THE PROMISE

THE PROMISE
BAB 65. TAK SESUAI RENCANA



Emma melirik kearah Keenan dan menyadari jika tunangannya itu menatapnya bahkan dia langsung memalingkan wajah dan ekspresinya tampak biasa saja. Keenan sama sekali tidak tertarik untuk menyapa Emma. Wanita itupun merasa sakit hati dengan sikap dingin tunangannya dan memaksakan tersenyum. “Ehm….ada hal yang ingin kubicarakan denganmu dan juga Tuan Muda Archilles. Aku tida tahu jika Keenan juga ada disini.”


Keenan mengeryitkan alisnya tak senang dengan ucapan Emma. “Kenapa kalau aku ada disini? Apa aku tidak boleh berada disini atau kau merasa tida nyaman melihatku disini? Ada urusan apa kau ingin menemui teman-temanku?” ujar Keenan marah. Dia sangat membenci Emma, setelah melihat kekejaman tunangannya dirumah keluarga Hilman dan dia tak menyangka jika wanita itu ingin melakukan sesuatu pada teman-temannya tanpa sepengetahuannya. Benar-benar wanita sialan dan tak tahu malu! Sepertinya wanita ini perlu diberi pelajaran!


Emma yang melihat ekspresi kemarahan diwajah Keenan hanya mengira jika pria itu salah paham dan cemburu, dia merasa sangat senang didalam hatinya mengira jika Keenan masih menyukainya. Meskipun sebenarnya Emma sangat menyukai dan mencintai Keenan dan selalu ingin bertemu dengannya tapi tidak saat sekarang ini. Seharusnya Keenan tidak ada disana sehingga semua rencananya bisa berjalan lancar.


Karena Keenan ada disana membuat Emma tidak dapat bertindak sebagai tunangan Keenan lagi disini karena semua teman-teman Keenan pasti suda tahu mengenai pembatalan pertunangan mereka. Lau Emma mulai mempertimbangkan kata-kata yang ingin diucapkannya. “Tidak seperti itu Keenan. Bukannya aku merasa tidak nyaman dengan keberadaanmu disini tapi karena hal yang ingin kubicarakan berhubungan dengan Tuan Muda Bagaskara dan Tuan Muda Archilles.”


Kenneth hanya duduk di sofa menatap Emma tanpa ekspresi dan enggan bicara jadi Brandon memilih untuk memulai pembicaraan dengan Emma. “Hal apa yang ingin kau katakan. Tidak perlu banyak basa basi langsung katakan saja.” Brandon adalah orang yang paling benci basa basi dan membenci orang yang bicara terlau berputar-putar tanpa tujuan jelas dan hanya membuang-buang waktu. Emma langsung menyadari jika keempat pria itu bukanlah ornag-orang yang mudah diajak bicara makanya dia tidak mau langsung bicara ke inti permasalahan.


“Ehem…..jadi begini ceritanya, hari ini aku ke mall milik keluarga bagaskara dan tak sengaja aku melihat asisten utama Kenneth bersama seorang wanita. Mereka terlihat sangat akrab dan mesra, wanita itu sempat membuat onar di mall jadi aku mencoba menghampiri mereka untuk menghentikannya. Tapi aku malah diusir keluar dari mall itu…..”


Kenneth masih dengan ekspresi dingin seakan tak tertarik dengan ha yang diucapkan Emma. “Maksudmu, pacarnya Rian?”


Meskipun Kenneth tahu jika asistennya Rian berbeda dengan pria normal lainnya tapi mendengar jika Rian memiliki pacar membuatnya sedikit tenang. Kini ibunya Rian tidak akan khawatir lagi mengenai keturunan keluarga Malik dan ibunya Rian tidak akan mengganggunya lagi dengan memohon-mohon agar membujuk Rian untuk menikah.


“Iya, wanita itu pacarnya Rian. Aku yakin jika Kenneth pasti mengenal wanita itu. Namanya Anastasya, putri dari keluarga Hilman yang baru kembali dari pedesaan.”


“Apa?”


“Apa?”


“Apa?”


Kenneth, Brandon dan Diego berseru sambil berdiri secara bersamaan dengan raut wajah terkejut. Keenan yang belum mengetahui siapa Anastasya hanya menatap ketiga temannya dengan bingung. Emma terkejut dengan reaksi ketiga pria itu dan tatapan matanya tampak kebingungan.  Kenapa ketiga pria ini bereaksi seperti itu? Apa jangan-jangan mereka juga menyukai Anastasya si udik desa itu? Atau apakah mereka marah karena berita ini?


Begitu Emma selesai bicara, dia melihat keempat pria itu menatapnya dengan tajam bak pedang samurai yang siap membelah tubuhnya tapi Emma tetap bersikap baik dan menatap Kenneth dan Brandon yang menatapnya dengan tatapan dingin. Kedua pria dengan latar belakang keluarga yang berbeda memiliki aura yang luar biasa membuat Emma merasa lemas tak berdaya. Emma berharap temannya bisa membantunya tapi dia melihat temannya yang pengecut itu malah berlutut dilantai.


Emma yang terkejut segera menopang tangannya di kursi yang berada dibelakangnya dan berusaha berdiri tegak agar tidak jatuh. Kini dia merasa ketakutan dan bingung namun segera dia mengumpulkan keberanian untuk bicara. “Tuan….Tuan Muda Archilles, apa ada yang salah? Aku bicara jujur dan semua yang kukatakan itu benar. Kalian harus percaya padaku.”


Kenneth memicingkan matanya dan tatapannya semakin tajam. Ekspresi wajahnya sulit untuk diartikan. Brandon yang berada disebelah Kenneth menyadari situasi itu lalu berkata, “Tadi kau bilang kalau Anastasya merebut pakaianmu, apa itu benar?”


“Iya benar memang seperti itu kejadiannya.” jawab Emma cepat.


“Oke, kalau begitu biarkan saja dan berikan saja pakaian itu padanya. Semua barang yang ada di mall milikku adalah miliknya jika dia menyukainya.” ucap Brandon santai sambil menyunggingkan senyum.


“A---apa?” Emma kaget dengan mata terbelalak tak percaya. Apa-apaan ini? Dia tidak salah dengar barusan kan? Dia benar-benar tidak menyangka apa yang barusan terjadi.


“Apa yang barusan anda katakan?” tanyanya untuk menyakinkan diri.


Brandon berdiri tegak sambil memasukkan kedua tangan ke saku celananya dan dengan enteng berkata, “Aku bilang kalau semua barang yang ada di mall milikku adalah milik Anastasya jika dia menyukainya. Anastasya bisa mengambil apapun yang dia mau tanpa membayarnya. Siapapun tidak boleh merebut barang yang disukainya. Apa kau sengaja menjelek-jelekkannya barusan?”


Meskipun Brandon berwajah tampan tapi ekspresi wajahnya tampak garang dan aura membunuh dari tubuhnya begitu kuat sehingga membuat Emma gemetar ketakutan. ‘Apa dia telah salah bertindak dengan mendatangi mereka? Pikirannya benar-benar kacau sesaat setelah dia menyadari jika semua tidak berjalan sesuai rencananya. Bagaimana bisa ini terjadi? Dia datang kesini untuk mengadu dan memberikan pelajaran pada Anastasya tapi kenapa malah sepertinya Brandon ingin menghajarnya?


Pada saat bersamaan teman emma merasa menyesal telah mengikutinya. Awalnya dia pikir dengan menemani Emma kesana akan memberi manfaat padanya. Jika tahu akan seperti ini, lebih baik dia pergi ke acara minum the saja! Ucapannya yang sempat terlontar akan menghabiskan satu malam bersama Kenneth dan bayangan lainnya yang sudah dia rangkai dibenaknya kini tak berani lagi dia pikirkan setelah bertemu langsung dengan Kenneth. Hanya menatap pria itu saja sudah membuatnya takut.


Teman Emma itu terlihat sudah menangis sedangkan Emma dengan kemampuan akting yang lebih baik hanya gemetar sebentar lalu kembali normal dan tetap menaruh harapannya pada Kenneth untuk membalas Anastasya. Rasa percaya dirinya yang terlalu tinggi dan tingkat halu yang tinggi membuatnya lupa pada fakta.


“Tuan Muda archilles…..” Emma bersuara lembut berusaha bersikap sebagai wanita elegan. “Aku sama sekali tidak ada maksud menjelek-jelekkan Anastasya. Semua yang kukatakan adalah kebenaran, asisten utamamu lah yang telah merusak reputasimu duluar sana. Bagaimana pun dia adalah asisten utamamu dan kau harus mengatur asistenmu itu agar tidak berbuat semena-mena.”