THE PROMISE

THE PROMISE
BAB 35. KURANG KERJAAN



Keenan menarik Kenneth untuk duduk kembali, dia merasa senang karena berpikir jika Kenneth peduli pada perasaannya yang sedang bahagia. “Siapa gadis istimewa yang kau temui hari ini?” tanya Kenneth. Tangan Keenan memegang botol wine dan menungkan ke gelas milik Kenneth.


Wajah Keenan berseri-seri mengingat wajah gadis yang ditemuinya tadi.”Gadis itu sangat istimewa, wajahnya cantik dan sikapnya tenang dan elegan.”


Lalu Keenan menceritakan semua kejadian dirumah keluarga Hilman, Diego yang tadinya tak menaruh minat mendengar cerita Keenan pun langsung mengangkat kepalanya. “Apakah kau sedang menceritakan adegan film?


“Aku menceritakan yang sebenarnya! Kalau aku bohong aku akan disambar petir!” ujar Keenan sambil mengangkat tiga jarinya.


“Ha ha ha ha….jika seorang wanita tidak takut pada anjing galak maka kau harus berhati-hati padanya. Bisa saja suatu hari nanti kau akan ditindasnya.” ujar Brandon terkekeh.


“Kalian tidak tahu, dia sangat cantik dan memiliki karakter yang baik. Wah…..wajahnya bodynya, pokoknya semuanya tentang gadis itu ‘sempurna’. Ya dia gadis tercantik dan terseksi yang pernah kulihat.” Keenan tersenyum sendiri.


“Siapa namanya?” tanya Kenneth.


“Namanya…..”Keenan baru teringat kalau dia lupa menanyakan nama gadis itu. Melihat Keenan yang tak segera menjawab membuat Diego usil lalu menggodanya, “Tuan Muda Pradipa sang penakluk wanita, jangan bilang kau lupa menanyakan namanya. Mana mungkin kau tidak tahu nama cinta sejatimu, iyakan?”


“Ehem….bukan begitu. Aku belum bertanya namanya. Gadis itu hanya melirikku saja dan acuh tak acuh. Tunanganku yang sombong itu juga ada disana dan terus menerus membuatku sulit untuk bertanya.” kata Keenang canggung.


Kenneth yang mendengar penjelasan Keenan pun langsung membayangkan wajah cantik Anastasya. Ternyata gadis itu bersikap acuh tak acuh pada semua orang. Itu membuat suasana hati Kenneth membaik. Dia tak ingin lagi pergi tergesa-gesa meninggalkan teman-temannya. Dia pun menyesap minumannya dengan tenang.


“Ternyata ada juga gadis yang tidak tertarik dengan tampangmu itu, ya….ha ha ha ha.” kata Brandon dengan mata berbinar. “Kau bahkan bertubuh seksi dan menawan. Aku jadi penasaran dengan gadis itu dan ingin bertemu dengannya.”


Mulut Kenneth langsung berkedut mendengar perkataan Brandon. Sialan mereka semua! Bagaimana bisa mereka ingin bertemu Anastasya. Nama gadis itu saja mereka tidak tahu, bagaimana reaksi mereka jika tahu kalau gadis itu punya hubungan denganku?


Gadis itu biasa saja dengan latar belakang yang biasa dan tidak ada yang bisa dibanggakan. Kenneth masih mempertimbangkan untuk menikahinya karena dia belum terlalu tertarik pada Anastasya.


Ketika Kenneth masih sibuk dengan pikirannya, Diego menepuk bahunya, “Bagaimana denganmu? Apakah kau tidak penasaran dengan sosok gadis itu? Bagaimana jika kita mengundangnya keluar untuk bertemu? Kita bisa mengundang untuk makan siang atau makan malam?”


“Tidak tertarik!” jawab Kenneth dengan ekspresi kosong. Keenan yang mengenal karakter Kenneth pun tidak terkejut dengan jawabannya. Lalu dia berkata, “CEO Archilles kita yang agung tidak tertarik dengan urusan wanita, dia hanya tertarik dengan pekerjaan saja. Sejak kapan dia tertarik pada wanita? Tapi….bukankah ibumu selalu memaksamu untuk segera menikah? Bahkan ibumu selalu mendesakmu untuk pergi kencan buta. Dia sudah rindu ingin menggendong cucu darimu. Apa kau benar-benar tidak terpikir untuk mengencani wanita?”


“Tidak!” jawab Kenneth singkat. “Semua wanita itu hanya merepotkan saja dan hanya pria kurang kerjaan saja yang tertarik pada wanita.” Kenneth tidak tertarik untuk berkencan, dia mengingat pernikahan orangtuanya yang buruk. Orangtuanya menikah karena perjodohan bisnis dan pernikahan itu menyakiti perasaan ayahnya. Jadi Kenneth menolak menikah karena dia takut akan bernasih seperti ayahnya.


“Aku bukan orang yang kurang kerjaan.” kata Keenan dengan ekspresi muram menghiasi wajahnya. “Pria ini selalu datang kesini untuk minum demi mencari wanita karena dia stress.” ujar Keenang lagi sambil menunjuk Diego.


“Tidak benar! Kau dan Diego berbeda. Diego datang kesini untuk mencari penyelamatnya. Kau jangan membawa-bawa namanya.” kata Brandon membantah.


“Cuihhh….mencari penyelamat? Mana ada orang percaya?” kata Keenan.


Diego hanya diam melihat seseorang mengambil gelas dari tangannya. Brandon menatap miris pada Diego lalu bertanya, “Sudah satu bulan tetapi kau belum juga menemukan gadis yang telah menyelamatkanmu diluar negeri.”


“Apakah penyelamatmu itu hantu wanita? Sudah sekian lama kau mencarinya tapi belum berhasil menemukan penyelamatmu!” kata Keenan.


Kenneth mengeryitkan dahi, dia sudah menyelidiki Anastasya selama seminggu tetapi tak menemukan apapun. Anastasya bukan hantu, dia seorang gadis canti nan elegan dan dia adalah manusia nyata.


“Jangan bercanda berlebihan.” kata Kenneth.


“Kami hanya bercanda saja, kenapa kau bersikap berlebihan?” ujar Keenan.


Kenneth malas meladeni Keenan, lalu dia menundukkan kepalanya dan menghela napas dalam-dalam. Sebenarnya, siapa Anastasya? Darimana dia berasal? Kenapa dia penuh rahasia yang sulit diungkapkan?


...***...


Didalam kamarnya Anastaya memeriksa email yang baru saja diterimanya dari anak buahnya. Akhirnya dia mendapatkan informasi mengenai aset atas nama Clarissa. Wanita itu punya aset diluar negeri, uangnya disimpan dalam rekening rahasia dan asetnya diluar negeri dikelola oleh orang yang sama. Total aset Clarissa mencapai tiga puluh triliun rupiah. Anastasya mengeryitkan matanya saat melihat layar komputer didepannya. Pasti Clarissa menyembunyikan asetnya dari Danendra.


 Atau jangan-jangan Clarissa diam-diam mencuri uang Danendra dan menyembunyikannya diluar negeri untuk kepentingan pribadinya? Lalu dia melihat lagi laporan aset atas nama Natasha. Tidak banyak hanya berjumlah beberapa milyar rupuah saja dan tidak ada aset atas nama Natasha.


Anastasya mengingat laporan finansial Danendra, pria itu tidak pandai mengelola keuangannya. Jadi bisa dipastikan jika sebagian uang keluarga Sanari sudah masuk ke kantong Clarissa. Menarik sekali! Saat Anastasya menatap komputernya dengan serius, pintu kamarnya diketuk berulang kali.


Anastasya mengacuhkan dan masih berselencar dikomputernya. Tapi orang yang berada didepan pintu itu sepertinya tidak sabar.


"Anastasya! Ini aku Natasha. Buka pintunya, aku membawakan sesuatu untukmu. Tolong buka pintunya." teriak Natasha sambil menggedor pintu.


Issshhhh....apalagi sih maunya orang ini? Kenapa dia selalu menggangguku? Lalu Anastasya mengunci layar laptopnya dan turun dari ranjang.Dengan malas dia berjalan kearah pintu lalu membuka pintu dengan sedikit celah saja.


"Ada apa?" tanya Anastasya.


"Ini aku bawakan buah untukumu. Papa yang memintaku untuk memberikannya padamu." kata Natasha sambil mencoba melihat kearah dalam kamar Anastasya.


Namun Anastasya langsung berdiri tegak menghalangi pandangan mata Natasha. "Apa yang kau sembunyikan didalam? Kenapa kau tidak mengajakku masuk?" ujar Natasha.


"Tidak ada apa-apa." jawab Anastasya.


"Ini ambillah. Papa memintamu untuk menemuinya diruang baca." Natasha menyodorkan piring berisi buah pada Anastasya, lalu dia menutup pintu kamarnya meninggalkan Natasha yang berdiri diluar dengan ekspresi terkejut.