THE PROMISE

THE PROMISE
BAB 103. ANAK-ANAK TERPERANGKAP



Anastasya tampak terkejut mendengar ucapan Kenneth. Dia menatap pria itu dengan bingung dan bertanya-tanya apakah dia sedang bercanda atau serius. 'Apa dia sudah gila ya? Memberikan semua uangnya kepadaku? Apa-apaan sih Kenneth?' bisik hati Anastasya.


Saat mereka sudah mencapai tangga tiba-tiba dia teringat sesuatu. Anastasya teringat bahwa dia belum membuka kompartemen rahasia yang berada di kantor CEO! Dan sekarang pasti tidak ada seorangpun yang berada dilantai atas. Jika dia kembali kesana sekarang maka dia dapat menghindari pandangan semua orang dan menemukan apa yang dia inginkan.


Langkah kaki Anastasya pun segera berhenti. Lalu dia menoleh kepada Kenneth dan berkata, "Kamu turun saja dualuan. Aku akan segera menyusulmu! Ada sesuatu yang penting harus kukerjakan terlebih dahulu."


Kenneth mengerutkan keningnya dengan curiga lalu menjawab, "Pintunya sudah terbuka, apalagi yang mau kamu lakukan disini?"


Oh itu, aku lupa masih ada sesuatu yang tertinggal diatas tadi dan aku harus segera pergi mengambilnya! Kamu keluar saja dulu dan aku akan segera turun dalam waktu lima menit." ujar Anastasya. Dia harus segera pergi ke lantai atas sebelum kobaran api menghanguskan seluruh gedung itu.


Kenneth tentu saja tidak setuju dengannya. Dia meraih lengan Anastasya dan berkata, "Tidak! Kamu harus ikut denganku! Siapa tahu nanti tempat ini akan meledak lagi. Bagaimana jika seluruh bangunan ini runtuh? Kamu ikut denganku sekarang! Lupakan barang apapun itu yang ingin kamu ambil."


Lalu Kenneth meraih tangan Anastasya dan berjalan menuju ke pintu darurat. Anastasya meraih pintu tangga darurat dan tangannya yang lain melepaskan diri dari cengkeraman Kenneth dan berkata dengan gigih, Aku tidak mau pergi sebelum aku mengambil barang itu! Jika aku tidak mendapatkan benda itu kemungkinan besar aku juga tidak akan pernah mendapatkannya lagi! Benda itu sangat penting bagiku! Aku mohon pergilah dulu, aku pasti akan segera turun."


Sebelum Kenneth sempat bereaksi dengan cepat Anastasya melangkah mundur segera setelah dia selesai bicara lalu menutup pintu tangga darurat itu dan menguncinya dengan cepat.


"Anastasya! Apa kamu sudah gila? Kau cari mati ya?" teriak Kenneth disisi pintu bagian lain. Kenneth menggedor pintu itu dengan keras namun pintu sudah dikunci dan tak bisa dibuka lagi.


"Kamu pergi saja dulu! Aku akan segera turun setelah mengambil barang-barangku. Jangan khawatirkan aku, aku berjanji padamu kalau aku tidak akan mati disini!" teriak Anastasya dari balik pintu.


Anastasya tidak mempedulikan Kenneth yang terus menggedor pintu dan meneriakkan namanya. Dia langsung berbalik dan berlari menuju kelantai atas dari tangga tengah. Asap mulai mengepul tebal di seluruh gedung itu.


Tak berselang lama akhirnya para petugas kebakaran dan polisi pun tiba disana. Kenneth ditemukan oleh pemadam kebakaran. "Tuan, gedung ini bisa meledak sewaktu-waktu. Silahkan ikut bersama kami secepatnya!"


Dengan keras Kenneth menolak dan berkata, "Tidak! Aku akan tetap disini! Temanku masih berada diatas."


Mata petugas kebakaran itu langsung melebar dengan takjub., "Apa? Didalam gedung ini masih ada orang lagi?"


Dan pada saat itulah para petugas pemadam kebakaran bergegas menuju ke koridor. "Kapten, ada kabar buruk! Mereka mengatakan bahwa masih ada sekelompok anak-anak dilantai atas!"


"Apa?" petugas pemadam kebakaran yang dipanggil kapten itupun segera mengenakan topinya dan berkata kepada Kenneth, "Tuan, silahkan pergi bersama mereka. Aku akan naik keatas dan membawa temanmu turun."


"Aku ikut denganmu, buka pintunya dulu!" ujar Kenneth.


"Ta--tapi Tuan, ini terlalu berbahaya bagimu untuk naik keatas bersama kami. Seseorang.....tolong bawa dia pergi!" teriak kapten itu memanggil anak buahnya untuk membawa Kenneth pergi dari sana.


Beberapa anggota pemadam kebakaran segera menyeret Kenneth keluar. Dan disaat bersamaan ledakan keempat pun terjadi. Ketika suara ledakan yang keras itu terdengar, seluruh bangunan bergetar.


Mendengar ucapan anak buahnya, kapten pemadam kebakaran pun mulai tampak ragu-ragu. Naik atau tidak ya? Tapi lantai atas masih ada orang yang semuanya adalah anak-anak.


Sementara itu diluar gedung, semua karyawan wanita yang membawa anak-anak mengira anak-anak mereka telah dibawa oleh orang yang ditugaskan untuk mengasuh para anak tersebut. Tetapi begitu mereka menanyakan tentang anak-anak mereka, barulah mereka mendapati karyawan tersebut sama sekali tidakpeduli dengan para anak-anak.


Selain kesal dan kaget, mereka pun langsung berbalik untuk kembali ke gedung kantor. Namun sebelum mereka mencapai pintu gedung, mereka semua langsung dihentikan oleh para petugas pemadam kebakaran.


"Bangunan itu akan segera runtuh! Kalian tidak bisa naik keatas." ujar petugas pemadam kebakaran.


"Tolong, biarkan kami masuk kedalam! Selamatkan anak-anak kami. Aku tidak bisa kehilangan anakku.....huhuhuhhuhu........"


"Minggir! Biarkan aku masuk!" Tangisan para karyawan wanita saling bercampur menjadi satu dan situasinya begitu kacau balau.


Tepat disaat ini, dilantai atas gedung kantor itu, saat Anastasua sedang berlari kelantai atas. Udara di koridor itu berasap tebal dengan kandungan oksigen yang sangat rendah membuatnya kesulitan bernapad. Lalu dia merobek secarik kain dari tubuhnya dan menemukan sebotol air mineral dan membasahi kain tersebut lalu sambil membungkuk dia berjalan kearah kantor CEO.


Baru setengah jalan, tiba-tiba dia mendengar suara tangisan anak-anak yang begitu nyaring. Langkah Anastasya pun langsung berhenti. Mengapa ada suara tangisan disana? Apakah masih ada orang dilantai atas? Bukankah semua orang telah melarikan diri?


Anastasya mengira dia salah dengar tetapi setelah mendengar lebih dekat, dia mendapati bahwa tangisan itu benar-benar ada. Dan anak-anak yang menangis juga lebih dari satu orang. Apa yang sebenarnya telah terjadi disana? Kenapa anak-anak itu masih ada?


Anastasya segera mengikuti suara tangisan itu dan akhirnya berhenti di ruang anak-anak. Dia membuka pintunya dan terkejut saat melihat bahwa semua anak itu masih berada didalam ruangan. Sedangkan karyawan yang ditugaskan untuk menjaga mereka sudah lama menghilang.


"Sialan!" Anastasya menggertakkan giginya dengan getir.  Tidak jadi maslaah jika orang yang ditugaskan mengasuh anak-anak itu biasanya tidak mempedulikan mereka. Tetapi sekarang aada ledakan di gedung ini dan dia melarikan diri begitu saja tanpa mempedulikan anak-anak tersebut. Orang itu benar-benar bukan manusia lagi!


Tetapi sekarnag bukan saatnya untuk memaki orang itu. Keselamatan anak-anak itu jauh lebih penting. Anastasya tidak bisa membayangkan nasib anak-anak itu didalam ruangan yang dipenuhi asap. Lalu dengan cepat Anastasya berjalan masuk dan berkata kepada anak yang lebih besar.


"Adik kecil, cepat kamu bawa mereka semua ke bawah. Disini sedang terjadi kebakaran, kamu tidak bisa tinggal disini lebih lama lagi!"


Anak itu terisak dan berkata, "Mama......aku mau mama......."


Dengan sabar Anastasya berkata, "Mama mu sedang menunggumu dilantai satu. Kamu bisa menemukan mama mu ketika kamu berjalan kedepan pintu."


Setelah dibujuk Anastasya, akhirnya si anak yang agak besar itu berusaha untuk menenangkan dirinya dan mengajak beberapa anak-anak lainnya untuk keluar bersama. Tetapi beberapa anak yang lebih kecil masih ada didalam dan bahkan beberapa dari mereka belum bisa berjalan.


Dan anak-anak yang lebih besar tampak bingung karena anak-anak yang lebih besar hanya bisa menggandeng dua anak di kedua tangan mereka.  Anastasya tadinya berencana untuk kembali ke kantor CEO pun menjadi ragu dan berubah pikiran.


Dia sangat yakin jika kompartemen rahasia itu seharusnya memiliki apa yang dia inginkan.  Tetapi anak-anak ini adalah manusia yang bernyawa dan pada saat ini getaran bangunannya semakin kuat dan Anastasya memiliki firasat bahwa seluruh gedung ini akan segera runtuh.