
Sebenarnya dia sadar jika dia sedikit egois mengenai Anastasya, dia tidak ingin banyak orang melihat Anastasya berpakaian seperti itu. Ada api kecemburuan yang muncul entah darimana dan sejak kapan setiap kali dia melihat Anastasya.
Setelah menempuh perjalan selama satu jama, akhirnya mereka tiba di lokasi syuting. Terlihat sebuah bangunan villa yang megah dan artistik yang lebih terlihat seperti sebuah istana.
Villa itu adalah bangunan tua berumur ratusan tahun dan sudah direnovasi sehingga terlihat perpaduan desain jaman kolonial dan modern sehingga tidak terkesan menyeramkan. Bangunan villa itu berada ditengah taman hutan pribadi, dan ada taman bunga yang indah dibagian depan dan belakang villa.
Bangunan villa itu adalah gaya eropa abad pertengahan, meskipun bangunan lama tapi terlihat indah dan kokoh dengan modifikasi desain modern dibeberapa bagian dalam termasuk perabotan yang menggunakan konsep modern membuat villa itu terlihat sangat mewah. Dibawah jendela ada pot-pot berisi bunga mawar merah sehingga villa itu terlihat seperti istana putri di negeri dongeng.
Tema pemotretan hari ini adalah putri yang bangun pagi tanpa energi jadi dia memerintahkan pelayannya untuk membuat secangkir kopi. Sang putri sangat pemilih dan tidak pernah puas dengan kopi yang dibawakan pelayannya hingga akhirnya si pelayan tidak punya pilihan lain selain membeli kopi dari Cafe Moonlight.
Anatasya yang terpesona saat melihat bangunan villa itu sesaat setelah dia turun dari mobil. “Wow! Indah sekali disini!” ujar Anastasya sambil menghela napas. Kenneth yang berada dibelakangnya mendengar ucapan Anastasya.
Dia melihat ekspresi kekaguman diwajah gadis itu, Kenneth yang tanpa sadar berkata, “Jika kamu mau, aku bisa meminta temanku untuk mengijinkanmu tinggal disini selama beberapa hari.”
“Hah? Ken….apa aku tidak salah dengar? Apakah tunjangan untuk karyawanmu begitu baik ya?” ujar Anastasya menoleh dan menatap pria itu dengan heran. Untuk villa semewah itu sewanya untuk pemotretan saja sudah sangat mahal, lalu apakah dia benar-benar bisa tinggal disana beberapa hari? Berapa banyak uang yang harus dikeluarkan Kenneth untuk membayar sewanya?
Kenneth tersadar dengan ucapannya, saat dia akan berbicara dia melihat Brandon yang keluar dari dalam villa. Brandon hanya melihat Anastasya dari belakang jadi tidak terlalu memperhatikannya.
“Sejak kapan CEO yang agung ini sangat bersimpati dengan karyawannya? Apakah kamu masih ingin meminjam villaku agar karyawanmu bisa tinggal disini?” ujar Brandon.
Kenneth menatap tajam Brandon, “Ya pada dasarnya sngat jarang ada orang yang bisa meminjam villamu. Dengan membiarkan seseorang tinggal disana untuk beberapa hari juga bukan ide yang buruk, siapa tahu villamu akan lebih populer sekaligus bisa menghilangkan bau jamur didalamnya. Bukankah selama ini villa ini hanya dijaga oleh beberapa pelayan saja? Bisa kubayangkan bau jamur dari setiap kamar didalam villa ini.” sindir Kenneth.
Anastasya mengerutkan alisnya, dia sudah tahu jika Kenneth pasti tidak memiliki niat baik dengan memperbolehkannya tinggal disana ternyata dia berniat agar Anastasya bisa menghilangkan bau jamurnya! Memikirkan itu membuat Anastasya marah, dia lantas menoleh dengan marah dan berkata pada pemilik villa, “Tidak. Kami hanya bercanda saja….”
Saat dia mengucapkan kalimat itu dia baru menyadari siapa pria pemilik villa itu. Ternyata pria itu adalah orang yang pernah diselamatkannya dulu saat berada diluar negeri. Saat Anastasya masih tercengang, alis hitam dan tebal milik Brandon terangkat saat melihat wajah cantik Anastasya. Wajah garangnya pun langsung melunak dan sudut bibirnya terangkat. Dia berjalan menghampiri Anastasya, Ana? Mengapa….”
Anastasya dengan cepat memotong ucapan Brandon, “Hai namaku Anastasya. Panggil saja Tasya.”
Dia tidak ingin orang lain tahu bahwa dia pernah tinggal diluar negeri dan dipanggil dengan nama “Ana”. Brandon melirik Anastasya dengan heran dan saat dia melihat gadis itu mengerutkan alisnya sambil menggelengkan kepala akhirnya dia pun mengerti.
“Hai juga. Perkenalkan namaku Brandon! Maaf ya aku sempat mengira kalau kamu adalah temanku, wajahmu sangat mirip dengannya. Temanku tinggal diluar negeri dan aku hampir saja salah orang. Maafkan aku ya.” ujar Brandon sambil memegang tangan Anastasya dan keduanya berjabat tangan layaknya orang yang baru pertama kali bertemu.
“Ah….It’s oke, no problem. Hari ini sepenuhnya milik kalian. Ngomong-ngomong jika kamu suka tempat ini, kamu bisa tinggal disini selama beberapa hari. Aku akan meminta pelayan untuk menyiapkan kamar untukmu. Jangan sungkan, kalau kamu mau kamu boleh tinggal divilla ini berapa lamapun.”
“Oh terimakasih. Aku rasa tidak perlu karena aku punya rumah.”
Kenneth memperhatikan kedua orang itu yang berbicara dengan akrab, wajahnya yang tampan langsung berkerut dengan kesal, dia tidak suka jika ada pria lain yang berbicara dengan Anastasya, hatinya tidak rela atau mungkin ada kecemburuan yang mengobrak abrik hatinya.
Kenneth melangkah mendekati mereka dengan tatapan dingin dan tiba-tiba berdiri diantara mereka. “Seorang teman dari luar negeri? Apa aku tidak salah dengar? Bukankah kamu tidak pernah punya teman wanita?”
“Dia adalah rekan bisnisku yang wajahnya sangat mirip dengan Anastasya.” Brandon melirik Kenneth dengan heran. Dia bisa melihat sikap aneh dari sahabatnya itu yang terlihat agak posesif.
“Lupakan saja! Caramu mendekati wnaita sudah ketinggalan jaman, lain kali pakai cara yang lebih gentlemen dan tak perlu terlalu banyak berpikir. Supaya kamu tahu didalam kontrak kerjasama tertulis Brand Ambassador kami tidak diperbolehkan untuk pacaran dan memiliki hubungan romantis dengan pria lain atau hubungan sejenisnya.” ujar Kenneth dengan tegas.
“Apakah ada tertulis seperti itu dalam kontrak?” tanya Anastasya heran.
“Aku belum menulisnya tapi akan segera ditambahkan. Citramu sebagai Brand Ambassador adalah citra dari Cafe Moonlight jadi kamu tidak boleh terlibat dengan hubungan percintaan yang tidak jelas agar tidak mempengaruhi nama baik perusahaan.” balas Kenneth yang sudah berpikir untuk menjauhkan Anastasya dengan pria lain.
“Kamu…..itu tidak benar! Itu namanya pemaksaan kontrak! Mana ada isi kontrak yang seperti itu!”
“Tadi kamu bilang sudah mengganggu waktu orang lain. Kalau begitu lebih baik kamu pergi syuting, jangan membuang-buang waktu lagi.” kata Kenneth dengan nada kesal.
Anastasya memandangnya dengan ekspresi bingung dan sulit untuk dijelaskan, mengapa pria ini tiba-tiba ingin menambahkan isi kontrak dan tiba-tiba marah tanpa alasan?
Dia sama sekali tidak mengerti dengan sikap Kenneth lalu Anastasya membalikkan wajah dan sikapnya langsung berubah seperti membalikkan buku. “Baiklah aku syuting dulu.” ujarnya melangkah pergi. Dia menarik jaket dari bahunya dan melemparkannya kepada Kenneth. Anastasya pergi bersama asistennya yang tampak gemetar ketakutan melihat kemarahan Anastasya.
Kenneth menggenggam erat jaket ditangannya lalu berjalan menyusul Anastasya. Tapi Brandon malah menghadang jalannya. “Apa ada hal lain yang ingin kamu sampaikan?” tanya Kenneth. Ekspresi cemas dan tidak sabar jelas tergambar dari tatapan mata Kenneth. Apa yang sebenarnya dia khawatirkan?
“Kenneth, apakah ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan padaku? Mungkin sesuatu hal yang tidak kamu beritahukan pada kami?” tanya Brandon.
“Bukankah seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu? Kamu yang selalu berpikir bahwa wanitu adalah makhluk yang paling merepotkan? Tapi kenapa tiba-tiba hari ini kamu berusaha ingin mendekati seorang wanita, ha?” tanya Kenneth sambil memandang Brandon dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan sinis.