THE PROMISE

THE PROMISE
BAB 80. JATUH KE SOFA



Tenggorokannya tercekat dan jakunnya naik turun, dia seorang pria sejati dan tak bisa memisahkan perasaan dan jiwa dari tubuhnya. Jika dia tidak memiliki perasaan pada orang itu maka dia tidak akan menyentuh tubuh siapapun itu. Dan itu juga berlaku pada wanita yang sekarang berada didepannya.


Kenneth yang agak mabuk tiba-tiba pikirannya menjadi jelas, dia teringat tatapan penuh arti mata pria berperut buncit tadi sebelum dia pergi.


Saat wanita didepannya itu berlutut dilantai sambil bergerak-gerak, Kenneth yang tak tahu apa yang sedang dilakukan wanita itupun kini langsung mengerti duduk masalahnya. Detak jantungnya yang tadi berdetak cepat dalam sekejap kembali normal. Tatapan matanya berubah menjadi marah. Bajingan-bajingan itu!


Dulu dia pernah mengamuk karena mendapat ‘hadiah’ seorang wanita tapi dia tidak menyangka para bajingan itu masih berani melakukannya lagi. Mereka bahkan tidak menganggap serius perkataan Kenneth waktu itu. Tatapan mata Kenneth pada wanita itu langsung berubah menjadi tatapan yang menjijikkan. Saat suara ******* terdengar dari TV, Kenneth menoleh kearah layar TV yang sedang mempertontonkan si pria dan wanita yang sedang bercinta dengan liar.


Ternyata suara-suara itu berasal dari TV, pikirnya. Wajahnya berubah jadi gelap. Bajingan-bajingan tua menjijikkan itu tidak hanya memberinya hadiah wanita kotor diranjangnya tapi mereka juga berani menambahkan hal seperti itu. Benar-benar menjijikkan! Dia pun melangkahkan kakinya mendekati wanita itu. “Angkat kakimu dari…..” belum sempat dia menyelesaikan ucapannya, wanita itu menyadari kehadirannya dan menoleh dengan terkejut.


Saat Kenneth melihat wajah itu, dia menelam kembali kata-kata umpatannya. Wajahnya terkejut dan dia mengulurkan tangan kanannya untuk mencubit hidungnya. Alkohol adalah sesuatu yang sangat berbahaya dan ternyata ucapan itu benar. Dia benar-benar berhalusinasi dan menganggap wanita yang dikirim oleh para bajingan itu adalah Anastasya. Dia benar-benar sudah gila! Yang dia lihat dimana-mana hanya Anastasya.


“Cepat bangun!” dia memaksa menutup mata dan saat dia membuka matanya kembali, dia malah mendengar suara Anastasya.


“Ken, mengapa kau masuk begitu cepat?”


Ya ampun, kenapa aku berhalusinasi sejauh ini? Bahkan suaranya pun sama persis dengan Anastasya. Sepertinya dia memang mabuk berat, Kenneth mengulurkan tangannya hendak menepuk kepalanya dan berkata, “Aku tidak peduli siapa yang mengirimmu padaku, cepat pergi dari sini. Keluar!”


Napasnya terdengar berat, saat dia melihat wajah wanita itu persis seperti Anastasya, dia menyadari jika tubuhnya bereaksi dan sudah lepas kendali.


Kenneth tidak tahu kenapa tubuhnya bereaksi seperti itu dan bisa lepas kendali, tadi dia hanya ingin mengusir wanita itu. Dia memang memiliki gejala OCD dan gejalanya sangat serius. Itulah alasan kenapa dia tidak pernah berhubungan dengan wanita yang tidak dia sukai. Ini juga alasannya dia tidak pernah menyentuh wanita sejak dia dewasa. Dai tidak ingin membuat kesalahan yang membuat dirinya merasa jijik. “Keluar!” desak Kenneth dengan marah,


Anastasya melihat ekspresi wajah Kenneth yang marah, “Ken, tolong dengarkan aku dulu. Jangan salah paham, sebenarnya aku juga tidak ingin berada disini. Bisakah aku berakting bersamaku? Sebentar saja.”


Akting?


Pembuluh darah dikeningnya sudah muncul, suaranya sangat jelas jadi dia pun yakin kalau dia sedang tidak berhalusinasi. Meskipun dia agak mabuk tapi dia benar-benar tidak berhalusinasi. Apakah wanita itu benar-benar Anastasya?


Kenneth menoleh perlahan dan menatap wajah cantik wanita itu untuk menyakinkannya bahwa dia memang Anastasya. Tanpa sadar tangannya terulur dan mencubit pipi Anastasya. Terasa lembut dan nyaman. Kulit wanita ini sangat halus dan dia menyukainya.


“Apa yang kau lakukan?” Anastasya menepuk wajah Kenneth keras.


Bekas cubitan Kenneth tampak putih kebiruan lalu berubah menjadi merah. Akhirnya Kenneth pun sadar jika wanita itu adalah Anastasya.


Akhirnya Kenneth pun pulih dari linglungnya lalu melirik Anastasya dari kepala sampai kaki, jakunnya bergerak naik turun tanpa sadar. Anastasya yang menyadari tatapan penuh gairah dimata Kenneth pun langsung waspada. “Apa yang kau lihat? Kau mabuk ya?”


Biasanya Kenneth tidak menatapnya sama sekali bahkan saat dia berdandan untuk pemotretan pun pria itu selalu hanya memuji pakaiannya yang indah. Karena Anastasya merasa waspada pada Kenneth maka diapun melangkah mundur karena ketakutan. Akibatnya kakinya tersandung tepi sofa dan dia jatuh ke belakang. Tanpa sadar dia menjulurkan tangannya untuk meraih apa saja agar tidak terjatuh, tanpa sengaja dia malah menarik dasi Kenneth.


Kenneth pun jadi tertarik kearah Anastasya lalu keduanya jatuh diatas sofa dengan posisi Anastasya berada dibawah tubuh Kenneth. Bibir Kenneth menempel didahi Anastasya yang mulus. Tanpa sadar Anastasya berhenti bernapa sejenak, dia bahkan lupa untuk bereaksi karena semuanya terjadi begitu cepat.


Dia mempertahankan posisinya yang berada dibawah Kenneth. Bahkan kondisi Kenneth pun tidak lebih baik darinya, bibirnya yang menyentuh kening Anastasya itu merasakan kulit yang halus dan hangat, dia bisa mencium aroma tubuh Anastasya.


Aroma tubuhnya sangat berbeda dengan bau parfum. Aromanya seperti campuran bau susu dan bunga yang harum sehingga membuat Kenneth enggan pergi. Dia merasa sekujur tubuhnya kaku dan tidak bisa bergerak sama sekali. Tapi hatinya bergerak-gerak dan detak jantungnya kencang tak beraturan. Dorongan nafsu dan emosi seorang pria menghantamnya seperti orang gila, nafasnya berubah menjadi berat.


Anastasya yang sudah tak tahan dengan napas Kenneth pun pulih kesadarannya. Dia mendorong dada Kenneth dan tersipu malu, “Minggirlah….”


Mendengar suara itu Kenneth sadar dari kekacauan pikirnanya dan turun dari tubuh Anastasya. Dia merapikan pakaiannya dan menyembunyikan perasaannya didalam binar matanya. Lalu dia menatap Anastasya dengan tatapan jijik, “Kalau kau mau jatuh ya jatuh saja sendiri, kenapa kau malah menarikku juga? Kalau aku terjatuh dan cedera bagaimana kau akan menggantinya?”


Anastasya yang tadi merasa tidak enak hati dan tidak berani emnatap Kenneth, kini menatapnya marah sambil menggertakkan gigi  dia berkata, “Ya! Maafkan aku CEO Archilles!”


Dia kan tidak sengaja, kenapa dia malah bersikap galak padanya? Begitu galak dan kejam, pantas saja tidak ada wanita yang menyukainya. Dasar jomblo!


Dengan sikap arogan, kenneth mengangkat dagunya, “Baguslah kalau kau sadar dimana letak kesalahanmu. Lain kali jangan menarikku kalau kau jatuh.”


“Kau----” Anastasya sangat ingin mengutuknya, saking marahnya matanya melebar lalu dia membalikkan badan marah. Sudahlah, tak ada gunanya berdebat dengannya, Anastasya malas berdebat lagi. Dengan karakternya yang dewasa dan murah hati,dia tidak akan memasukkan ke hati kata-kata pria itu.


Kenneth yang melihat ekor putih pada pakaian Anastasya yang membelakanginya, mau tak mau emosi dan nafsu yang ditahannya sejak tadi bangkit kembali. “Sialan!” ujarnya mengalihkan tatapan mata.”Kenapa kau tadi berlutut dilantai?”


“Cari remote TV.” ujar Anastasya dengan wajah tersipu malu mengarahkan telunjuknya kearah bawah sofa. “Aku tidak bisa menjangkaunya, terlalu jauh kedalam.”


Bersamaan dengan ucapannya tiba-tiba suara di TV pun berhenti. Anastasya menoleh heran dan melihat Kenneth berdiri disamping TV sambil memegang kabel TV ditangannya.


Aduh! Kenapa tadi dia tidak kepikiran untuk mencabut kabel TV itu? Anastasya yang merasa frustasi pun menghelanapas dan bangkit dari lantai. Kenneth melepaskan kabel Tv ditangannya dan melepaskan jasnya lalu melemparkannya pada Anastasya.


Dengan cepat Anastasya menangkap jas itu lalu memakainya untuk menutupi tubuhnya. Ukuran jas itu besar sehingga membuatnya seperti anak kecil yang sedang memakai pakaian orang dewasa.