THE PROMISE

THE PROMISE
BAB 96. PROVOKASI



Danendra benar-benar merasa bahwa Anastasya adalah putrinya yang sangat baik! Dia teringat dengan Adelia yang tidak baik. Dari hari pertama menikah hingga kematiannya, mereka hanya pernah berhubungan badan sekali saja dan tak disangka malah mendapatkan putri yang begitu baik dan patuh. Benar-benar kejutan yang sangat menyenangkan.


Seharusnya dia tidak mengurungkan niatnya untuk melapor kasus itu hanya demi menyelamatkan mukanya. Seharusnya dia menemukan mutiara berharga ini lebih awal!


Danenda mengusap rambut Anastaya dengan penuh kasih sayang dan berkata, “Ayo jalan. Papa akan mengantarmu ke perusahaan untuk syuting. Kau juga bisa sekalian melihat-lihat perusahaan kita dengan baik. Sejak kau pulang sampai sekarang kau belum melihatnya kan?”


Anastasya mengangguk dengan tatapan penuh kerinduan lalu dengan patuh dia mengikuti Danendra keluar dari rumah lalu masuk kedalam mobil. Dengan cepat mobil melaju hingga sampai didepan lobi gedung. Anastasya memandang gedung yang menjulang tinggi itu daan beberapa ingatan yang samar secara perlahan menjadi jelas.


(Tasya, mama akan pergi meeting. Kau kerjakan Pr-mu dengan baik didalam kantor. Jangan berlarian kesana kemari ya.)


Saat dia masih kecil, Adelia khawatir jika Anastasya sendirian dirumah sehingga dia selalu membawanya ke kantor. Ingatan itu terbawa sampai sekarang kedalam kenangannya bahwa mamanya pernah membawanya ke kantor ini. Yang dulunya bernama Sanari Group.


Anastasya masih ingat bahwa didalam kantor mamanya ada sebuah kompartemen rahasia dengan banyak barang didalamnya. Dia tidak tahu apakah kompartemen ini telah ditemukan oleh orang lain karena Sanari Group berubah nama menjadi Hilman Group. Jika tidak ditemukan mungkin Anastasya masih bisa menemukan beberapa petunjuk tentang ayah kandungnya ditempat itu.


Anastasya menatap gedung itu dengan terpesona. Saat Danendra merasa bahwa Anastasya tidak mengikutinya, dia berbalik dan berjalan kesampingnya lalu bertanya, “Tasya ada apa?”


Anastasya langsung tersadar kembali lalu tersenyum dan berkata, “Ini pertama kalinya aku datang kesini. Jadi aku ingin melihat lebih jelas lagi.”


“Sebenarnya ketika aku diculik oleh para penculik itu aku sempat demam jadi aku tidak ingat lagi dengan kenangan di masa lalu.” ujarnya menambahkan.


“Aku pernah mendengar tentang ini. Kenangan di masa kecil bukanlah masalah besar. Yang penting sekarang papa akan memperlakukanmu dengan lebih baik lagi.”


Tatapan Danendra tampah penuh kasih sayang tetapi Anastasya mendapati didalam tatapan itu masih ada ketamakan selain kasih sayang. Anastasya sangat jelas bahwa Danendra bukan mengasihi putrinya tetapi mengasihi tetapi mengasihinya untuk dijadikan sapi perah. Hatinya pun menjadi dingin dan tidak peduli tetapi senyum yang ditunjukkan diwajahnya tampak begitu manis.


“Ya. Aku tahu memang papa yang paling baik padaku.”


Danendra mengusap kepalanya lagi dan berkata, “The Moonlight Cafe kalian tidak dapat menemukan tempat syuting karena gedung kantor seperti ini selalu ada banyak orang yang bekerja didalamnya. Dan juga sulit untuk meminjam seluruh bangunan hanya untuk melakukan syuting. Setelah papa mendengar kabar itu aku langsung meliburkan karyawan dan menyewakan gedung kepada tim syutingmu. Semuanya demi kau agar kau bisa syuting dengan baik.”


“Terima kasih papa.” Anastasya berusaha sekuat tenaga untuk menahan perasaan jijiknya yang sangat dalam ketika Danendra menyentuhnya. Dia pura-pura bahagia dan mengikuti Danendra masuk.


Perabotan Hilman Group tampak asing sekaligus juga familiar dimata Anastasya. Ingatannya yang hanya sepotong-sepotong dan tidak bisa mengingat sesuatu yang lain selain kantor Adelia yang dulu.


Begitu sampai di lobi dia melihat asisten muda sudah menunggunya di meja resepsionis. “Nona Tasya kau sudah sampai! Aku baru saja hendak menelepon.


Anastasya mengangguk dan berkata, “Kebetulan sekali papaku mau pergi ke kantornya jadi kami datang lebih dari awal. Mana yang lainnya?”


“Baiklah. Kalau begitu, apakah aku akan melakukan syuting di kantor CEO?” tanya Anastasya.


“Iya.” asisten itu menjawab sambil tersenyum.


“Tuan Hilman sangat kooperatif. Dia telah meminta seseorang merapikan kantornya untuk kita. Seharusnya mereka sedang mempersiapkan alat syutingnya sekarang.”


Keduanya berjalan sambil mengobrol, dan saat mereka sudah tiba didepan lift tampak Danendra menekan tombol lift untuk mereka tapi dia tidak ikut masuk.


Anastasya bertanya dengan heran, “Papa bukannya kau bilang ingin menemaniku syuting? Kenapa tidak ikut masuk saja?”


Danendra terbatuk kecil dan berkata. “Tim syutingmu sudah sangat profesional jadi aku tidak perlu ikut campur lagi. Aku akan pergi mencari tantemu dan melihatnya. Masih ada beberapa hal yang belum dia pahami. Aku khawatir dia tidak bisa menyelesaikan sendirian. Telepon aku ketika kamu sudah selesai syuting. Aku akan mentraktir tim kalian untuk makan malam.”


“Baiklah kalau begitu kamu syuting saja dulu. Aku pergi ya.” ujar Danendra lalu buru-buru berbalik dan pergi.Sangat jelas terlihat kalau dia benar-benar tidak mempercayai siapapun meskipun itu adalah istrinya sendiri.


Tetapi hanya karena satu ucapan dari Anastasya sudah membuatnya ragu. Orang yang hatinya tidak teguh seperti ini sangat mudah ditaklukkan.


Tetapi disaat yang sama juga sangat sulit untuk ditaklukkan. Didepan orang seperti ini dia sama sekali tidak boleh menunjukkan petunjuk apapun karena kalau tidak, dia pasti akan dicurigai.


Anastasya terus tersenyum hingga dia tidak bisa melihat Danendra lagi, lalu dia pun kembali kelift dan membiarkan pintu lift tertutup perlahan. Asisten muda itu tidak memperhatikan ekspresi sama diwajah Anastasya.


Dia hanya bertanya, “Nona Tasya, apakah kamu masih ingat dengan SMS yang aku kirimkan padamu? Hari ini akan ada orang baru yang menjadi penanggung jawabnya. Apakah kamu mau tahu siapa dia?”


Anastasya sedang merahasiakan sesuatu dihatinya. Butuh beberapa detik untuk tersadar dari lamunannya dan bertanya, “Memangnya siapa orangnya?”


Menurutnya, tidak peduli siapapun orang itu selama dia tidak mengganggu proses syutingnya maka tidak akan jadi masalah. Asisten muda itu tersenyum dengn terkekeh pelan dan baru saja dia hendak bicara tapi pintu lift sudah terbuka karena mereka telah tiba dilantai atas. Tampak seorang pria betubuh tinggi dan gagah sedang berdiri didepan lift.


Pria yang ada didepan pintu lift itu memiliki sepasang mata hitam pekat dan tajam. Wajahnya tampan dengan hidung mancung. Bentuk rahangnya bagus dengan penampilan luar biasa.


Jika bukan Kenneth Archilles, lalu siapa lagi? Begitu Anastasya menengadahkan wajahnya, dia melihat Kenneth sedang berdiri didepan pintu lift dan Anastasya tertegun sejenak.


Dia mengingat apa yang barusan dikatakan asistennya dan dia menoleh kearah asistennya dengan tatapan heran. Asisten muda itu tersenyum dengan suara lirih berkata, “Nona Tasya…..Tuan Muda Archilles adalah penanggung jawab utama syuting ini!”


Anastasya tercengang, dia tidak pernah berpikir kalau penanggung jawab utama yang sebenarnya adalah Kenneth.