THE PROMISE

THE PROMISE
BAB 100. MATI LEMAS



Selain asap yang semakin tebal, Anastasya juga merasakan hawa panas diskeitarnya semakin meninggi. Jika situasinya terus seperti ini maka tidak lama lagi mereka berdua akan mati lemas karena terlalu banyak menghirup asap. Kenneth mengambil kapak dari tangan Anastasya dengan cemas bertanya, "Apa kamu masih bisa bertahan? Atau lebih baik kamu menunggu dibawah saja bersama yang lain."


Anastasya menggelengkan kepala dengan cepat, "Tidak perlu! Pintunya masih terkunci, cepat buka!"


Kenneth menggertakkan giginya dan tidak memperhatikan lagi, dia mengangkat kapaknya dan menghantamkannya ke gembok itu. Sekali......dua kali.....dan pada pukulan yang kelim akahirnya gembok itu terlepas.


Keduanya mendorong pintu itu hingga terbuka dan berlarian masuk kedalam ruangan CCTV itu. Ada deretan komputer diruangan tersebut, Keduanya dengan cepat menemukan komputer yang mengendalikan pintu sesuai dengan tanda-tanda yang dipasang diatas komputer.


Kenneth kendak membungkuk dan menarik keyboard komputer, dia mengetik keyboardnya dengan cepat. Sedangkan Anastasya hanya dapat melihat bayangan tangan Kenneth di keyboard. Dapat dibayangkannya seberapa cepat gerakannya.


Dengan cepat Kenneth telah menemukan masalahnya. Dia menunjuk kesebuah file komputer dan berkata, "Ini dia! Seseorang telah meretas komputer ini dan memasukkan program ini kedalam komputernya untuk mengunci pintu."


"Apakah bisa dihapus?" tanya Anastasya.


Kenneth menggelengkan kepalanya, "Aku sudah mencobanya tapi tidak berhasil. Aku ahli dibidang ini, aku akan menelepon Brandon dan bertanya padanya apa yang harus kulakukan."


"Oke." Anastasya mengangguk dan menunggu Kenneth menelepon. Lalu pria itu mengeluarkan ponselnya dan mendapati bahwa sinyal didalam gedung telah di blokir dan sama sekali tidak bisa melakukan panggilan telepon.


"Sepertinya.....kita akan mati disini." ujar Kenneth tersenyum masa. Tapi didalam tatapannya tidak terlihat adanya rasa takut akan kematian.  Ketakutan seperti ini tidak akan pernah ada didalam kamusnya, bahkan kematian sesungguhnya sekalipun.


Didalam pikirannya, dia merasa mati bersama Anastasya sepertinya juga tidak terlalu buruk.


"Tidak!" Anastasya menggelengkan kepalanya dengan kuat dan berkata, "Aku masih punya banyak hal yang harus kulakukan jadi aku tidak boleh mati disini! Tidak sekarang!"


Kenneth tersedak dalam hatinya dan nampak ada rasa kecewa yang tak terlukiskan didalam htainya. Dia sedang memikirkan bagaimana cara mati bersama Anastasya tetapi gadis itu malah sama sekali tidak memikirkannya. Dia merasa ingin marah kepada seseorang tapi dia juga tidak tahu harus marah kepada siapa.


dengan terbatuk kecil dia bertanya, "Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang? Aku sudah mencoba untuk membuka pintu dan kita dapat mendobraknya saat ini. Tetapi ketika orang-orang diluar sudah sampai disini untuk menyelamatkan kita.....mungkin semua orang sudah mati lemas disini."


Anastasya menatap program yang tidak bisa dihapus itu lalu setelah diam sejenak, dia berkata, "Minggirlah, aku akan mencobanya."


"Kau?" Kenneth ingat bahwa Anastasya tadi sempat mengatakan bahwa dia paham sedikit mengenai pemograman. Apakah Anastasya bisa melakukan hal-hal yang tidak bisa dia lakukan? Kenneth merasa keraguan didalam hatinya tetapi dia tetap menyerahkan kursinya pada gadis itu.


Didalam pikirannya belum tahu apakah akan mempercayai Anastasya atau tidak tetapi tubuhnya sudah mundur dan membiarkan Anastasya duduk didepan komputer yang mengendalikan smart door itu. Dia langsung menangani program itu tetapi terus mengacak-acak isi komputer.


Kenneth melihat jari jari Anastasya yang bergerak cepat mengoperasikan komputer. Dia bahkan tidak perlu mengugnakan mouse. Kecepatan tangan Anastasya bahkan tampak lebih cepat dari tangannya sendiri. Dan kepercayaannya pada Anastasya tiba-tiba meningkat. Dia punya firasat jika mereka berdua mungkin tidak akan benar-benar mati disini.


Setelah beberapa menit, Anastasya akhirnya menghentikan gerakan jarinya. Kenneth melihatnya berhenti dan segera bertanya dengan penasaran, "Apakah kamu menemukan sesuatu?"


Anastasya menunjuk ke suatu tempat di D-file diatas layar komputer. Dia memicingkan matanya yang indah dan berkata, "Masalahnya bukan program yang tidak dapat  dihapus tetapi program yang ada disini sudah dirusak. Pada awalnya programnya bergantung pada komputer ini. Tteapi programnya telah diubah, kendali komputernya dan terminal kontrol lainnya sudah dipindahkan ke tempat lain."


"Dimana?" tanya Kenneth dengan terburu-buru.


Anastasya menggelengkan kepalanya dan berkata, "Aku tidak tahu! Aku harus menerobos firewall dan menyerang terminal pihak lain untuk menemukan lokasi mereka dan....menghapus program pengendalinya di terminal pihak lain itu."


Ekspresi Kenneth berubah menjadi serius. "Menyerang terminal pihak lain....ini membutuhkan peretas yang sangat hebat untuk melakukannya. Apa kau bisa melakukannya?"


Anastasya menarik napas dalam-dalam dan berkata, "Aku tidak tahu bisa atau tidak tetapi ini adalah satu-satunya cara. Kita harus mencobanya. Kalau tidak maka aku khawatir kita semua akan mati disini. Sedangkan pintu itu tidak mungkin akan terbuka meskipun diledakkan dari luar."


Kenneth menatap dingin dan dia bisa melihat ekspresi ketidakpastian di wajah gadis itu. Kenneth menatap lekat-lekat dan tepat ketika dia baru saja akan berbicara tiba-tiba terdengar suara yang keras lagi dari lantai atas. BUUUMMMM!!!!!


Itu adalah suara ledakan kedua dan posisinya tepat berada diatas kepala mereka. Sebuah lubang besar langsung muncul diatas langit-langit dan ada percikan api yang terjatuh kebawah.


"Hati-hati!" seru Kenneth tanpa sadar smabil melindungi kepala Anastasya. Lenagnnya terkena percikan api dan daging dilengannya dengan cepattercampur dengan darah dan abu sehingga lukanya tampak buram.


Anastasya terkejut dan dengan cepat meraih tangan Kenneth untuk memeriksa lukanya. Tetapi sebelum gadis itu bisa melihat dengan jelas, Kenneth segera menarik tangannya kembali.


"Kau....."


Anastasya baru saja hendak bicara ketika Kenneth yang langsung memotong ucapannya, "Aku baik-baik saja. Kau teruskanlah! Tidak peduli berhasil atau tidak, setidaknya kita akan tahu setelah mencobanya."


Anastasya merasa khawatir tetapi dia melirik komputer dan akhirnya dia tidak mengatakan apapun lagi. Dia menarik kursi lalu dengan tatapan yang dingin dia duduk kembali. Dari atas langit-lagit puing-puing dan butir-butir api terus berjatuhan. Tidak berapa lama lagi ruangan itu pasti akan hancur lebur.


Anastasya tidak mempedulikan hal lainnya, dia harus segera bergegas mengerjakan komputer itu. Sudah tidak ada cara lain lagi untuk membuka pintu.


"BOOOMMMMM....."


Puing-puing besar lainnya mulai berjatuhan dari atas dan hampir mengenainya. Hanya berjarak sekitar setengah meter dari posisinya sekarang. Anastasya seolah-olah tidak sadar. DIa menggigit bibir bawahnya dengan keras dan jari-jarinya dengan cepat bergerak diatas komputer. Seluruh tubuhnya tampak begitu menggenaskan.