THE PROMISE

THE PROMISE
BAB 72. AKU INGIN BALAS DENDAM



Anastasya terdiam tertegun mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Kenneth. Dia pun tidak menjawab. “Statusmu jelas-jelas sebagai nona besar keluarga Hilman tapi saat pertama kali bertemu denganmu malah dipulau terpencil. Jujur saja, aku pernah mencoba memeriksa identitasmu dan anak buahku hanya mendapati informasi bahwa kau adalah seorang gadis kecil yang tumbuh didesa. Tapi aku tidak percaya itu! Aku hanya ingin tahu siapa kau sebenarnya. Untuk apa kau kembali ke rumah keluarga Hilman?”


Anastasya menurunkan matanya dan menyembunyikan semua emosi dan perasaannya dibalik bulu mata indah itu. Kenneth mencoba menebak apa yang sedang dipikirkan oleh gadis itu. Saat dia mengira kalau Anastasya tidak akan menjawabnya, tiba-tiba gadis itu mengangkat wajahnya dan menjawab singkt, “Balas dendam.”


“Apa?” Kenneth terkejut dengan jawaban itu, dia mengira kalau dia salah dengar.


“Ya, aku kembali untuk membalaskan dendam ibuku.” ujar Anastasya.


“Balas dendam?” tanya Kenneth. “Oh...maksudmu nyonya Hilman, bukan….bukan….seharusnya disebut nona besar keluarga Sanari. Kabar yang kudengar mengatakan jika ibumu bunuh diri karena depresi. Apa menurutmu itu bukan bunuh diri?”


“Sudah pasti bukan bunuh diri!” jawab Anastasya tegas. “Aku tidak lagi mengingat hal-hal yang terjadi saat aku kecil tapi beberapa kenangan yang terpisah-pisah masih ada dalam ingatanku. Ada banyak alasan yang menunjukkan kalau ibuku tidak mati bunuh diri denga cara sederhana itu. Sebagai contoh ya, setelah ibuku meninggal rumah keluarga itu langsung diganti menjadi rumah keluarga Hilman. Aku sama sekali tidak menemukan satu jejakpun bahwa ibuku pernah tinggal disana. Aku yakin kalau ibuku pasti mati karena dibunuh seseorang.”


Kenneth menatapnya dalam, “Siapa yang kau curigai? Ayahmu?”


Anastasya menganggukkan kepala lalu menggelengkan kepala. “Aku tidak yakin apakah dia atau tanteku yang membunuh ibuku. Atau kemungkinan mereka berdua, keduanya memiliki peran masing-masing dalam kematian ibuku. Jika nanti semuanya sudah jelas maka aku akan membuat perhitungan dengan si pembunuh itu!”


Kenneth menggangguk, “Pantas saja kau selalu mengatakan kalau kau tidak punya waktu. Jika seandainya pembunuh itu adalah ayahmu, apa yang akan kau lakukan?”


“Aku akan melakukan apa yang seharusnya dilakukan!” jawab Anastasya dingin. Dia tidak akan pernah menunjukkan belas kasihan padanya!


“Aku mengerti sekarang! Dan aku masih pada pendirianku, kapanpun kau membutuhkan bantuan segera hubungi aku. Kartu namanya sudah tidak ada lagi tapi kau punya nomor ponselku. Jadi kau bisa hubungi aku kapan saja.”


“Terimakasih, Ken.” ucap Anastasya mengerjapkan matanya.


Setelah mendengar ucapan Kenneth membuat hati gadis itu merasa tenang. Dia merasakan telah mendapat dukungan.


“Oh iya, apakah kau mau aku membatalkan kerjasama antara Hilman Corp dengan perusahaanku?”


Anastasya tertegun dan bertanya dengan curiga, “Bukankah kau bilang sudah membatalkannya?”


“Terserah padamu. Apapun yang kau mau akan kulakukan.” Kenneth menatap lekat-lekat gadis itu seperti ada kehangatan lembut dimatanya.


“Kalau begitu batalkan saja semua. Natasha sudah terlalu banyak melakukan kesalahan dan menghalangiku. Aku berharap dengan kejadian ini dia bisa diam untuk sementara waktu dan tidak menggangguku.”


“Aku mengerti. Jika kau masih ingin meneruskan kerjasamanya hubungi saja aku.” ucap Kenneth.


“Jika kau mengucapkan terimakasih lagi, telingaku akan kapalan.” ujar Kenneth pura-pura tidak sabar dan menarik telinganya. Anastasya tersenyum geli mendengar ucapan dan tingkah pria itu.


Tujuan Anastasya kembali ketanah air hanya ingin mencari kebenaran atas kematian ibunya dan membalaskan dendam ibunya sekaligus mengembalikan kejayaan keluarga Sanari saja. Sebelumnya dia tidak ingin terlalu bersosialisasi dengan orang lain agar tidak terlalu merepotkan dan melibatkan orang-orang yang mengenalnya. Tapi sekarang dia merasa bahwa memiliki teman sebaik Kenneth bukanlah hal buruk. Justru akan membawa banyak keuntungan baginya, tak terasa mereka sudah hampir sampai di villa keluarga Hilman.


Anastasya turun dari mobil, sengaja dia meminta Kenneth berhenti agak jauh dari rumahnya agar tidak menimbulkan kecurigaan. Kenneth menatapnya dalam-dalam dan bibir tipisnya menyunggingkan senyum. “Aku tidak tahu apakah kau masih ingat saranku sebelumnya. Tapi sebaiknya jika kau ada waktu cobalah melakukan tes DNA. Kalau kau merasa tidak nyaman melakukannya dirumah sakit, kau bisa mencariku. Ingat ya aku akan selalu membantumu.”


Anastasya mengangguk lalu menutup pintu mobil dan menatap kepergian Kenneth. Natasha yang sudah tiba dirumah beberapa menit lebih awal langsung pergi mencari Clarisa ibunya untuk mengadukan semua yang terjadi padanya hari ini dan menangis. “Mama!!!! Aku sudah tidak tahan lagi, aku mau Anastasya segera keluar dari rumah ini! Aku ingin dia lenyap selamanya. Aku tidak mau melihat wajah udiknya lagi disini!” teriak Natasha berjalan cepat kedalam rumah dengan penuh emosi.


Clarissa sedang mengurusi dana rahasinya yang berada diluar negeri dan menatap anaknya dengan kesal dan tak sabar. “Aku tahu kau tidak menyukainya, aku juga tidak menyukai anak itu tapi kau harus sabar. Tunggu waktu yang tepat! Tunggu sampai dia membuat kesalahan baru kita singkirkan dia dari rumah ini. Apa kau lupa kalau papamu menyukainya sekarang? Jangan gegabah!”


Menurut pendapat Clarissa,  meskipun Anastasya dibesarkan didesa atau dimana saja tapi dia hanyalah seorang gadis berusia dua puluhan.


Biasanya  gadis muda paling rentan membuat kesalahan apalagi kalau berhubungan dengan emosional. Terlebih lagi dia sudah mencari orang yang tepat untuk membuat Anastasya membuat kesalahan besar tapi Natasha yang sifatnya tidak sabaran tampak sangat cemas sehingga membuatnya menjadi berisik dan menjengkelkan dimata Clarissa, kadang dia merasa menyesal memiliki anak seperti Natasha. Terkadang Clarissa suka membayangkan andaikan saja Natasha bisa mewarisi setengah dari otak dan kepintarannya Anastasya maka dia tidak akan merasa lelah seperti sekarang ini.


Natasha bertambah cemas dan agak kesal saat dia melihat Clarissa seperti mengacuhkannya. “Mama! Kita harus bergerak cepat, tidak bisa menunggu lebih lama lagi! Jika terlalu lama, takutnya aku yang akan diusir dari rumah ini!”


Clarissa pun menghentikan aktifitasnya mengetik dikomputer lalu mengangkat kepalanya. “Tenangkan dirimu, asalkan kau pergi syuting film dengan baik dan tidak menyinggung Anastasya tanpa sepengetahuanku maka tidak akan ada masalah besar yang terjadi.”


Natasha menggigit bibirnya dengan wajah pucat pasi. Dia tidak tahu harus bagaimana memberitahukan pada ibunya mengenai apa yang terjadi dilokasi syuting hari ini. Clarissa yang merasa aneh melihat sikap anaknya yang tiba-tiba diam itu pun mengangkat matanya dan menatap Natasha dengan curiga. Dia baru menyadari jika tidak seharusnya Natasha berada dirumah jam segini. Seharusnya dia ada dilokasi syuting dengan para kru film Tapi kenapa dia malah ada disini?


Clarissa pun menutup laptopnya dan menatap putrinya dengan bingung. “Mengapa kau sudah pulang jam segini? Apa syuting hari ini sudah selesai lebih awal?”


Natasha tersedak dan menjadi gugup saat menjawab pertanyaan ibunya. “Sesuatu terjadi dilokasi syuting…..aku…..mereka bilang padaku…..”


Ekspresi wajah Clarissa pun berubah jadi serius, dia mengenal putrinya dan memahami putri yang dia lahirkan itu, sesuatu pasti telah terjadi!


“Bicara yang jelas! Katakan apa yang telah terjadi?”


Natasha yang ketakutan pun menatap ibunya dengan mata merah. “Anastasya merebut posisi pemeran utamaku. Sekarang aku tidak bisa kembali syuting lagi dan harus membayar denda sebesar dua belas milyar. Mama harus membantuku!”


Mata Clarissa terbelalak mendengar ucapan putrinya. “Apa katamu? Dia merebut posisimu dan kau harus membayar ganti rugi dua belas milyar?”