THE PROMISE

THE PROMISE
BAB 76. KELICIKAN DANENDRA



Percakapan keduanya pun berlanjut membahas tentang rencana-rencana jahat mereka untuk membalaskan dendam pada Anastasya. Keduanya berbincang selama lebih dari dua jam hingga tak terasa waktunya untuk makan malam. Saat Anastasya turun ke lantai bawah untuk makan, dia melihat Clarissa sedang duduk diruang makan sedangkan Danendra tidak ada disana, kemungkinan dia sedang sibuk karena kehilangan kerjasama dengan Archilles Corp.


Anastasya berjalan menuju ruang makan lalu duduk diseberang Clarissa tanpa mengucapkan sepatah katapun. Clarissa terlihat makan dengan tenang tanpa memandang Anastasya. Tak berapa lama dia mengangkat wajahnya lalu berkata pada Anastasya, “Tasya kau terlalu kurus makanlah paha ayam ini agar tubuhmu tambah berisi.” Lalu Clarissa mengambilkan sepotong paha ayam.


Saat Anastasya mengangkat wajahnya memandang Clarissa, dia bisa melihat wanita itu tersenyym padanya. Tidak ada sorot kebencian dimatanya, bagi Anastasya itu sangat aneh.


Sepertinya Clarissa sudah berusaha lebih tenang yang berarti wanita itu sudah memikirkan rencana jahatnya dengan baik. Anastasya pura-pura tidak tahu lalu tersenyum polos dan manis, “Terimakasih ya tante.” Dia menunggu hingga Clarissa mengatakan sesuatu padanya. Jika kau ingin memancing ikan maka kau harus memasang tali panjang. Jadi dia ingin melihat bagaimana Clarissa akan memasang tali panjang itu.


“Aihhh…..” Clarissa menghela napas panjang. “Tasha ini memang terlalu kumanjakan selama ini.”


Anastasya diam saja memperhatikan apa lagi yang akan dikatakan wanita itu, permainan sudah dimulai.


Clarissa memasang eskpresi sedih dan menyesal diwajahnya, “Andai saja aku tahu dia akan melakukan kesalahan sebesar itu seharusnya sejak dulu aku mendisiplinkannya dengan ketat sejak dia kecil. Tapi apa yang kulakukan selama ini? Aku terlalu memanjakannya dan selalu menuruti kemauannya.”


Anastasya tersenyum tipis dan mengangguk lalu menggelengkan kepalanya lagi, “Tante, kau jangan menyalahkan dirimu sendiri, meskipun Natasha adalah putrimu tapi dia hanyalah anak angkat. Aku dengar ya kalau anak angkat biasanya punya sedikit kekurangan dalam hal karakter. Jika dia memang sulit untuk didisiplinkan paling-paling keluarga kita harus melepaskannya saja.”


“Kau…!” wajah Clarissa memucat karena marah. Tetapi dia kembali tersadar dengan rencananya lalu secepatnya mengendalikan emosinya. Dengan memaksakan senyum diwajahnya, dia pun berkata “Ya kau benar tapi setelah merawat dan membesarkannya bertahun-tahun, aku pasti memiliki perasaan sayang padanya sedangkan kau yang sudah menderita bertahun-tahun diluar sana sejak pulang kerumah ini tidak pernah merasa ketenangan. Tasha sudah membuat begitu banyak masalah yang merepotkan. Tante benar-benar merasa tidak enak hati padamu….”


“Sudahlah tante, itu bukan salahmu.” ujar Anastasya menggelengkan kepalanya.


“Oh Tasya kau ini memang anak yang baik.” Clarissa berpura-pura merasa tersentuh dan menyeka airmata palsunya. “Sebenarnya minggu depan aku memiliki pesta perjamuan makan dan tadinya ingin mengajak Tasha pergi kesana bersamaku. Ada banyak selebriti dan sosialita di Jakarta yang akan hadir dipesta perjamuan itu sehingga tidak mudah untuk mendapatkan undangan untuk pesta perjamuan. Sekarang aku tidak bisa membawanya kesana setelah dia membuat ulah seperti ini. Jadi setelah aku pikir-pikir, mungkin lebih baik aku mengajakmu pergi bersama. Nanti aku bisa mengenalkanmu pada semua orang disana, bagaimana menurutmu?”


Anastasya tampak terkejut, “Benarkah tante? Sudah cukup lama aku kembali kesini dan papa juga belum memperkenalkanku pada siapapun dilingkungan kelas atas secara resmi. Kalau begitu akan lebih baik kalau aku pergi bersama tante saja untuk melihat-lihat. Aku harap tante bisa memperhatikan aku juga disana agar aku tidak membuat kesalahan, tante tahukan kalau aku tidak biasa pergi ke perjamuan kelas atas seperti ini.”


Clarissa merasa lega saat Anastasya menyetujui permintaannya dan selangkah rencananya sudah berjalan sesuai keinginanannya.


Sepertinya tidak peduli betapa cerdasnya si ****** kecil ini tetap saja dia masih memiliki sifat anak kecil, dia ingin menyelinap masuk kelingkaran orang-orang terpandang di kota Jakarta. Huh! Dasar udik desa tak tahu malu, tapi setidaknya dengan begini akan mudah untuk menghancurkannya.


“Jangan khawatir Tasya, siapa lagi yang bisa kuperhatikan jika bukan kau?” ujar Clarissa sambil tersenyum lembut tapi didalam hatinya dia mencibir dan menghina. Dia sudah tak sabar ingin membuat Anastasya terkenal didalam lingkaran orang-orang terpandang.


Anastasya diam-diam memperhatikan Clarissa dengan tatapan yang dalam, sudut mulutnya melengkung tetapi tidak ada keramahan didalam binar matanya. Lalu dia mengangkat alisnya dengan ringan sambil berpikir, perjamuankan? Sudah bisa kuprediksi jika Clarissa sudah punya rencana untuk membuat drama yang bagus untuknya diperjamuan makan itu. Anastasya sudah tak sabar menantikan hari itu tiba dan memainkannya perannya dalam drama yang akan diciptakan oleh Clarissa.


Sekitar pukul sepuluh, Danendra pulang kerumah dan begitu sampai dirumah dia langsung memanggil Anastasya ke ruang bacanya. Anastasya melihat mata Danendra yang memerah karena kelelahan. Rambut-rambut putihnya terlihat diantara rambut hitamnya dan tiba-tiba saja dia merasa matanya perih.


Jika saja kematian ibunya tidak ada hubungannya dengan Danendra maka dia akan membantu pria itu dengan tulus untuk mengembangkan Hilman Corp. Dan membiarkan Danendra menikmati hari tuanya dengan tenang tanpa perlu mengkhawatirkan apapun.


Tak peduli seberapa banyak kekurangan yang dimiliki oleh Danendra tapi dia adalah ayah kandungnya. Satu-satunya orang yang memiliki hubungan darah dengannya didunia ini. Mau tak mau Anastasya pun melembutkan suaranya untuk menghibur ayahnya. “Papa, jangan bekerja terlalu keras, apa pun yang sudha terjadi kesehatanmu jauh lebih penting. Kesehatan adalah modal dari segalanya.”


“Ahh….kalau tidak bekerja keras bagaimana mau sukses? Sebagai kepala keluarga ini aku yang bertanggung jawab atas semua orang dikeluarga ini. Apa yang dapat kalian lakukan jika tidak ada aku?”


Mendengar ucapannya membuat Anastasya menjadi sedih. Dia selalu merasa jika Danendra sama sekali bukan ayah yang kompeten tetapi setelah Anastasya tinggal dirumah ini, dia sama sekali tidak melakukan apapun yang harus dilakukannya sebagai seorang anak yang baik. Sebenarnya Anastasya sangat ingin mengatakan bahwa dia memiliki uang yang cukup banyak dan mampu membantu ayahnya. Tetapi saat dia baru saja hendak bicara…..Danendra memegang tangan Anastasya dan berkata dengan tidak berdaya.


“Sebenarnya keuangan perusahaan sedang dalam masalah besar sekarang, ada beberapa proyek yang tidak berjalan baik. Tadinya kupikir akan dapat mengandalkan kerjasama dengan perusahaan Archilles Corp karena kerjasama itu akan membawa keuntungan besar pada perusahaan tapi aku tidak menyangka jika adikmu malah membuat ulah.”


Anastasya hendak mengungkapkan identitasnya, tapi tepat saat dia hendak mengatakannya dia mendengar Danendra bicara.


“Papa hanya bisa menaruh harapan besar padamu, ini adalah kartu kamar Tuan Muda Archilles, ambillah.”


Anastasya kaget dan melihat kartu kamar yang disodorkan oleh ayahnya ketangannya. Dia tetap memasang wajah polos dan dengan suara pelan dia bertanya, “Hah? Maksudnya?”


Hatinya sangat sakit bagai disayat-sayat namun perasaan itu seketika sirna dalam sekejap menyatu dalam darahnya. Anastasya terdiam sejenak. Melihat Anastasya tidak bicara, Danendra pun mengira dia ketakutan dan dia berusaha untuk menyakinkannya.


“Tasya, kau adalah anak yang tumbuh dipedesaan jadi aku paham kalau kau masih polos dan lugu. Ini adalah hal terbaik yang bisa kau lakukan. Tapi jika hidup di kota besar dengan sifat seperti itu bukanlah hal yang baik, didalam lingkaran kami pergaulannya lebih kotor dari yang bisa kau bayangkan. Terkadang kita harus memberikan sesuatu agar bisa bertahan hidup.”


“Apa maksudmu? Apakah kau ingin aku mengambil kartu kamar Tuan Muda Archilles dan melayaninya ditempat tidur?” tanya Anastasya dengan bibir pucat. Dia sama sekali tidak menyangka ayahnya tega melakukan hal kotor itu.