
Dari atas langit-langit, puing-puing dan butir-butir api terus berjatuhan. Dan tidak berapa lama lagi ruangan itu pasti akan hancur. Anastasya tidak mempedulikan hal lainnya lagi. Dia harus segera bergegas menyelesaikan misinya. Jika tidak bergegas maka ruangan itu akan runtuh dan komputernya akan hancur.
Dan pada saat itu benar-benar sudah tidak ada cara lain lagi untuk membuka pintunya.
"Booommm....." puing besar lainnya mulai berjatuhan dari atas dan hampir mengenainya. Hanya berjarak setengah meter dari posisinya sekarang.
Anastasya seolah-olah tidak sadar, dia menggigit bibir bawahnya dengan keras dan jari-jarinya dengan cepat mengoperasikan keyboard itu. Seluruh tubuhnya tampak begitu ganas. Dia ingin menyerang terminal pihak lain dan membuka pintu itu.
Anastasya berusaha melakukan yang terbaik, bahkan jika itu bukan untuk dirinya sendiri tapi dia akan tetap melakukan itu demi sekelompok orang yang berada dibawah sana. Apalagi dia tidak berjuang sendirian.
Anastasya melirik sekilas dan melihat Kenneth yang sedang menutupi kepalanya dengan papan kayu jadi dia melanjutkan pekerjaannya dengan fokus dan tanpa terbagi perhatiannya. Anastasya memusatkan seluruh perhatian dan energinya, dalam waktu kurang dari lima menit dia pun berhasil menembus firewall pihak lain. Dan pada saat itu ruangan itu sudah mulai terbakar.
Kenneth segera berlari kearah jendela dan menarik semua tirainya dengan tangan. Dia menginjak bagian yang terbakar dengan kaki lalu menggunakan kain tirai untuk memadamkan satu demi satu tempat yang mulai terbakar.
Tetapi yang paling buruk adalah gara-gara ledakan itu, kobaran api semakin lama semakin membesar dan sepertinya api itu sudah tak bisa dibendung lagi. Setelah beberapa saat, tubuh Kenneth basah dengan keringat diseluruh tubuhnya seakan-akan dia baru saja berendam didalam air. Suhu udara diruangan itupun semakin memanas.
Tetapi pria itu tidak berhenti, dia menyeka keringat dibulu matanya dengan tangannya karena menghalangi penglihatan dan kemudian melanjutkan memadamkan api. Dan pada saat ini..... Akhirnya Anastasya berhasil menerobos firewall pihak lain dan dia mulai mencari terminal yang ada di pihak tersebut.
Tetapi pihak musuh sepertinya sangat licik. dia sengaja memberikan beberapa prosedur penghalang sehingga beberapa kali pula Anastasya tersesat ke terminal yang salah. Dan pada setik ini api diruangan itu sudah mulai diluar kendali.
"Anastasya! Kita harus cepat! Lima menit lagi kalau masih belum berhasil sebaiknya kita pergi. Lantai ini juga akan segera runtuh!" seru Kenneth sambil terus berusaha memadakan api. Wajahnya yang tampan telah ternoda dengan abu hitam dan abu-abu. Penampilannya tidak terlalu dikenali lagi.
Tetapi meskipun begitu, tetap sulit menghilangkan auranya yang kuat. Aura yang sedingin es dan tegas itu seolah-olah mampu melawan dewa api. Anastasya menggertakkan giginya dan melirik Kenneth sekilas lalu kembali fokus ke layar komputer.
"Sepuluh menit lagi Kenneth! Beri aku waktu sepuluh menit. Aku pasti akan menemukannya.!" seru Anastasya yang semakin bergerak cepat.
Tetapi saat Anastasya selesai bicara, sebuah balok kayu yang telah terbakar api tiba-tiba jatuh diatas kepalanya.
"Hati-hati!" teriak Kenneth yang segera bergegas kesisi Anastasya tetapi sudah terlambat. Untung saja Anastasya beraksi dengan cepat, dia bangkit dan menendang balok yang terbakar itu menjadi terbelah dua dengan tendangan sengit dan dingin.
Balok itu jatuh ke lantai yang menyebabkan percikan api.
"Tidak! Aku sudah hampir selesai. Hanya butuh sepuluh menit lagi." seru Anastasya tetap tak bergeming dengan jari-jarinya bergerak cepat di keyboard.
Anastasya melirik Kenneth dengan tajam. Tatapan mata Kenneth tampak dingin dan pupil matanya juga memantulkan cahaya api. Dalam keheningan itu mereka berdua seolah-olah sedang bertarung dengan sengit. Akhirnya Kenneth yang tidak tahan dengan tatapan Anastasya pun berkata, "Oke! Sepuluh menit! Tidak lebih! Aku memberimu hanya sepuluh menit saja."
Kenneth tidak menunda waktu sedetikpun, dia langsung melepaskan mantelnya dan memakaikannya pada Anastasya. Lalu dia berbalik dan berjalan menuju ke sudut ruangan dimana api masih menyala. Dia berusaha memadamkan api lagi.
Meskipun dia mati disini, dia juga ingin memberikan dan mempertahankan sepuluh menit itu untuk Anastasya. Kenneth terus bergerak kearah api agar tidak menyebar lebih luas, dengan alat seadanya dia berusaha memadamkan api.
"Uhuk...uhuk....uhuk...." Anastasya menutup hidungnya dan mulai terbatuk-batuk akibat asap yang mulai menyebar. Lalu dengan cepat dia kembali ke posisinya semula kemudian melanjutkan mencari terminal yang mengendalikan smart door itu.
Matanya harus fokus ke layar komputer meskipun sekitarnya sudah penuh dengan nyala api dan asap. Cepat....lebih cepat lagi....! Dia tidak boleh mengecewakan kepercayaan Kenneth kepadanya. Dia harus bisa membawanya pergi dari sini.
Saat Kenneth sedang sibuk memadamkan api tersebut, dia terus menerus melirik kearah Anastasya dengan cemas. Dan mendapati punggung gadis itu yang tegak lurus seperti penggaris. Cahaya api itu membuat kulitnya yang seputih salju tampak seperti warna keemasan dan paras wajahnya juga tampak mempesona.
Sehingga siapapun yang melihatnya tak bisa menahan diri untuk menahan napas. Tatapan mata Kenneth tampak lebih menggelap dan dia menoleh kembali dan terus berusaha memadamkan kobaran api. Saat memadamkan api tadi dia sempat mencoba untuk membuka jendela tetapi sepertinya jendela itu memang tidak ada engselnya sama sekali.
Sehingga tidak bisa dibuka dan yang lebih parahnya lagi, semua bahan kaca disini sama dengan bahan pintu gerbang itu. Tidak bisa dibakar ataupun dirusak. Tampaknya dalang kebakaran itu memang ingin membunuhnya dan sudah merencanakan semuanya.
Kenneth telah ditipu beberapa kali oleh orang itu dan dia tahu bagaimana bahayanya orang tersebut. Tetapi dia tidak pernah mengira bahwa orang itu akan sangat kejam sehingga tega membiarkan begitu banyak orang dikubur hidup-hidup bersamanya.
Ini sangat tidak berperikemanusiaan. Namun untuk saat ini Kenneth harus fokus memadamkan apinya sampai Anastasya bisa menyelesaikan masalah di komputer.
Sementara itu disebuah pulau yang jauh bernama Pulai Krambi. Pulau pribadi yang hanya ada salju sepanjang tahunnya. Pria bangsawan itu mengenakan mantel rubah berwarna perak dan duduk sejenak diruangan remang-remang sambil menatap kayu bakar yang terbakar di perapian.
Jari-jarinya yang ramping mengambil kayu bakar kering dan melemparkannya dengan cepat kedalam perapian. Bakar....bakarlah lebih besar lagi......bakar semuanya.
Pria itu mengangkat bibirnya yang tipis dengan canggung. Rahangnya yang tajam tampak jelas dari samping. Dan pada saat ini tiba-tiba pintu didorong terbuka. Keheningan yang dinikmatinya sejak tadi pun terganggu. Dengan tidak senang dia melihat kearah pintu untuk mengetahui siapa yang berani mengganggu waktu santainya.