
Apakah CEO dari Archilles group memiliki begitu banyak waktu luang?’ bisik hati Anastasya. Kenneth baru saja akan turun menjemput Anastasya tetapi ketika Anastasya sudah sampai, dia berjalan mundur selangkah dan melirik keasisten tersebut. Asisten muda itu memahami maksudnya, dengan cepat dia meninggalkan mereka. Anastasya melihat bayangan asistennya yang berlari.
“Kenapa kamu yang jadi penanggung jawab utamanya? Memangnya kamu tida perlu melakukan hal lain diperusaaan?” tanya Anastasya dengan kebingungan.
Dengan santai Kenneth berkata, “Aku hanya bertanggung jawab atas syuting ini saja. Tidak memakan banyak waktu. Aku juga dapat menangani masalah perusahaanku dari sini. Sebaliknya kau sendiri jangan mengecewakan aku karena proyek ini sangat penting baiku.”
Awalnya Anastasya mengira kalau Kenneth sengaja menjadi penanggung jawab syuting ini demi dia. Tetapi ketika dia mendengar ucapan Kenneth, dia melengkungkan ujung bibirnya.
‘Ah, aku tidak boleh banyak berpikir. Mana mungkin dia melakukan ini untukku.’ gumam hatinya. Untung saja tahu kalau Kenneth tidak peduli padanya, kalau tidak mungkin Anastasya mengira kalau Kenneth melakukan semua ini untuknya.
Anastasya melengkungkan bibirnya dan berkata dengan acuh, “Tenang saja. Aku tidak akan mengecewakanmu. Ayo jalan. Kita akan mulai syutingnya sebentar lagi.”
Dia sudah mengambil cuti pagi tadi jadi dia harus menyelesaikan pemotretan pagi ini di sore hari. Tetapi karena wanita yang suka mencari masalah itu tidak ada lagi disana seharusnya pemotretan nanti dia tidak akan stress lagi.
Keduanya berjalan beriringan menuju kantor CEO. Ketika Anastasya melewati sebuah kantor dia mendengar suara anak-anak yang sedang bermain. Dengan penarasan dia bertanya kepada staf yang lewat, “Mengapa didalam ada anak-anak?”
“Ini adalah pelayanan khusus dari perusahaan kami. Karyawan yang memiliki anak-anak dirumah dapat membawa anak mereka keruangan ini.” jawab staff itu.
“Didalam sana ada staff yang ditugaskan khusus untuk merawat anak-anak itu sehingga karyawan bisa fokus dengan pekerjaan mereka.” tambahnya lagi.
Anastasya mengangguk dan setelah staf itu pergi dia bertanya pada Kenneth dengan tatapan tak percaya, “Aku tidak menyangka kalau papa-ku….ternyata cukup memperhatikan karyawannya.”
“Memperhatikan katamu?” Kenneth tertawa seolah-olah dia sedang mendengarkan sebuah lelucon.
“Kenapa kamu tertawa? Apa yang lucu dari perkataanku barusan? Memangnya aku salah bicara ya? Ada beberapa karyawan yang setelah memiliki anak, mereka kesulitan mendapatkan pekerjaan. Sedangkan dia mau mempekerjakan mereka dan membuatkan ruangan khusus anak-anak. Kalau bukan mempedulikan karyawan lalu apa?”
Kenneth menggelengkan kepalanya dengan ringan dan berkata, “Kamu tidak terlalu memahami masalah ini secara lengkap. Makanya kamu bisa bicara seperti itu. Memang benar kalau Danendra memperkerjakan mereka tetapi mereka hanya dibayar gaju paruh waktu saja. Tapi mereka mengerjakan pekerjaan full time. Itu tidak manusiawi! Ini namanya penindasan terselubung. Apakah kamu juga mengira bahwa lingkungan kamar anak-anak itu sangat baik?”
Mendengar ucapan pria itu, mau tak mau Anastasya mendorong ptintu kamar anak tersebut. Begitu pintu terbuka, langsung tercium bau kotoran dan urin dari arah dalam. Beberapa anak tampak sedang bermain didalam tetapi ada lebih banyak anak yang menangis.
Sedangkan yang disebut dengan orang yang ditugaskan khusus disana sedang duduk dipojok sibuk bermain dengan ponselnya.
Anastasya terdiam sejenak. Benar sekali apa yang dikatakan Kenneth, ini sama sekali tidak manusiawi. Ini adalah penindasan terselubung. Anastasya tampak terkejut sekaligus merasa hal ini benar-benar kejam.
Hal seperti ini hanya bisa dilakukan oleh seorang Danendra. Dia dapat memperlakukan karyawannya seperti ini menunjukkan kalau dia adalah orang yang sangat egois dan berdarah dingin.
Tetapi faktanya Danendra memang telah mengambil alih Sanari group yang telah dikembangkan oleh ibunya. Dia harus mengambil kembali perusahaan itu secepatnya!
“Ayo jalan,” ujar Anastasya sambil berjalan menuju ke kantor CEO dengan wajah muram. Kenneth tidak tahu mengapa tiba-tiba ekspresi wajah gadis itu menjadi buruk. Tetapi dia sudah bisa menduga itu pasti ada hubungannya dengan Danendra.
Dia tak bisa menahan diri lagi untuk bertanya, “Jika kamu memohon padaku, aku bisa membantumu membuat perhitungan pada Danendra ketika suasana hatiku sedang baik.”
”Tidak perlu! Masalah seperti ini bisa kuselesaikan sendiri.” jawab Anastasya. Dia tahu bahwa Kenneth bermaksud baik tetapi dia tidak mau bicara banyak lagi dan langsung mendorong pintu kantor CEO.
Kantor CEO berada di ujung koridor. Ruangannya besar dengan jendela yang terang dan tanaman hijau yang memperindah suasana ruangan.
Dibandingkan dengan kamar anak-anak yang kotor dan bau tadi, ini benar-benar seperti langit dan bumi. Saat asisten melihat Anastasya masuk, dia segera berlari menghampirinya dan berkata,
“Nona Tasya, semua peralatan syuting sudah siap. Kamu ikutlah denganku untuk mengganti pakaianmu. Pakaiannya sudah disiapkan untukmu.”
Anastasya hanya mengangguk dan mengikuti asisten itu untuk berganti pakaian dan merias wajahnya. Sang sutradara menoleh untuk melihat Anastasya dengan cemas berkata pada Kenneth,
“Tuan muda archilles, Nona Tasya memang cantik tetapi jika dia berperan sebagai CEO wanita….aku tidak tahu apakah dia memiliki aura itu.”
“Aura?” Kenneth mengeryitkan keningnya menatap sutradara itu.
Sang sutradara mengangguk dan berkata, “Ya….seperti….seperti aura mendominasi yang sering dikatakan di internet itu. Jika dilihat dari paras wajahnya dia tampak imut dan pendiam. Jadi rasanya dia tidak mungkin memiliki aura seperti itu. Jika dia tidak menunjukkannya maka akan mempengaruhi hasilnya nanti. Atau lebih baik kita cari saja seseorang yang menggantikannya untuk memerankan CEO arogan ini.”
“Tidak perlu! Dia bisa mengatasinya, kau tunggu dan lihat saja nanti.” ujar Kenneth dengan tersenyum tipis menatap sutradara itu. Sutradara film pun menggerakkan bibirnya ingin mengatakan sesuatu tetapi akhirnya dia hanya menelan kembali kata-katanya. Tetapi dia masih merasa tidak puas hati namun dia hanya bisa bergumam didalam hatinya saja.
‘Aku jarang sekali melihat ada CEO wanita yang begitu cantik dan memiliki aura arogan seorang CEO. Gadis cantik dan masih muda seperti Anastasya ini bagaimana mungkin bisa memiliki aura seperti itu? Bukankah ini akan menyulitkan saja?’ bisik hati sutradara. Setelah menunggu beberapa menit, pintu kantor CEO didorong terbuka oleh asisten muda.
Asisten muda itu tersenyum dan berkata, “Teman-teman semua, mari kita sambut CEO kita Nona Sanari!”
Sang sutradara mengeluarkan gumaman ringan diujung bibirnya. Anastasya sangat cantik jadi seharusnya dia lebih cocok memerankan seorang sekreatris yang cantil ‘Jadi lupakan saja mengenai CEO wanita, dia tidak mungkin cocok dengan peran itu.’ gumam hatinya lagi.
Tetapi dia mendengar fotograper yang ada disekitarnya terkesiap dan berkata, “Ini terlalu cantik sekali.” sang sutradara pun tidak memasukkan kata-kata mereka kedalam hati.
Tim syuting sudah mengetahui bahwa Anastasya itu cantik tetapi masalahnya adalah peran yang dimainkannya adalah seorang CEO wanita.