
Melihat putri kesayangannya yang lemas dan berada dititik terendah dalam hidupnya membuat amarah Clarissa kembali memuncak. Dia memandang Anastasya lalu membentaknya, “Tasya! Semua ini gara-gara ulahmu. Kau membuat adikmu kehilangan kesempatan menjadi brand ambassador yang sudah lama diimpikannya! Berani sekali kau menyindirnya!”
“Maafkan aku tante, aku tidak tahu jika ucapanku membuat adikku marah. Adikku, apakah kau baik-baik saja? Jangan masukkan kata-kataku tadi ke hati, ok?” ujar Anastasya dengan muka polosnya.
Anastasya telah membuatnya kesal dan hampir pingsan akibat ulahnya. Danendra merasa malu lalu mengeryitkan dahi, “Ayo kembali ke hotel. Jangan membuat malu disini.”
Clarissa menatap suaminya dengan penuh kebencian tapi dia lalu tersenyum berusaha menenangkan situasi. Diapun memanggil seorang pelayan untuk membawa Natasha kembali ke kamar hotelnya. Sponsor sama sekali tidak menyangka jika Natasha tadi hampir pingsan setelah pengumuman, saat dia hendak mendekati Natasha untuk menenangkan tapi sekelompok orang sudah mengelilingi Anastasya.
“Permisi Nona. Maukah kau menjadi brand ambassador kami? Kami akan membayarmu tinggi jika kau bersedia bekerjasama dengan kami.”
“Nona Anastasya, pilihlah perusahaan kami. Perusahaan kami memiliki reputasi yang sangat baik dan kami akan membayarmu mahal.”
“Pilih saja perusahaan kami. Anda bisa mengecek di internet tentang reputasi perusahaan kopi kami.”
Panggung pun semakin dipenuhi oleh sponsor kopi dan perusahaan yang tertarik menjalin kerjasama dengan Anastasya, bahkan mereka saling memamerkan kehebatan perusahaan masing-masing. Desakan dari para sponsor itupun membuat Danendra terdorong keluar. Dia berdiri menatap kearah kerumunan dengan wajah bingung.
Ternyata putrinya yang berasal dari desa itu sangat populer dan terkenal. Diapun tersenyum bangga, ya itu adalah putrinya. Meskipun putrinya besar dipedesaan terpencil tapi dia sangat cantik dan berbakat. Danendra tersenyum seperti seorang ayah yang bangga dan menyayangi putrinya. Natasha yang baru saja hendak keluar pintu melihat bagaimana Anastasya dikelilingi oleh para sponsor diatas panggung. Seharusnya itu dia, tapi sekarang mereka malah mengagumi dan mengelilingi Anastasya.
Ini adalah kesalahannya karena menantang Anastasya. Dia salah sasaran, rencananya ingin mempermalukan Anastasya tapi kini malah Anastasya yang menang dan mendapatkan semua peluang bagus itu. Untuk kesekian kalinya dia kalah dan mencelakai dirinya sendiri. Emosi Natasha yang memuncak karena melihat Anastasya yang beruntung malam ini membuatnya pingsan. Clarissa langsung berlari saat melihat putrinya pingsan didepan pintu keluar.
Sementara Anastasya sudah menerima begitu banyak kartu nama yang diberikan oleh perusahaan kecil maupun besar dan semua kartu nama itu diambil oleh Danendra. Pria itu sangat bersemangat dan membuat Anastasya tidak berdaya. Demi untuk membalas Natasha dan Clarissa malah membuat dirinya repot berurusan dengan para sponsor.
Tapi Anastasya merasa puas karena sudah mengacaukan sepasang ibu dan anak itu. Mereka pasti tidak akan melepaskannya setelah ini. Tapi Anastasya sudah memprediksi dan bersiap untuk menghadapi musuhnya, bukankah itu tujuannya kembali ke tanah air?
Clarissa sudah pernah mencoba untuk menculik dan membunuhnya untuk mencegahnya kembali kerumah itu. Kini Anastsya sudah kembali masuk kerumah itu, dia tidak akan menyiakan kesempatan ini dan kalau perlu dia akan menyerang musuhnya dengan satu pukulan!
“Tasya….ini kartu tambahan untukmu. Jika kau kekurangan uang didua kartu yang kuberikan kemarin maka kau bisa mengambil uang dari kartu ini. Kau harus pergi belanja baju-baju bagus dan pakailah uang itu sepuasmu. Jangan berhemat, ya.” kata Danendra membujuk.
“Papa, tak perlu memberiku kartu bank lagi. Kartu yang kemarin pun belum kupakai. Lebih baik papa menyimpan kartu ini dan mengunakan uang itu untuk keperluan keluarga kita.”kata Anastasya pura-pura menolak dan tidak enak hati. Tapi dengan gerakan perlahan, tangannya mengambil kartu itu dari tangan ayahnya. Dengan ketiga kartu ditangannya dia bisa menikmati uang Danendra dan memeriksa berapa banyak uang yang dimiliki ayahnya dibank.
Setibanya di Jakarta, supir sudah datang menjemput dibandara. Karena Danendra punya pekerjaan yang harus diurusnya diapun pergi bersama supir ke kantornya sedangkan mobil lain membawa ketiga wanita itu kembali ke villa. Saat mereka sudah tiba didepan villa dan turun dari mobil, Natasha yang sudah menahan emosinya lalu memperingatkan Anastasya, “Aku peringatkan kau ya! Jangan pernah coba-coba untuk menantangku dan membuatku kehilangan kesabaran. Jika itu terjadi maka kau pasti akan menyesal!”
“Kenapa kau bicara begitu? Aku bahkan tidak tahu bagaimana caraku untuk membuatmu kehilangan kesabaran.” kata Anastasya yang tampak terkejut.
“Kau….”
“Kupikir kau tidak memiliki kesabaran. Bukankah seseorang yang berani memasukkan ular berbisa untuk menggigit ular adalah orang yang paling tidak berperikemanusiaan?” kata Anastasya tersenyum sinis. “Lain kali aku akan lebih jaga-jaga untuk tidak membalas tantanganmu.”
“Kau….jadi kaulah orangnya. Jadi kau sejak awal sudah tahu semuanya? Kau sengaja memasukkan ular itu ke kamarku?” kata Natasha gemetar lalu melangkah mundur.
“Memangnya kenapa? Aku hanya berbaik hati untuk mengembalikan milikmu. Bukankah kau yang membeli ular itu dengan harga mahal? Makanya aku mengembalikannya supaya tidak hilang.” ujar Anastasya ringan dan tersenyum sinis. Kini Natasha paham dan menemukan kenyataan bahwa inilah kesempatannya,dia sudah menemukan kesalahan Anastasya dan dia harus segera memberitahu ayahnya.
“Aha! Kena kau sekarang Anastasya! Kau mengakui perbuatanmu sendiri dan aku akan mengatakan pada papa. Kau sudah tidak bisa berkelit lagi sekarang.”
Anastasya hanya tersenyum dan menggangguk. “Ayo beritahu papa semuanya. Katakan padanya bahwa kau meletakkan ular berbisa itu dikamarku dan aku mengetahuinya lalu aku menangkap ular itu dan mengembalikannya padamu. Telepon saja papa sekarang dan katakan semua.”
Baru saja dia hendak menekan nomor Danendra, tangannya berhenti setelah mendengar ucapan Anastasya. Memang benar dia yang menyuruh pengasuh itu meletakkan ular berbisa dikamar Anastasya. Jika dia mengatakan itu pada ayahnya malah dia yang akan dimaki dan dihukum oleh ayahnya. Natasha hanya bisa menggertakkan rahang dengan marah dan tak jadi menelepon ayahnya. Dia tidak bisa mengungkit tentang peristiwa itu lagi jika tidak ingin diusir dari rumah.
“Aku pasti akan membunuhmu!” teriak Natasha marah lalu tangannya berusaha mencakar wajah Anastasya. Dia sangat ingin merusak wajah cantik itu dengan tangannya sendiri. Tapi Anastasya yang siaga langsung menangkap tangan Natasha sebelum tangan itu menyentuh wajahnya lalu memutar tangan itu dengan kencang hingga menimbulkan bunyi ‘kreekk’. Anastasya memelintir tangan itu hingga Natasha merasakan sakit dan tangannya menjadi lemas.
Anastasya menatap Natasha dengan tatapan dingin yang membunuh tanpa ada sedikitpun rasa simpati dan kasihan. Anastasya sudah bersumpah untuk tidak membiarkan siapapun dirumah itu untuk menamparnya ataupun melukainya. Natasha merasakan kesakitan ditangannya membuat wajahnya pucat dan hampir pingsan lagi menahan sakit. Saat dia menggerakkan tangannya, rasa sakit itu semakin menusuk. “Ahhhhh….” Natasha tersentak saat dia tidak bisa menggerakkan tangannya. Saat dia mencoba untuk menggerakkan tangannya lagi, rasa sakit semakin parah dan seakan tangannya sudah patah.
Ah...sial! Anastasya sudah mematahkan tanganku! Geramnya dalam hati. Kenapa dia sangat kuat padahal tangannya kecil? Apakah dia seorang pelatih tinju? Semakin memikirkannya membuat Natasha semakin ketakutan dan dia tidak berani menantang Anastasya lagi. “Mama! Mama! Anastasya mematahkan tanganku!!” teriaknya memanggil ibunya yang sedang mengemasi barang-barang dikamar.
“Apa? Tanganmu patah? Kenapa bisa begitu?” teriak Clarissa terkejut.