
Anastasya yang selalu cantik dengan dandanan sederhana, kulit putihnya seperti salju yang lembut dan halus. Dengan hanya berdiri saja tanpa mengucapkan sepatah katapun sudah membuat orang-orang diruangan itu mengalihkan perhatian. Wanita itu adalah Anastasya Sanari. Natasha membelalakkan matanya tak percaya, dalam sekejap tatapannya langsung lemas dan hancur.
Saat Anastasya melihat ada pancaran ketakutan dimata Natasha, diapun tersenyum sedikit memahami situasi. “Wah jika bukan karena Tuan Muda Archilles, aku bahkan tidak tahu kalau aku sudah ikut main film sebagai pemeran utama wanita. Tasha kau memang hebat! Bravo! Kau sengaja menyamar sebagai aku untuk mendapatkan peran itu? Apakah kau merasa senang? Mungkin bagimu sangat menyenangkan untuk bermain-main seperti ini, ya?”
Natasha gemetar ketakutan dan merasa sangat malu. Dia mundur dua langkah dengan tangan memegang ujung bajunya. Mampus! Anastasya sudah mengetahui semuanya…...Natasha melirik orang-orang disekitarnya yang mulai berbisik-bisik.
“Ada apa ini? Berani sekali Natasha menyamar sebagai gadis cantik itu untuk mendapatkan peran ini?”
“Benarkan apa yang kukatakan sebelumnya, wanita itu bukan orang yang dibela Tuan Muda Archilles. Aku sempat berpikir bagaimana bisa Tuan Muda tertarik dengan wanita tak berkualitas seperti dia.”
“Omong-omong…..wanita bersama Tuan Muda itu sangat cantik ya.”
“Eh….coba kalian perhatikan wanita itu. Bukanlah penampilan nona itu sangat mirip dengan tokoh pahlawan wanita yang ada di novel itu?”
“Iya benar! Dia sangat mirip!”
Eros yang mendengar bisik-bisik itupun tak bisa menahan diri lalu melihat kearah Anastasya, matanya terbelalak dan membeku. Wajah itu sangat cantik! Kemiripan wajahnya dengan tokoh di novel sekitar 80%. Jika dia harus memilih maka dia pasti memilih wanita itu sebagai pemeran utamanya.
Eros menatap Kenneth dan Anastasya bergantian, dia sangat gembira dan melangkah maju mendekati Kenneth. “Tuan Muda Kenneth, sebenarnya apa yang terjadi? Aku tidak mengerti apa yang dikatakan oleh wanita ini.”
Kenneth menatap tajam pada Natasha. “Sebenarnya wanita yang seharusnya aku dan kau lindungi adalah wanita yang berada disampingku ini, namanya Anastasya. Tapi karena mereka memiliki nama panggilan yang sama Tasya sehinga terjadi kesalah pahaman. Aku datang kesini untuk memperbaiki kesalahan ini.”
Eros masih tidak mengerti dan bingung seolah dia sedang memikirkan. Sang produser pun mendekat dan terbatuk ringan, “Tetapi bukankah Natasha yang memegang kartu nama anda? Itu berarti dia adalah orang yang dekat dengan anda?”
Kenneth menatap Anastasya seolah memintanya untuk bicara. “Adikku, kapan aku akan mengembalikan kartu nama yang kau curi dariku?”
Sontak wajah Natasha memucat dan malu. Ini benar-benar sangat memalukan dan bagaimana dia bisa lolos dari semua ini sekarang? Harga dirinya dihancurkan oleh Anastasya dengan menuduhnya telah mencuri kartu nama itu. Dia bisa merasakan tatapan mengejek dari semua orang, mereka menatapnya tajam bak pisau yang siap membelah dan memotong tubuhnya.
Tangan Natasha gemetar karena marah, dia mengeluarkan kartu nama dari sakunya lalu melemparkannya pada Anastasya. “Nih….ambil itu! Hanya kartu nama saja bukan? Apa hebatnya kartu nama itu, ha? Kau bisa ambil itu, aku tidak butuh!” ujarnya angkuh. Saat Natasha baru saja hendak melangkah pergi meninggalkan tempat itu dan baru saja hendak melewati Kenneth tiba-tiba tangan panjang pria itu menghentikannya.
Natasha mendongak menatapKenneth. Tatapan pria itu dingin, sedingin es dikutub utara. Natasha merasakan keringat dingin mengucur dipunggungnya. Dahinya terasa basah karena keringat mulai menetes. “Tu---Tuan Muda Archilles…..”
Dia berani memaki dan memarahi Anastasya tapi dia tak punya nyali untuk marah pada Kenneth.
Kenneth menarik Natasha dengan kuat lalu melepaskan tangannya, menatapnya dengan dingin.
“Setahuku begitu banyak orang diluar sana yang menginginkan kartu namaku. Mereka bahkan rela melakukan apapun untuk mendapatkannya tapi aku tidak tahu jika ada seseorang yang sangat berani melemparkan kartu namaku. Bukankah anda ini putri kedua keluarga Hilma? Apa kau merasa hebat dan tidak senang denganku? Apa masalahmu, ha?”
Natasha semakin ketakutan dan pupil matanya semakin mengecil. Tubuhnya bergetar, dia berusaha menenangkan dirinya sembari menelan salivanya dengan susah payah. “Tidak…..bukan seperti itu. Kakakku memang agak keterlaluan…..sama sekali tak ada hubungannya denganmu. A---aku….”
“Pungut kartu nama itu!” bentak Kenneth tak mau mendengar apapun dari Natasha, dia sudah cukup memahami situasinya dan tahu betul seperti apa Natasha serta kedua orangtuanya memperlakukan Anastasya dirumah. Dengan cepat Natasha meremas kedua tangannya yang gemetar, menatap yalang ke kartu nama yang terletak dilantai tepat dihadapan Anastasya.
Kenneth memintanya untuk memungut kartu nama itu, ini benar-benar sebuah penghinaan. Dengan kata lain Natasha harus berlutut dihadapan Anastasya, tapi itulah perintah Kenneth yang tak mungkin dia bantah. Dengan wajah pucatnya dia tampak sangat lucu. Dibawah tekanan Kenneth, Natasha sudah tidak punya harga diri lagi dan tak punya pilihan selain menghadapi semua ejekan dan penghinaan dari orang-orang yang menonton disana.
Tatapan mereka seolah menghinanya, dia bisa melihat orang-orang itu mencibir sambil berbisik-bisik. Natasha membalikkan badan dan mengambil kartu nama yang berada tepat dibawah kaki Anastasya. Dia mengambilnya lalu menyerahkan kembali pada Anastasya dengan enggan. Semua peluangnya sudah hilang seiiring dengan hilangnya kartu nama itu dari tangannya. Belum sempat tangan Natasha menyentuh Anastasya untuk memberikan kartu nama itu, Kenneth langsung merebut kartu nama itu.
Natasha menatapnya bingung, tidak tahu apa yang diinginkan pria itu. “Karena keluarga Hilman mu sepertinya memiliki masalah denganku jadi aku mengambil kembali kartu nama ini. Toh kalian tidak menginginkan kartu nama ini….” ucap Kenneth. Dia pun langsung merobek kartu nama itu sampai hancur berkeping keping. Wajah Natasha semakin pucat ketakutan hingga dia tak mampu untuk bernapas mendengar ucapan Kenneth.
Kenneth membuang kepingan kartu nama itu ketempat sampah disampingnya. “Aku dengar kalai keluargamu sedang berusaha menegosiasikan kerjasama dengan perusahaanku. Aku pikir sudah tidak perlu lagi bernegosiasi, aku akan memerintahkan pada semua perusahaan milikku agar membatalkan semua kerjasama dengan Hilman Corp. Tidak akan ada kerjasama sekarang maupun dimasa depan.”
Jantung Natasha berhenti berdetak, darahnya sejenak berhenti mengalir. Danendra telah berusaha keras untuk mendapatkan kerjasama dengan Archilles Corp dan sekarang semua kerjasama itu malah dibatalkan gara-gara ulahnya. Ayahnya pasti akan membunuhnya jika dia tahu saat dia pulang kerumah nanti! Natasha semakin ketakutan memikirkan semuanya, bukan hanya itu saja tapi saat ini perusahaan ayahnya sedang mengalami masalah jika semua kerjasama itu dibatalkan maka ada kemungkinan ayahnya akan bangkrut.
Tidak! Tidak…..ini tidak mungkin terjadi! Apakah itu berarti dia akan kehilangan semua kesenangan dan kemewahan hidupnya selama ini hanya dalam hitungan detik? Dia berdiri sana dengan kaki gemetaran, dia sudah tidak peduli lagi dengan ucapan-ucapan sinis orang-orang disekitarnya. Dia meraih lengan baju Kenneth dan memohon sambil menangis terisak-isak.