THE PROMISE

THE PROMISE
BAB 89. HASIL TES DNA



Anika semakin cemas, “Ana ini, kenapa kau bicara seperti itu? Apa maksudmu tidak berencana untuk menikah? Aku tidak memintamu untuk langsung menikah setidaknya bertemanlah dulu. Kau ini kalau tidak sibuk bekerja ya hanya bergaul dan keluar bersama ketiga anak muda itu saja sepanjang hari. Mereka memang sering gonta ganti pacar tapi bagaimana denganmu?”


“Aku akan mengurusnya sendiri.” jawab Kenneth.


“Ckck! Dua tahun yang lalu juga aku membiarkanmu mengurusnya sendiri tapi apa hasilnya? Aku sudah mengatur begitu banyak pesta perjamuan untukmu tapi tidak ada satupun yang kau sukai, bagaimana aku tidak cemas? Kau juga tahu sendiri bahwa situasi bagian internal perusahaan kita sedang kacau. Satu-satunya cara untuk menstabilkan situasi adalah dengan cara kau menikah lebih awal dan melahirkan cucu untukku.”


“Aku tidak akan membiarkan bagian internal perusahaan kita memiliki kesempatan untuk mengacaukan situasi, mama tidak perlu khawatir, ok?”


“Ada….ada beberapa hal yang tidak dapat mama beritahukan padamu tetapi tentang hal penting kau harus ingat bahwa kau harus menikah secepatnya.”


Kenneth merasa kesal dan tanpa sadar matanya tertuju pada Anastasya.


“Kau jangan diam saja. Jika kau tidak mau mencarinya sendiri maka aku akan….” Sebelum Anika sempat menyelesaikan kalimatnya terdengar suara yang mendesak dari ujung lain, “Nyonya Archilles, sekarang giliranmu. Apakah kau sudah selesai ke toiletnya?”


“Sebentar lagi.” Anika mengecilkan suaranya dan berkata, “Kau dengar tidak? Cepat kau pulang sekarang.”


“Maaf Ma, aku tidak bisa pulang hari ini.” jawab Kenneth.


“Apa? Kenapa tidak bisa pulang? Aku sudah menunda-nunda mereka sampai sekarang, apapun yang terjadi pokoknya kau harus pulang.”


“Aku sudah bilang kalau aku tidak bisa pulang. Aku sedang berada diluar bersama calon menantumu.”


“Apa?” Anika meninggikan suaranya lagi karena terkejut.


Karena malas meladeni mamanya, Kenneth memutuskan panggilan telepon. Lalu dia berjalan kearah Anastasya dan tatapannya menggelap dengan ekspresi yang tidak jelas.


Karena Anastasya sudah memintanya untuk berjanji menikahinya dan keluarganya juga sudah mendesaknya untuk menikah maka dia pun mantap dengan keputusannya memilih Anastasya. Lagipula siapa yang dia nikahi bukankah sama saja tetap menikah juga. Jadi mengapa dia tidak memilih calon istri yang tampak menyenangkan hatinya?


Waktu berlalu sedetik demi sedetik dan tak terasa matahari sudah terbit di ufuk timur dan tersenyum cerah. Anastasya dibangunkan oleh suara ketukan dipintu. Begitu dia membuka matanya, dia melihat wajah Kenneth yang terbaring diatas telapak tangannya. Dia tampak tidur dengan nyenyak dismaping tempat tidurnya.  Kenneth menggerakkan kepalanya karena mendengar suara ketukan dipintu.


Anastasya menggunakan kesempatan itu untuk menarik tangannya buru-buru, “Ada seseorang yang mengetuk pintu.”


“Uhmm…..”


Kenneth baru saja bangun dan suaranya serak khas bangun tidur yang terdengar seksi dan mempesona. Lalu dengan santai dia berdiri dan berjalan kepintu untuk membukanya.


“Kenneth….”Diego langsung masuk kedalam ruangan sambil memegang dua lembar laporan ditangannya.


“Ya.” jawab Diego mengangguk lalu menatap Anastasya dengan tatapan rumit. Dia berkata dengan suara rendah, “Maaf, aku memberanikan diri untuk bertanya, selain rambutmu itu apakah yang satu lagi adalah milik ayahmu, Danendra Hilman?”


Anastasya mengangguk, “He eh benar.”


Diego menunjukkan ekspresi tak enak hati dan berkata, “Hasil ini...aku tidak tahu bagaimana mengatakannya padamu. Kau lihat sajalah sendiri.”


Anastasya mengambil hasil laporan tes DNA dengan tatapan heran, lalu setelah membacanya dengan cermat, ekspresi wajahnya tertegun untuk beberapa saat.


Diatas laporan itu tertulis bahwa genotipenya tidak memenuhi syarat genetik paternitas untuk tes DNAnya. Dengan kata lain Danendra bukanlah ayah kandungnya. “Ba—bagaimana mungkin?” warna kulir wajah Anastasya yang telah kembali putih karena istirahat yang cukup kini berubah menjadi pucat dalam sekejap mata. Dia masih tidak percaya dengan hasil tes DNA itu. Alasan dia melakukan tes DNA karena Kenneth sudah dua kali memberitahukannya untuk melakukannya. Selain itu dia juga telah merasa kecewa terhadap Danendra sehingga memiliki sedikit rasa benci. Jadi dia memutuskan melakukan tes DNA tersebut.


Tetapi jauh didalam lubuk hatinya dia tidak pernah benar-benar merasa bahwa Danendra bukanlah ayah kandungnya. Jadi ketika dia melihat hasil yang tercantum dilaporan tes DNA itu dia tampak sangat terkejut sejenak. Tadinya dia mengira dia adalah satu-satunya orang yang masih ada hubungan darah dengannya adalah Danendra tetapi dia sama sekali tidak menyangka bahwa Danendra pun tidak memiliki hubungan darah dengannya.


Jadi siapa dia sebenarnya?


Jika bukan karena dia masih memiliki beberapa kenangan masa kecilnya mungkin dia berpikir bahwa dia bukanlah Anastasya lagi. Kenneth yang berada disampingnya juga melihat tulisan yang tercantum dilaporan itu. Ketika dia melihat hasil tes itu dia juga merasa tak masuk akal dan sangat diluar dugaannya. Bagaimana mungkin seorang pria brengsek seperti Danendra yang sama sekali tak ada sisi baiknya itu bisa mempunyai seorang putri seperti Anastasya yang begitu sempurna.


Tentu saja, dia tidak merasa Anastasya sempurna tetapi ini hanyalah penilaiannya secara objektif. Apalagi ketika Adelia masih hidup waktu dulu sempatterdengar ada beberapa rumor buruk dikalangan masyarakat. Kenneth menatap Anastasya dan berkata, “Jangan terlalu sedih, ini juga bukan hal yang buruk, iyakan?”


Anastasya menggelengkan kepalanya dengan wajah pucat, “Aku tidak sedih….aku hanya….aku hanya tidak tahu harus bagaimana. Jika aku bukan putri kandungnya lalu apakah mamaku adalah ibu kandungku?” Begitu Anastasya mengucapkan pertanyaan itu.


Diego berkata, “Nona Tasya, apakah kau ingin melihat laporan tes DNA yang satunya lagi?”


“Yang satu lagi?” tanya Anastasya heran menatap Diego.


Diego menyerahkan laporna tes DNA lainnya padanya. Anastasya membaca laporan tes lalu mendongak. Dia melihat ada nama mamanya dan namany tertulis disana. “Laporan tes DNA antara aku dan mamaku?”


“Ya. Sebenarnya mamamu adalah klien VIP dirumah sakit kami jadi kami masih menyimpan sampel darahnya klien VIP untuk berjaga-jaga jika sampai ada keadaan darurat. Aku juga terkejut ketika melihat laporan tes DNA antara kau dan Danendra. Jadi aku meminta staff ku untuk membuat satu lagi tes DNA antara kau dan mamamu.”


Jika ibunya juga bukan ibu kandungnya maka dia sudah benar-benar tidak tahu untuk apa dia pulang ke negara ini dan apa arti keberadaannya lagi.  Untuk sejenak dia bahkan tidak berani melihat hasil tes DNA yang ada ditangannya. Setelah beberapa detik kemudian Anastasya menarik napas dalam-dalam untuk mengumpulkan keberaniannya melihat hasil tes itu.


Dan bunyi tulisan itu :”Genotipe Anastasya memenuhi kriteria genetik maternitas sebagai garis keturunan dari ibu biologis Adelia Sanari. Setelah dihitung, probabilitasnya mencapai 99.9991%.”