja, kenapa dia datang kesini seenaknya ingin bertemu CEO?
“Baiklah aku akan menyelesaikan pekerjaanku dulu dan aku akan mengabari CEO untuk menemui anda nanti.” kata Asisten itu mengabaikan dan tak peduli.
“Maaf sudah merepotkanmu.” kata penanggung jawab itu dengan sopan lalu dia berdiri dan menunggu. Setelah menunggu sekitar dua puluh menit, si penanggung jawab sudah tidak sabar lagi menunggu lebih lama. “Nona….para tamu sedang menunggu di ruang rapat. Jika kau masih sibuk biarkan aku masuk dan menyampaikan langsung pada CEO! Ini hal penting dan tidak boleh menunggu lebih lama lagi.”
“Tamu kau bilang? Kami menerima banyak tamu setiap hari yang ingin bertemu CEO. Apakah mereka itu pejabat penting? Tunggu saja sebentar lagi!” dengus asisten itu dengan kesal.
Si penanggung jawab itu mengeryitkan keningnya lalu mencoba menenangkan diri dan menunggu. Asisten muda yang melihat ekspresi si penanggung jawab yang tidak marah dan masih sabar menunggu akhirnya merasa sudah tidak seru lagi untuk menggodanya, beberapa menit kemudian asisten muda itu bangkit dan mengetuk pintu ruangan CEO.
“Masuk.” sebuah suara berat terdengar dari dalam. Sang asisten muda yang mendengar suara itu langsung memegang dadanya yang bergetar dan wajahnya berubah merona.
Tangannya langsung merapikan rambut dan pakaiannya, setelah merasa penampilannya rapi dia pun mendorong pintu dan masuk. “Tuan….” asisten muda itu menatap pria tampan yang sedang duduk dikursi kebesarannya. Mata pria itu tampak gelap, wajahnya tampan dengan tulang rahang kuat. Pria itu sedang menatap dokumen yang ada diatas meja, si asisten muda menatapnya malu-malu dan menggigit bibir bawahnya.
Asisten muda itu telah berusaha keras untuk mendapatkan pekerjaan itu. Dia menggunakan semua koneksinya agar bisa ikut wawancara.
“Ada apa? Bicaralah.” ujar Kenneth tanpa mengangkat kepalanya. Dia sibuk membolak balik dokumen ditangannya.
"Hai readers terkasih 👋👋 smoga kalian suka novel2ku ya. Ayo dukung author ya like, komen dan follow 👍 biar author tambah smangat nulisnya. Terimakasih 🙏🙏😘