THE PROMISE

THE PROMISE
BAB 57. ANGGAP KITA TAK SALING KENAL



Namun sang sutradara tak menyangka sama sekali saat kamera diarahkan, ekspresi lembut dan kasih sayang dimata Kenneth tampak nyata seolah-olah dia memang sangat mengagumi Anastasya dan begitu mencintainya. “Cut!: seru sutradara berjalan keluar dari belakang monitor dengan ekspresi sangat puas sambil bertepuk tangan.


“Kemampuan akting nona Tasya didepan kamera sangat mengejutkanku tapi aku sama sekali tidak menyangka ternyata kemampuan akting Tuan muda Archilles bahkan lebih menakjubkan! Kalian berdua sangat berbakat. Sayang sekali jika kalian tidak menjadi aktris film….”


Kenneth tidak tahu harus berkata apa, keterampilan akting apa? Bukankah barusan dia hanya menyesap kopi dan menatap Anastasya saja?


Bahkan tidak ada plot percakapan sama sekali. Akting macam apa itu? Tetapi karena sutradara itu memujinya jadi dia tidak mengatakan apapun. “Jadi syutingnya sudah selesai?” tanya Kenneth setelah diam sejenak. Sutradara menjawab dengan anggukan kepaala.


“Sudah selesai, syutingnya selesai. Kalian sangat hebat hanya dengan sekali pemotretan saja sudah langsung lulus.”


Kenneth mengeryitkan kenning karena merasa tidak puas. Dalam drama percintaan bukankah protagonist pria dan wanita harus berciuman atau semacamnya setelah mereka bersama? Bagaimana mungkin dia bahkan tidak menyentuh tangan Anastasya? Benar-benar sutradara tak berguna!


Tapi tak mungkin Kenneth mengucapkan kata-kata itu. Dengan wajah gelap dia pun berkata, “Karena syuting sudah selesai maka berkemaslah pulang dan persiapkan diri untuk syuting besok.”


Sutradara itu sedikit ragu hendak mengucapkan kata-kata tapi dia berusaha memberanikan diri. “Pemotretan besok memerlukan lokasi di gedung perkantoran tapi orang yang bertugas mencari tempat belum menemukan tempat yang cocok. Mungkin besok syuting akan ditunda dulu.”


Kenneth tidak peduli dengan hal-hal sepele seperti itu, diapun mengangguk. “Aku mengerti.”


Dia berjalan mendekati Brandon. “Syuting sudah selesai. Ayo pergi, jarang sekali aku punya waktu senggang jadi hari ini kita makan bersama yang lainnya.”


“Tidak! Kau bisa pergi bersama yang lainnya karena aku ingin mengajak nona Anastasya untuk pergi makan malam bersama.” ujar Brandon.


Saat ucapan itu selesai wajah Kenneth langsung mengeruh dan saat bersamaan dia merasa dadanya sesak sama seperti saat dia mendengar Brandon mengatakan jatuh cinta pada Anastasya pada pandangan pertama. Apalagi emosi dalam hatinya ini sangat sulit untuk dikendalikan. Dia hanya menghela napas dalam-dalam untuk menekan emosinya.


“Sebaiknya kau batalkan! Aku sangat mengenal Anastasya dan memahaminya. Dia takkan semudah itu menerima ajakan makan malam dengan seseorang.” kata Kenneth.


Brandon mengangkat bahunya. “Bagaimana bisa tahu kalau belum mencoba?” Brandon sangat ingin mengajak Anastasya untuk makan malam dan ingin mencoba menanyakannya seolah-olah dia sudah menunggu momen ini sejak lama.


Ya, dia memang sudah menunggu lama. Terlihat Kenneth melipat tangan didepan dadanya lalu tersenyum. “Kalau begitu cobalah, aku yakin kau tidak akan berhasil.” ujar Kenneth. Dia percaya bahwa dia cukup memahami karakter Anastasya yang tampak patuh dan nurut didepan Danendra ayahnya tapi dia sebenarnya adalah rubah yang pandai menggigit.


Gadis itu pintar bagaikan rubah, bagaimana mungkin mau pergi makan malam dengan pria yang baru pertama kali dia temui? Kenneth sangat yakin dengan dugaannya dan yakin dengan sifat Anastasya. Tepat saat itu Anastasya keluar dari dalam ruangan setelah selesai berganti pakaian. Terlihat wajahnya sudah bersih dari riasan, dia mengenakan T-shirt putih sederhana dan jeasn berwarna terang.


Jenas warna terang memang akan membuat orang yang memakainya terlihat gemuk tetapi ketika dikenakan Anastasya, jeans tersebut malah membalut kakinya dengan sempurna dan tampak panjang. Sungguh menakjubkan bagaimana ada orang yang memiliki kaki yang begitu sempurna didunia ini. Melihat Anastasya sudah keluar, Brandon lalu melangkah mendekatinya.


“Nona Anastasya.”


Anastasya memiliki kesan baik tentang Brandon jadi dia tersenyum dan menyapa kembali. “Tuan Brandon, terimakasih untuk tempatnya.”


Brandon menggelengkan kepala dan berkata, “Tidak apa-apa. Aku dan Kenneth sudah bersahabat sejak kecil dan ini hanya masalah kecil. Ngomong-ngomong aku tidak tahu apakah kau ada kesibukan lain setelah ini. Aku dengar dari asistenmu kalau syuting hari ini sudah selesai?”


Lalu Brandon melirik ke jam tangan dipergelangan tangannya. “Karena kau tidak ada kesibukan lain dan ini sudah waktunya makan siang. Bagaimana kalau aku mengajakmu pergi makan siang? Apakah kau bersedia?”


Kenneth yang berdiri tidak jauh dari sana menajamkan telinganya dengan wajah datar. Dia sangat yakin kalau Anastasya tidak akan setuju. Tetapi sesaat kemudian---


“Oke, kebetulan sekali aku juga ingin memberitahukan sesuatu padamu.” ucap Anastasya.


Kenneth tampak tak senang dan mengeryitkan dahi mendengan ucapan Anastasya. Gadis ini….benar-benar setuju? Hal apa yang ingin dia beritahukan pada Brandoh? Apa yang mereka bicarakan saat pertama kali bertemu?


Kenneth sudah tidak tahan lagi dan langsung melangkahkan kaki menghampiri Anastays.  “Anastasya, besok kita harus syuting, jangan smebarangan makan diluar aku khawatir kalau kau nanti sakit karena akan mempengaruhi syutingmu besok.”


Sebelum Anastasya ingin mengatakan sesuatu, Brandon sudah menyela dahulu, “Tenang saja Pak Presdir! Aku tidak akan mengajaknya makan sembarangan. Aku juga tidak mau dia sakit, aku akan mengajaknya makan makanan sehat saja.”


Wajah Kenneth terlihat murung dan membalikkan badan. “Terserah kalian!”


Brandon menatap Kenneth dengan bingung. “Orang ini ya…...”


“Ada apa?” tanya Anastasya. “Apakah kalian tadinya sudah ada rencana?”


“Yah, tadi bilang jarang ada waktu luang dan mengajak beberapa teman kami untuk berkumpul tapi sebenarnya waktu kami untuk berkumpul juga banyak. Jadi tidak ada masalah.” jawab Brandon.


“Baiklah kalau begitu. Ayo kita jalan.”


“Yuk! Kau mau makan apa?” tanya Brandon.


Keduanya berjalan sambil berbincang dan masuk kedalam mobil. Kenneth yang sedang duduk didalam mobil MPV melihat kedua orang itu masuk kedalam mobil dan pergi. Tangan Kenneth memegang dokumen ditangannya dengan kuat hingga menunjukkan urat biru tangannya.


Asistennya yang berada di kursi pengemudi tak berani mengambil napas dan tekanan udara didalam mobil itu sangat rendah. Setengah jam kemudian, disebuah restoran Italia, Brandon dan Anastasya duduk slaing berhadapan sambil makan spagetti. Anastasya dengan cepat menghabiskan pastanya lalu memulai pembicaraan.


“Tuan Brandon, sebenarnya ada sesuatu yang ingin kusampaikan padamu.”


Brandon segera meletakkan garpunya. “Apakah kau tidak ingin orang lain mengetahui identitasmu di luar negeri?”


Anastasya tertegun sejenak lalu mengangguk.”Aku punya alasan untuk itu tapi aku tidak bisa mengatakannya, jadi tolonglah berpura-pura tidak mengenalku jika kau melihatku dikemudian hari. Agar tidak terjadi seperti kejadian hari ini lagi.”


Wajah Anastasya yang dingin dan tenang seperti gunung es yang sangat dingin agar orang lain tidak dapat mendekatinya. Mendengar ucapan Anastasya membuat Brandon merasa tenggorokannya tersumbat dan napasnya menjadi sesak.